Lantunan ayat suci alquran menggema di salah satu sudut ruangan sebuah pondok pesantren (ponpes), Jumat (15/4/2022). Ponpes itu adalah Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat, yang berada di kawasan Desa Gedong, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Puluhan santri yang tak lagi berusia muda tampak khusyuk menyimak dan membaca mushaf di hadapan para ustaz. Salah satu dari santri itu adalah Sri Ariati, seorang ibu asal Wonokromo, Surabaya yang kini memasuki usia 80 tahun. Kepada rasikafm.com, ibu Ari (nama sapaan) bercerita ia mulai “nyantri” di Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat sejak Desember 2021. “Pertama kali dapat informasi pondok ini dari sebuah radio di Surabaya. Sebelumnya juga sering ikut majelis taklim, tapi belum ketemu yang sreg,” ujarnya. Saat ditanya alasan kenapa memilih untuk mondok di Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat, ibu tiga orang anak itu mengaku mendapatkan apa yang selama ini ia cari, yakni ketenangan hati. “Kebetulan saya masih berkerabat dengan keluarga besar Ponpes Tremas Pacitan. Pernah ngaji di sana, tapi ustaz-ustaznya keponakan saya semua, belum lagi pengurusnya. Jadinya malah seperti di rumah sendiri, banyak ngobrolnya kurang belajarnya,” ungkapnya sambil sesekali tertawa kecil. Secara finansial, nenek delapan cucu ini mengaku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ia sendiri merupakan pensiunan dari tenaga farmasi di Rumah Sakit Angkatan Laut Surabaya. Sedangkan tiga orang anaknya masing-masing bekerja di bidang ekspor impor, dosen dan aparatur sipil negara (ASN) di Pemkot Surabaya. Sehingga ketika memutuskan untuk mondok, sempat menjadi pertanyaan internal keluarganya. “Awalnya tentu nggak diijinin sama anak-anak. Suruh di rumah, kebutuhan juga dipenuhi. Tapi saya malah bingung di rumah nggak ngapa-ngapain. Di sini malah ada kesibukan dari subuh sampai malam terutama ngaji,” katanya. Di akhir perbincangan ia berharap tetap bisa produktif dan bermanfaat meski telah memasuki usia senja. Terlebih dalam rangka mengumpulkan bekal akhirat, ia ingin bisa istiqomah dalam niat yang lurus. “Saya sudah tidak ingin mencari apa-apa lagi, istilahnya sudah selesai dengan urusan dunia. Saya ingin fokus mencari sangu untuk akhirat besok dan meraih cita-cita husnul khotimah,” harapnya. Pengasuh Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat Ahmad Winarno menuturkan, yang membedakan antara ponpes ini dengan lembaga kepengurusan lanjut usia (lansia) yang lain adalah di bidang pelayanannya. Di ponpes ini pelayanan fisik, rohani dan sosial diterapkan secara holistik, komprehensif dan integratif. “Ponpes ini berbeda dengan panti jompo. Kita berdayakan tiga ‘ajimat’ pelayanan hidup melalui olah rogo, jiwo dan roso secara menyeluruh,” jelasnya. Dijelaskan Winarno, pelayanan olah rogo dilakukan dengan pembinaan fisik yang bertujuan mewujudkan insan segar mulia atau sehat dan bugar di masa usia lanjut. Kemudian olah jiwo adalah bagaimana para lansia ini bisa terobati hatinya sehingga bisa semakin bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Tuhan untuk menjemput hidayah menuju akhir hayat yang husnul khotimah. Terakhir adalah olah roso yakni dengan mendampingi mereka untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki, sehingga tetap bisa berkarya dan produktif di masa tuanya. “Selama ini lansia identik dengan belas kasihan. Di sini tidak demikian, kami siapkan betul agar mereka bisa mandiri dan produktif. Sebab bagaimanapun juga mereka datang ke sini juga tidak ‘kosongan’, artinya sudah punya keterampilan. Intinya, di sini bukan hanya membentuk pribadi muslim tapi juga akan mencetak duta-duta bahagia untuk kemudian ditularkan kepada yang lain,” pungkasnya. Sumber: Berburu Bekal Akhirat di Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat – Radio Silaturahim AM 720Khz
Jelang Hari Lansia, Pesantren Lansia Raden Rahmat dan Dompet Dhuafa Lakukan Lunching Jaringan Ini
Kegiatan Peluncuran Jaringan Volunteer Lansia Nasional ini dilaksanakan pada hari Selasa, 29 Maret 2022 bertempat di Tandur Space, Semarang berjalan dengan baik. Dalam acara ini turut mengundang perwakilan dari Dinas Sosial Kota Semarang beliau ini Heksa Sari Ratna Dewi. Wadah atau aliansi ini dibuat untuk menjadi tempat berbagi kepedulian, berbagi tentang praktik baik yang sudah dilakukan masing-masing pihak atau bahkan berkolaborasi untuk memberikan dampak yang lebih besar. Kegiatan launching tersebut diikuti 49 peserta yang terdiri dari lansia, pembimbing, hingga para volunteer yang turut serta meramaikan kegiatan tersebut. Tidak lupa DD Jateng juga menggandeng beberapa awak media yaitu Walisongo TV, Lingkar Jateng, RRI, Sinar Jateng, Suara Merdeka, TVKU, Antara, dan Tribun Jateng yang turut meliput dan mendokumentasikan kegiatan. “Saat ini Pondok Pesantren Kasepuhan Raden rahmat mengajak para lansia menjadi gerakan preventif-produktif, bukan gerakan belas kasihan, sehingga lansia itu menjadi berdaya.” Pungkas Ustadz Winarno, S.Sos.I selaku pimpinan yayasan pituthur luhur. “Dompet Dhuafa ingin menginisiasi, gerakan lansia berdaya, sehingga dengan launching Gerakan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia di hari ini, tahun kedepan. Harapannya lansia di seluruh Indonesia sama bahagianya dengan lansia yang ada di pesantren kasepuhan Raden rahmat, sehingga yang menikmati gerakan ini adalah para Simbah (Lansia), tetapi yang menggerakkan serta mengembangkannya adalah para cucu, sehingga terwujudnya connecting baik antar kedua generasi yang menciptakan kesejahteraan di sekitar kita” Tutur Bambang Suherman, Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategi peduli Lansia & Ketua Forum Zakat Nasional. Kegiatan diakhiri dengan Pelatihan Hidroponik untuk Lansia. Kemal, Perwakilan Dinas Pertanian Kota Semarang membagikan pengetahuan Hidroponik, mulai dari media tanam, macam sayur dan buah, pupuk, hingga cara penanaman menggunakan metode Hidroponik. Terakhir, diharapkan dari kegiatan launching ini kedepannya akan menjadi sebuah gerakan global yang mendunia, sehingga lansia bukan dipandang sebelah mata, tapi lansia menjadi bagian yang tetap bermanfaat bagi umat. (Rosalinda Nurhidayah).*** Sumber : Smol Id
Dompet Dhuafa Ingin Lansia Lebih Berdaya dengan Menghadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia
Dompet Dhuafa Bersama DD Volunteer dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Hadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, memberikan pelatihan pertanian hydroponic di Kota Semarang, Selasa (29/03/2022). Usia lanjut usia (lansia) menjadi perhatian bersama untuk dapat diberdayakan ditengah masyarakat. Dengan dibekali ilmu, mereka dapat memulai usaha yang mudah dan praktis sesuai dengan kategori usia mereka. Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Bambang Suherman, kepada pers usai acara MoU Dompet Dhuafa bersama Pesantren Lansia Raden Rahmat mengatakan jelang ramadan tahun ini akan menjadi kunci dalam meningkatkan peran lansia untuk berkolaboraksi bersama menciptakan pemberdayaan melalui kerelawanan. Dompet Dhuafa mengajak para lansia untuk bergabung melalui wadah Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia. Menurutnya, acara yang digagas bersama Dompet Dhuafa, DD Volunteer, Dinas Sosial Jawa Tengah serta Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat berusaha tidak hanya memberdayakan lansia sebagai objek penerima manfaat, tetapi juga mendorong mereka untuk tetap berdaya dan bermanfaat bagi orang lain maupun sesama. “Kita meluncurkan jaringan nasional volunteer Lansia Indonesia, menggabungkan seluruh peggiat dengan tema lansia. Sehingga berada dalam satu jaringan bersama agar saling berbagai pengetahuan.” “Hal ini diwadahi dengan membuka kesempatan bagi para manula untuk menjadi relawan dan turut aktif dalam gerakan kebaikan di sekitar kita,” kata Bambang. Ia menyebut populasi lansia di Indonesia sangat besar. Apalagi ditambah dengan pra lansia maka nilainya hampir 50 persen populasi milenial. Namun isu lansia lebih sedikit daripada isu milenial. “Isu lansia kita ekspansi gagasannya, tidak sekedar orang tuanya lemah tidak berdaya. Namun isu lansianya lebih bagaimana menciptakan kebahagiaan dan memberdayakan.” “Tentu konsepnya tidak sama dengan usia milenial. Sehingga dalam prespektif tersebut kita gandeng pesantren lansia Raden Rahmat yang dikenal sampai luar negeri atau pesantren lansia lain yang dengan satu jaringan bisa saling berbagi informasi dibantu peran pemerintah,” jelas Bambang. Adapun Direktur Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat ini sendiri Ustadz Solikhin menegaskan tempat yang dia kelola bukanlah panti jompo bagi lansia. Karena dalam hal pengelolaan ada tiga tagline yang digelorakan, yakni olah rogo, olah roso dan olah jiwo “Olah rogo bagaimana raga dijaga supaya tidak menurun tetap sehat, olah jiwo yakni dimasa tuanya mendapatkan ketenangan dengan mengajak lansia mendekatkan diri pada sang Pencipta.” “Selanjutnya olah roso, walaupun lansia kita menganut preventif produktif. Sehingga lansia tidak menjadi beban.” “Caranya dengan mengajari mereka lebih produktif seperti membuat jahe instan, gula jahe, dan krupuk. Kita namakan ini Tiga Ranah, sama dengan Pondok Pesantren lain tapi ini lansia,” jelas Ustaz Solikhin. Sementara Pekerja Sosial Ahli Muda Rehabilitasi Sosial Anak dan Lansia Dinsos Jateng, Heksa Sari Ratna Dewi mengapresiasi upaya Dompet Dhuafa bersama pesantren lansia, yang diharapkan bermuara pada kesejahteraan bagi lansia. “Dengan networking ini kita akan sangat terbantu. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan banyak pihak memiliki pandangan yang sama untuk lebih memuliakan dan memebrdayakan para lansia.” “Apalagi dengan updating data yang dimiliki akan sangat membantu pemerintah lebih fokus pada pemberian bantuan kepada lansia itu sendiri,” kata Heksa. Saat ini jumlah lansia di Jawa Tengah, lanjut Hexa, dari data Dinsos Jateng 2021, ada sekitar 91 ribu orang tersebar di Jateng. Jumlah ini tertinggi se Indonesia. Pada peluncuran Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, para Lansia dibekali pelatihan hidroponik sebagai upaya pemberdayaan lansia dan peluang bisnis lain bersama Dinas Pertanian. * Sumber : Harian Merapi
Pesantren Lansia Ikut Pelatihan Hidroponik
SEMARANG – Usia lanjut usia (lansia) menjadi perhatian bersama untuk dapat diberdayakan ditengah masyarakat. Dengan dibekali ilmu, mereka dapat memulai usaha yang mudah dan praktis sesuai dengan kategori usia mereka. Seperti yang dilaksanakan Dompet Dhuafa Bersama DD Volunteer Dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Hadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, memberikan pelatihan pertanian hydroponic yang dilaksanakan di Kota Semarang, Selasa (29/03/2022). Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Bambang Suherman, kepada pers usai acara MoU Dompet Dhuafa bersama Pesantren Lansia Raden Rahmat mengatakan jelang ramadan tahun ini akan menjadi kunci dalam meningkatkan peran lansia untuk berkolaboraksi bersama menciptakan pemberdayaan melalui kerelawanan. Dompet Dhuafa mengajak para lansia untuk bergabung melalui wadah Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia. Menurutnya, acara yang digagas bersama Dompet Dhuafa, DD Volunteer, Dinas Sosial Jawa Tengah serta Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat berusaha tidak hanya memberdayakan lansia sebagai objek penerima manfaat, tetapi juga mendorong mereka untuk tetap berdaya dan bermanfaat bagi orang lain maupun sesama. “Kita meluncurkan jaringan nasional volunteer Lansia Indonesia, menggabungkan seluruh peggiat dengan tema lansia. Sehingga berada dalam satu jaringan bersama agar saling berbagai pengetahuan. Hal ini diwadahi dengan membuka kesempatan bagi para manula untuk menjadi relawan dan turut aktif dalam gerakan kebaikan di sekitar kita,” kata Bambang. Ia menyebut populasi lansia di Indonesia sangat besar. Apalagi ditambah dengan pra lansia maka nilainya hampir 50 persen populasi milenial. Namun isu lansia lebih sedikit daripada isu milenial. “Isu lansia kita ekspansi gagasannya, tidak sekedar orang tuanya lemah tidak berdaya. Namun isu lansianya lebih bagaimana menciptakan kebahagiaan dan memberdayakan. Tentu konsepnya tidak sama dengan usia milenial. Sehingga dalam prespektif tersebut kita gandeng pesantren lansia Raden Rahmat yang dikenal sampai luar negeri atau pesantren lansia lain yang dengan satu jaringan bisa saling berbagi informasi dibantu peran pemerintah,” jelas Bambang. Adapun Direktur Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat ini sendiri Ustadz Solikhin menegaskan tempat yang dia kelola bukanlah panti jompo bagi lansia. Karena dalam hal pengelolaan ada tiga tagline yang digelorakan, yakni olah rogo, olah roso dan olah jiwo “Olah rogo bagaimana raga dijaga supaya tidak menurun tetap sehat, olah jiwo yakni dimasa tuanya mendapatkan ketenangan dengan mengajak lansia mendekatkan diri pada sang Pencipta. Selanjutnya olah roso, walaupun lansia kita menganut preventif produktif. Sehingga lansia tidak menjadi beban. Caranya dengan mengajari mereka lebih produktif seperti membuat jahe instan, gula jahe, dan krupuk. Kita namakan ini Tiga Ranah, sama dengan Pondok Pesantren lain tapi ini lansia,” jelas Ustaz Solikhin. Sementara Pekerja Sosial Ahli Muda Rehabilitasi Sosial Anak dan Lansia Dinsos Jateng, Heksa Sari Ratna Dewi mengapresiasi upaya Dompet Dhuafa bersama pesantren lansia, yang diharapkan bermuara pada kesejahteraan bagi lansia. “Dengan networking ini kita akan sangat terbantu. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan banyak pihak memiliki pandangan yang sama untuk lebih memuliakan dan memebrdayakan para lansia. Apalagi dengan updating data yang dimiliki akan sangat membantu pemerintah lebih fokus pada pemberian bantuan kepada lansia itu sendiri,” kata Heksa. Saat ini jumlah lansia di Jawa Tengah, lanjut Hexa, dari data Dinsos Jateng 2021, ada sekitar 91 ribu orang tersebar di Jateng. Jumlah ini tertinggi se Indonesia. Pada peluncuran Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, para Lansia dibekali pelatihan hidroponik sebagai upaya pemberdayaan lansia dan peluang bisnis lain bersama Dinas Pertanian. (sgt) Sumber : Jateng Pos
Dompet Dhuafa Bersama Pesantren Kasepuhan Luncurkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia
Dompet Dhuafa bersama DD Volunteer dan Pesantren lansia meluncurkan Jaringan Nasional Volunteer lansia Indonesia, di Tandur Space, Jl Menteri Supeno, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (29/3/2022). Kegiatan tersebut diharapkan menjadi wadah pemberdayaan lanjut usia (lansia) di tengah masyarakat, nantinya para lansia itu dibekali ilmu, sehingga mereka dapat memulai usaha yang mudah dan praktis sesuai dengan kategori usia mereka. Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Bambang Suherman, usai acara penandatanganan MoU Dompet Dhuafa bersama Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat menyampaikan menjelang ramadan tahun ini akan menjadi kunci dalam meningkatkan peran lansia untuk berkolaboraksi bersama menciptakan pemberdayaan melalui kerelawanan. Dompet Dhuafa juga mengajak para lansia untuk bergabung melalui wadah Jaringan Nasional Volunteer lansia Indonesia. Acara yang digagas bersama Dompet Dhuafa, DD Volunteer, Dinas Sosial Jawa Tengah serta Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat tersebut, kata Bambang Suherman berusaha tidak hanya memberdayakan lansia sebagai objek penerima manfaat, tetapi juga mendorong mereka untuk tetap berdaya dan bermanfaat bagi orang lain maupun sesama. “Kita meluncurkan jaringan nasional volunteer lansia Indonesia, menggabungkan seluruh peggiat dengan tema lansia. Sehingga berada dalam satu jaringan bersama agar saling berbagai pengetahuan. Hal ini diwadahi dengan membuka kesempatan bagi para manula untuk menjadi relawan dan turut aktif dalam gerakan kebaikan di sekitar kita,” jelasnya. Populasi lansia di Indonesia, sebut Bambang Suherman sangat besar. Apalagi ditambah dengan pra lansia maka nilainya hampir 50 persen populasi milenial. Meski begitu ternyata isu lansia lebih sedikit daripada milenial. “Isu lansia kita ekspansi gagasannya, tidak sekedar orang tuanya lemah tidak berdaya. Namun isu lansianya lebih bagaimana menciptakan kebahagiaan dan memberdayakan. Tentu konsepnya tidak sama dengan usia milenial. Sehingga dalam prespektif tersebut kita gandeng pesantren lansia Raden Rahmat yang dikenal sampai luar negeri atau pesantren lansia lain yang dengan satu jaringan bisa saling berbagi informasi dibantu peran pemerintah,” jelas Bambang. Sedangkan menurut Direktur Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Muhammad Solikhin atau akrab disapa Ustaz Solikhin tempat yang dia kelola bukanlah panti jompo bagi lansia. Sebab dalam mengelola ponpesnya dia menerapkan tiga tagline yakni olah rogo, olah roso dan olah jiwo “Olah rogo bagaimana raga dijaga supaya tidak menurun tetap sehat, olah jiwo yakni dimasa tuanya mendapatkan ketenangan dengan mengajak lansia mendekatkan diri pada sang Pencipta. Selanjutnya olah roso, walaupun lansia kita menganut preventif produktif. Sehingga lansia tidak menjadi beban. Caranya dengan mengajari mereka lebih produktif seperti membuat jahe instan, gula jahe, dan krupuk. Kita namakan ini Tiga Ranah, sama dengan Pondok Pesantren lain tapi ini untuk lansia,” jelas Ustaz Solikhin. Upaya Dompet Dhuafa bersama pesantren lansia tersebut mendapatkan apresiasi dari Pekerja Sosial Ahli Muda Rehabilitasi Sosial Anak dan lansia Dinsos Jateng, Heksa Sari Ratna Dewi. Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan harapannya agar kegiatan tersebut dapat bermuara untuk kesejahteraan para lansia yang mengikutinya. “Dengan networking ini kita akan sangat terbantu. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan banyak pihak memiliki pandangan yang sama untuk lebih memuliakan dan memebrdayakan para lansia. Apalagi dengan updating data yang dimiliki akan sangat membantu pemerintah lebih fokus pada pemberian bantuan kepada lansia itu sendiri,” ucap Hexa. Hexa juga menyampaikan jumlah lansia di Jawa Tengah, menurut data Dinsos Jateng hingga tahun 2021, ada sekitar 91 ribu orang. Angka tersebut merupakan tertinggi se Indonesia. Usai penandatanganan Mou kegiatan dilanjutkan dengan memberikan pelatihan pertanian hidroponik. Sumber: (kuasakata.com)
Hadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, Dompet Dhuafa Ingin Lansia Lebih Berdaya
Semarang – Usia lanjut usia (lansia) menjadi perhatian bersama untuk dapat diberdayakan ditengah masyarakat. Dengan dibekali ilmu, mereka dapat memulai usaha yang mudah dan praktis sesuai dengan kategori usia mereka. Seperti yang dilaksanakan Dompet Dhuafa Bersama DD Volunteer Dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Hadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, memberikan pelatihan pertanian hydroponic yang dilaksanakan di Kota Semarang, Selasa (29/03/2022). Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Bambang Suherman, kepada pers usai acara MoU Dompet Dhuafa bersama Pesantren Lansia Raden Rahmat mengatakan jelang ramadan tahun ini akan menjadi kunci dalam meningkatkan peran lansia untuk berkolaboraksi bersama menciptakan pemberdayaan melalui kerelawanan. Dompet Dhuafa mengajak para lansia untuk bergabung melalui wadah Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia. Menurutnya, acara yang digagas bersama Dompet Dhuafa, DD Volunteer, Dinas Sosial Jawa Tengah serta Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat berusaha tidak hanya memberdayakan lansia sebagai objek penerima manfaat, tetapi juga mendorong mereka untuk tetap berdaya dan bermanfaat bagi orang lain maupun sesama. Semarang – Usia lanjut usia (lansia) menjadi perhatian bersama untuk dapat diberdayakan ditengah masyarakat. Dengan dibekali ilmu, mereka dapat memulai usaha yang mudah dan praktis sesuai dengan kategori usia mereka. Seperti yang dilaksanakan Dompet Dhuafa Bersama DD Volunteer Dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Hadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, memberikan pelatihan pertanian hydroponic yang dilaksanakan di Kota Semarang, Selasa (29/03/2022). Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Bambang Suherman, kepada pers usai acara MoU Dompet Dhuafa bersama Pesantren Lansia Raden Rahmat mengatakan jelang ramadan tahun ini akan menjadi kunci dalam meningkatkan peran lansia untuk berkolaboraksi bersama menciptakan pemberdayaan melalui kerelawanan. Dompet Dhuafa mengajak para lansia untuk bergabung melalui wadah Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia. Menurutnya, acara yang digagas bersama Dompet Dhuafa, DD Volunteer, Dinas Sosial Jawa Tengah serta Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat berusaha tidak hanya memberdayakan lansia sebagai objek penerima manfaat, tetapi juga mendorong mereka untuk tetap berdaya dan bermanfaat bagi orang lain maupun sesama. Sumber : (industry.co.id)
Dompet Dhuafa Hadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia
Usia lanjut usia (lansia) menjadi perhatian bersama untuk dapat diberdayakan ditengah masyarakat. Dengan dibekali ilmu, mereka dapat memulai usaha yang mudah dan praktis sesuai dengan kategori usia mereka. Seperti yang dilaksanakan Dompet Dhuafa Bersama DD Volunteer Dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Hadirkan Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, memberikan pelatihan pertanian hydroponik yang dilaksanakan di Kota Semarang, Selasa (29/03/2022). Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Bambang Suherman, kepada pers usai acara MoU Dompet Dhuafa bersama Pesantren Lansia Raden Rahmat mengatakan jelang ramadan tahun ini akan menjadi kunci dalam meningkatkan peran lansia untuk berkolaboraksi bersama menciptakan pemberdayaan melalui kerelawanan. Dompet Dhuafa mengajak para lansia untuk bergabung melalui wadah Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia. Menurutnya, acara yang digagas bersama Dompet Dhuafa, DD Volunteer, Dinas Sosial Jawa Tengah serta Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat berusaha tidak hanya memberdayakan lansia sebagai objek penerima manfaat, tetapi juga mendorong mereka untuk tetap berdaya dan bermanfaat bagi orang lain maupun sesama. “Kita meluncurkan jaringan nasional volunteer Lansia Indonesia, menggabungkan seluruh peggiat dengan tema lansia. Sehingga berada dalam satu jaringan bersama agar saling berbagai pengetahuan. Hal ini diwadahi dengan membuka kesempatan bagi para manula untuk menjadi relawan dan turut aktif dalam gerakan kebaikan di sekitar kita,” kata Bambang. Ia menyebut populasi lansia di Indonesia sangat besar. Apalagi ditambah dengan pra lansia maka nilainya hampir 50 persen populasi milenial. Namun isu lansia lebih sedikit daripada isu milenial.“Isu lansia kita ekspansi gagasannya, tidak sekedar orang tuanya lemah tidak berdaya. Namun isu lansianya lebih bagaimana menciptakan kebahagiaan dan memberdayakan. Tentu konsepnya tidak sama dengan usia milenial. Sehingga dalam prespektif tersebut kita gandeng pesantren lansia Raden Rahmat yang dikenal sampai luar negeri atau pesantren lansia lain yang dengan satu jaringan bisa saling berbagi informasi dibantu peran pemerintah,” jelas Bambang. Adapun Direktur Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat ini sendiri Ustadz Solikhin menegaskan tempat yang dia kelola bukanlah panti jompo bagi lansia. Karena dalam hal pengelolaan ada tiga tagline yang digelorakan, yakni olah rogo, olah roso dan olah jiwo “Olah rogo bagaimana raga dijaga supaya tidak menurun tetap sehat, olah jiwo yakni dimasa tuanya mendapatkan ketenangan dengan mengajak lansia mendekatkan diri pada sang Pencipta. Selanjutnya olah roso, walaupun lansia kita menganut preventif produktif. Sehingga lansia tidak menjadi beban. Caranya dengan mengajari mereka lebih produktif seperti membuat jahe instan, gula jahe, dan krupuk. Kita namakan ini Tiga Ranah, sama dengan Pondok Pesantren lain tapi ini lansia,” jelas Ustaz Solikhin.Sementara Pekerja Sosial Ahli Muda Rehabilitasi Sosial Anak dan Lansia Dinsos Jateng, Heksa Sari Ratna Dewi mengapresiasi upaya Dompet Dhuafa bersama pesantren lansia, yang diharapkan bermuara pada kesejahteraan bagi lansia. “Dengan networking ini kita akan sangat terbantu. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan banyak pihak memiliki pandangan yang sama untuk lebih memuliakan dan memebrdayakan para lansia. Apalagi dengan updating data yang dimiliki akan sangat membantu pemerintah lebih fokus pada pemberian bantuan kepada lansia itu sendiri,” kata Heksa. Saat ini jumlah lansia di Jawa Tengah, lanjut Hexa, dari data Dinsos Jateng 2021, ada sekitar 91 ribu orang tersebar di Jateng. Jumlah ini tertinggi se Indonesia.Pada peluncuran Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia, para Lansia dibekali pelatihan hidroponik sebagai upaya pemberdayaan lansia dan peluang bisnis lain bersama Dinas Pertanian. (DD)* Sumber : Kumparan.com
Dompet Dhuafa & Ponpes Lansia Raden Rahmat Kolaborasi Launching Jaringan Nasional Volunteer Lansia
Dorongan keinginan agar para lansia terus produktif di masa senjanya dilakukan oleh sejumlah pihak. Salah satunya dilakukan oleh Dompet Dhuafa dan Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat berkolaborasi melaunching program Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan terhadap lansia. “Hari ini launching yang meluncurkan jaringan nasional volunteer lansia Indonesia ini merupakan upaya kami untuk menggabungkan seluruh pegiat tentang tema lansia agar berada dalam satu jaringan bersama. Sehingga bisa saling berbagi, saling menguatkan, saling menumbuhkan, dan berbagi pengetahuan” kata Direktur Komunikasi Aliansi Strategis Dompet Duafa Dan Ketua Forum Zakat Nasional, Bambang Suherman, Selasa (28/3). Dijelaskannya, lansia dipilih karena populasi lansia di Indonesia itu cukup besar, nilainya hampir 50% dari populasi masyarakat Indonesia dan sedikit dibawa kelompok milenial. Namun yang disayangkan perhatian terhadap kaum lansia masih dirasa kurang. “Artinya kita punya dua kutub generasi di Indonesia. Ini kelompok yang muda diwakili milenial dan kelompok lansia. Kita tahu bahwa isu, program, perhatian, dan isu tentang lansia pasti lebih sedikit dibandingkan milenial. Nah hari ini kita secara seimbang dan proporsional memberikan perhatian kepada para orang tua,” imbuhnya saat acara peluncuran jaringan nasional volunteer lansia Indonesia oleh Dompet Dhuafa bersama Pesantren Lansia, di Tandur Space Jalan Menteri Supeno No.1, Mugassari, Semarang. Adapun tujuan dari program ini dijelaskan oleh Bambang Suherman, agar lansia bukan hanya sekedar panti di mana mereka lemah dan tak berdaya. Tapi dapat menciptakan kebahagiaan mereka agar masa tua bisa lebih optimal. Termasuk juga memberdayakan mereka dengan konsep yang tidak sama dengan usia yang relatif muda. Selain itu, melalui program ini terbentuk sebuah jaringan yang nanti bisa saling berbagi pengetahuan dengan melibatkan pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota. “Jaringan tersebut misalnya hari ini kita punya Ustad Sholihin menjelaskan bahwa ada pesantren lansia Raden Rahmat yang luar biasa dikenal bahkan sampai ke luar negeri. Pasti tidak kita sangka ya? karena kita juga baru tahunya belakangan. Ada juga mungkin di tempat-tempat yang lain yang juga memberikan informasi yang sama tentang lansia tapi keunggulan satu dengan komponen yang lainnya tidak terhubung,” pungkasnya. Direktur Pesantren lansia Raden Rahmad, Ustad Sholihin menambahkan, pondok pesantren yang dikelolanya bukan panti jompo karena dalam hal pengelolaan ada dua tagline olah raga dan jiwa. Kegiatan-kegiatan di dalamnya berisikan hal produktif serta positif, baik bagi kondisi fisik dan mental. Adajuga kegiatan yang produktif seperti misalnya pelatihan-pelatihan membuat makanan. “Ada kegiatan olahraga jadi raganya itu terjaga supaya tidak terlalu menurun drastis dan tetap sehat. Jiwanya secara emosional diharapannya dengan masa tuanya itu dia mendapatkan ketenangan. Kita juga mengajarkan mereka untuk membuat kerupuk dan sebagainya,” imbuhnya. Sementara itu, Pekerja Sosial Ahli Muda Rehabilitasi Sosial, Anak dan Lanjut Usia, Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Hexa mewakili pemerintah merasa bahagia dan mengucapkan terima kasih dengan adanya program Jaringan Nasional Volunteer Lansia Indonesia. Menurutnya, dengan networking ini Pemerintah sangat sangat terbantu, karena adanya dukungan dari pihak lain. Berdasarkan data, jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2022 ada 26 juta jiwa. Sedangkan di Jawa Tengah sendiri ada sebanyak 91 ribu. “Di Jawa Tengah sendiri ada potensi pengembangan atau mungkin pemberdayaan lansia. Pemerintah memberikan apresiasi yang sangat tinggi terkait dengan kerjasama ini yang insya Allah ke depannya akan membawa kesejahteraan bagi lansia pada umumnya,” ujarnya. (*) Sumber : Tribunjateng.com (tribunnews.com)
Pendidikan Hukum Islam : di Pondok Pesantren Kesepuhan Raden Rahmat Gedong Banyubiru untuk Meningkatkan Kesadaran Toleransi dalam Fiqh Ibadah
Maryatin Maryatin UIN Salatiga Abstract Pondok pesantren Kasepuhan Raden Rahmat adalah pondok pesantren dengan santri lansia yang konsntrasi pada pembinaan lansia menuju husnul khotimah. Perbedaan cara ibadah dalam kehidupan sehari-hari dikhawatirkan dapat menggangu kosentrasi tersebut. Implementasi fiqh toleransi menjadi alternatif dalam mempertahankan dan meningkatkan kesdaran tolerasni dalam fiqh ibadah. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dan menggunakan metode kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini mengembangkan kombinasi model etnometodologi dan metode partisipatoris serta membahas bagaimana implementasi fiqh toleransi di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Gedong Banyubiru dalam meningkatkan kesadaran toleransi dalam fiqh ibadah dan apa faktor pendukung dan penghambat implementasi fiqh toleransi di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Gedong Banyubiru dalam meningkatkan kesadaran toleransi dalam fiqh ibadah. Fiqh toleransi diimplementasikan oleh pondok pesantren Kasepuhan Raden Rahmat dengan melakukan pembinaan dalam bentuk pembuatan regulasi atau peraturan yang mengatur kehidupan toleransi dalam fiqh ibadah. Peraturan-peraturan tersebut tertuang dalam upaya pembinaan terstruktur melalui pembelajaran fiqh ibadah, praktik ibadah sehari-hari dan pembinaan melalui tindakan represif (berbentuk sanksi) untuk meningkatkan kesadaran bertoleransi dalam fiqh ibadah. Sarana yang digunakan dalam pembinaan terstruktur tersebut adalah kajian, pembelajaran, forum silaturahim, diskusi, dan lainnya. Faktor-faktor yang mendukung terciptanya peningkatan kesadaran bertoleransi dalam fiqh ibadah adalah adanya komitmen bersama antar civitas akademika pondok pesantren baik secara tertulis maupun tidak, fokus mereka pada tujuan husnul khotimah, miliu yang mendukung dan indahnya ajaran Islam tentang toleransi. Adapun faktor penghambat implementasinya adalah kurang luasnya wawasan civitas akademika terutama santri dan keragaman latar belakangnya. Sumber : (unimma.ac.id)
Kisah Epik Perjalanan Pesantren Lansia Raden Rahmat
Suatu hari Winarno (founder pesantren lansia) menerima telepon dari Lampung, dari seorang anak yang ingin memondokkan ayahnya. Winarno sudah menceritakan kondisi pondok apa adanya, yang saat itu memang masih berupa bangunan berdinding kayu. Bersama ustad Ihsan (salah satu pengajar di pondok) ia pun menjemput calon santri tersebut di stasiun Poncol yang berjarak 50 KM dari lokasi pesantren lansia. “Saat itu di saku saya hanya ada uang 200 ribu. 100 ribu buat beli bensin, 50 ribunya saya top up kartu tol. Sisanya buat jaga-jaga siapa tahu calon santri tersebut butuh sesuatu di jalan,” kenangnya. Namun sesampai di Desa Gedong dan melihat kondisi pesantren lansia yang kelewat sederhana itu, calon santri tersebut malah mencemooh. “Pesantren kok kayak kandang sapi gini,” kata Winarno menirukan ucapan calon santri tersebut. Hari itu juga ia minta diantar balik, menuju terminal terdekat. Dengan ringan hati, Winarno pun menuruti permintaan calon santri tersebut. Padahal hari sudah menjelang malam. Syukurlah masih ada bus antar kota malam itu. Winarno dan Ustad Ikhsan menunggu sampai yang bersangkutan naik bus. Di tengah peristiwa yang tak mengenakkan hati itu, Winarno tetap berusaha tabah. Tetap khusnuzan bahwa di balik peristiwa ini pasti Allah bakal memberi kejutan yang indah. Dalam perjalanan pulang dari terminal malam itu, ia sempat mengungkapkan perasaan itu kepada sahabat seperjuangan yang setia menemaninya itu, Ustad Ikhsan. Katanya, “Ustad, kita nggak tahu Allah mau memberi hadiah apa buat kita. Tapi saya kok yakin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang indah.” Ditopang Pundak Emak-Emak Firasat Winarno benar. Tiga hari setelah peristiwa itu, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat kedatangan tamu pengasuh sebuah pesantren ternama di Karanganyar-Jawa Tengah. Winarno sendiri benar-benar tak menduga. Ustad Ikhsan sendiri yang alumni pesantren Karanganyar tersebut juga tak menyangka pengasuh pondoknya berkunjung ke Pesantren Lansia ini. Selang beberapa hari setelah kunjungan itu, salah satu bunda dari rombongan menanyakan apa yang bisa dibantu untuk pesantren ini? Winarnopun cepat menjawab; kami berencana membangun masjid. Gayung bersambut. Melalui pesan Whatsapp, Winarno mengirim gambar desain masjid yang ia rencanakan. Selama ini santri-santri pesantren lansia Raden Rahmat melaksanakan salat di masjid kampung Gedong, melewati gang sempit yang licin ketika hujan. Belum lagi anjing-anjing yang berkeliaran setiap saat. Qodarullah Bunda yang baik hati itu langsung menyanggupi membantu pendanaan awal untuk pembangunan Masjid. Dari sanalah kemudian Pembangunan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat dimulai yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada November 2019. Sungguh berkah yang luar biasa. Setelah itu berturut-turut datang sumbangan dari sejumlah dermawan. Antara lain bu Endah, seorang pengusaha dari Madiun yang menyumbangkan dana pensiunnya sebagai kepala sekolah SMA. Menyusul ibu Irma Pangkalanbun, Bu Yatmi pensiunan PNS Kota Bandar Lampung, Hj Etik Pengusaha BiroTravel asal Kota Malang. Juga seorang guru dari Balikpapan, Bu Kartini, yang datang jauh-jauh mengantarkan donasi. Kelima ibu-ibu hebat tersebut yang mengawali pembangunan masjid Al-Karimiyah. “Jadi, masjid ini fondasinya ditopang oleh pundak para emak-emak,” kata Winarno berkelakar. Winarno, yang memang membersamai perjalanan pesantren ini dari detik ke detik, hari per hari hingga hitungan 4 tahun sejak awal 2018 menginsafi betul bahwa setiap kebaikan akan menemukan batu sandungan. Rintangan dan hambatan itulah yang bakal menguji setangguh apa cita-cita di balik kebaikan itu. Pengalaman demi pengalaman “pahit” yang dialami sejak babad alas di tahun pertama kini menjadi fondasi yang kokoh bagi Pesantren khusus lansia ini untuk mencapai impiannya memuliakan para lansia. Meskipun masih jauh dari kesan sempurna, Masjid Pesantren Lansia ini, kini sudah bisa menampung 60 santri mukim dan non mukim. Aktif manfaatkan setiap hari untuk mengaji santri-santri lansia dan shalat 5 waktu. Bangunan ini setiap sebulan sekali juga digunakan untuk pertemuan 600 santri kelas jauh yang tersebar di 4 kecamatan, walau harus menambahkan terpal sederhana yang di ikatkan diantara tiang masjid dan pepohonan dsekitarnya PR selanjutnya adalah menyelesaikan pembangunan lantai dua. Alhamdulillah, Hj Endah dari Madiun, menyanggupi untuk membelikan kubahnya. Pembangunan masjid ini masih memerlukan dana sekitar 300jt lagi untuk pengadaan kusen aluminium ukuran 4x12x3 meter, keramik seluas 12×12 meter, genteng 6.000 pc, balok dan reng kayu serta pernak pernik matrial lainnya berikut ongkos tukangnya. Ayo kita dukung muliakan para lansia dengan mendukung pembangunan Masjid Pesantren Tahfidz Khusus Lansia ini. Salurkan infaq terbaik kita ke Bank Syariah Indonesia (451) No.Rek 7 9999 333 72, Atas Nama Pesantren Raden Rahmat. Atau bisa dalam bentuk matrial ke alamat: Kampung Lansia, Desa Gedong, Kec. Banyubiru Kab. Semarang Jawa Tengah Telp: 0812-9968-619 , Whatsapp : 0856-9329-9145 FB / IG / Twitter / You Tube: Pesantren Lansia www.pesantrenlansia.com Sumber: Kisah Epik Perjalanan Pesantren Lansia Raden Rahmat (parahyangan-post.com)