Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, di Desa Gedong, Kabupaten Semarang bisa menjadi contoh bahwa belajar tak kenal dengan usia. Di pesantren ini rata-rata santrinya adalah mereka yang sudah dewasa dan lanjut usia. Dinukil dari Solopos, Ahmad Winarno, pria asal Desa Gedong adalah sosok yang menjadi penggagas berdirinya pesantren lansia itu. Hal itu berawal setelah dirinya pulang dari merantau di Bekasi dan Jakarta. “Selama 20 tahun saya merantau. Tahun 2017 pulang kampung. Di kampung itu saya melihat banyak permasalahan masyarakat. Salah satunya yang membuat saya tersentuh banyaknya kaum lansia yang terlantar,” ungkapnya. Dirinya mengaku sangat prihatin melihat para lansia yang hidup nyaris tanpa perhatian. Apalagi banyak masyarakat yang menilai para lansia sebagai warga negara kelas dua, pasalnya dianggap sudah tidak produktif lagi. “Selama 20 tahun saya merantau. Tahun 2017 pulang kampung. Di kampung itu saya melihat banyak permasalahan masyarakat. Salah satunya yang membuat saya tersentuh banyaknya kaum lansia yang terlantar,” ungkapnya. Dirinya mengaku sangat prihatin melihat para lansia yang hidup nyaris tanpa perhatian. Apalagi banyak masyarakat yang menilai para lansia sebagai warga negara kelas dua, pasalnya dianggap sudah tidak produktif lagi. “Kami bertukar gagasan dan akhirnya terbayang sebuah lembaga yang memberikan layanan kepada warga lansia secara komprehensif, yaitu dari olah rogo, olah jiwa, dan olah roso,” terangnya. Akhirnya pada tahun 2018, TPQ lansia yang sangat sederhana itu berubah menjadi Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Banyak santri mulai berdatangan untuk mondok di tempat tersebut. Winarno mengungkapkan banyak santri lansia yang datang bukan hanya dari Semarang dan sekitarnya. Tetapi dari berbagai kota di Indonesia, seperti Surabaya, Jakarta, Padang, Balikpapan, Palu, dan Gorontalo. “Ada juga yang sudah betah di sini sampai beberapa kali Ramadan tidak pulang. Anaknya yang justru di suruh ke sini,” ungkapnya. Dirinya mengatakan ingin mengembangkan lagi Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Mulai dari membangun lebih banyak lagi tempat atau kamar untuk santri. Selain itu ada juga pendirian sekolah untuk merawat para lansia. Sri, salah seorang santri mengatakan dia merasa senang bermukim di sana. Terutama ketika Ramadan seperti sekarang banyak kegiatan yang bisa diikuti wisatawan dan santri bermukim. “Yang dirasakan senang, terus bisa segar begitu tubuhnya, terus melihat pemandangannya itu kok bagaimana begitu lho, bisa itu, dalam hati saya itu kok, nggak bisa mengungkapkan,” ujarnya. Sumber: Cerita Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat: Tempat Belajar Agama Para Lansia (goodnewsfromindonesia.id)
Mengintip Kegiatan Ramadan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Banyubiru Semarang Santri Lansia Semangat Mengaji
Semangat untuk mencari pahala di bulan ramadan tidak hanya dilakukan pemuda dan remaja saja. Santri lansia di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Banyubiru Semarang juga bersemangat mengaji di bulan suci ini. Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Muhamad Solikin mengaku selama bulan Ramadan 1444 H ini, mencoba mengajak lansia dengan program-program dengan pendekatan yang menyenangkan. “Ada pembelajaran mengaji, pembuatan keterampilan, rebana, dan outing class. Semuanya masuk dalam bingkai kegiatan pesantren yang sebagaimana representasi motto kami Olah Rogo, Olah Jiwo, dan Olah Roso,” terang Ustadz Solikin Sabtu (1/4/2023). Sumber: (harianasional.com)
Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Semarang, Tempat Santri Lansia Belajar Agama
Tak ada kata terlambat untuk memulai belajar agama. Begitulah kata yang tepat disematkan untuk para santri di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Semarang. Tak seperti pesantren pada umumnya yang mayoritas diisi anak usia pelajar. Seluruh santri di pesantren ini tergolong warga lanjut usia (lansia). Pesantren ini persisnya terletak di Desa Gedong RT 003/ RW 001, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Adalah Ahmad Winarno, pria asli Desa Gedong itulah yang menjadi penggagas berdirinya pesantren lansia itu. Hal itu berawal setelah dirinya pulang dari merantau di Bekasi dan Jakarta. “Selama 20 tahun saya merantau. Tahun 2017 pulang kampung. Di kampung itu saya melihat banyak permasalahan masyarakat. Salah satunya yang membuat saya tersentuh banyaknya kaum lansia yang telantar,” ungkap pria yang akrab disapa Ustaz Winarno ini kepada Solopos.com, Jumat (31/3/2023). Winarno juga melihat lansia sering kali hidup nyaris tanpa perhatian. Selain itu, lansia juga dipandang sebagai warga kelas dua karena dianggap sudah tidak produktif lagi. Selain permasalahan tersebut, sebetulnya ada hal yang bersifat pribadi yang melatarbelakangi Winarno mendirikan pesantren lansia. Hal tersebut, yakni ingin menemani ibunya yang baru masuk Islam dan belum bisa mengaji. “Niat awal saya sebenarnya sederhana, ingin menemani ibu. Beliau masuk Islam paling akhir tapi belum bisa mengaji. Salatnya juga masih belum bagus. Kemudian saya mendirikan Tempat Pembelajaran Quran (TPQ) lansia agar ibu punya teman belajar agama,” terangnya. TPQ lansia yang digagasnya itu yang kemudian hari menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Berkerjasama dengan Ustaz Solihin selaku petugas layanan lansia Kecamatan Banyubiru dapat semakin mempercepat berdirinya Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. “Kami bertukar gagasan dan akhirnya terbayang sebuah lembaga yang memberikan layanan kepada warga lansia secara komprehensif, yaitu dari olah rogo, olah jiwo, dan olah roso,” terangnya. Akhirnya pada tahun 2018, TPQ lansia yang sangat sederhana itu berubah menjadi Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Banyak santri mulai berdatangan untuk mondok di tempat tersebut. Mereka yang datang ke pondok pesantren tak hanya dari Semarang dan sekitarnya. Bahkan dari berbagai kota di Indonesia, seperti Surabaya, Jakarta, Padang, Balikpapan, Palu, dan Gorontalo. “Ada juga yang sudah betah di sini sampai beberapa kali Ramadan tidak pulang. Anaknya yang justru di suruh ke sini,” ungkapnya. Ke depannya, Winarno ingin mengembangkan lagi Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Mulai dari membangun lebih banyak lagi tempat atau kamar untuk santri. Selain itu juga akan mendirikan semacam sekolah untuk merawat para lansia dan pemberdayaan terhadap warga lansia. Sumber : Solopos.com
PERAN PONDOK PESANTREN LANSIA MELALUI AKTIVITAS SPIRITUAL DAN PELAYANAN KESEHATAN DALAM MENGURANGI RESIKO PENYAKIT LANSIA
Abstract Lansia yang mengalami proses penuaan mengakibatkan penurunan fisik dan psikologis. Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut lansia membutuhkan perawatan, dukungan sosial, tempat tinggal yang nyaman, peningkatan pelayanan kesehatan, dan spiritual untuk meningkatkan kualitas hidup dan bekal untuk kematian. Pondok pesantren lansia menjadi wadah untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pembinaan agama Islam bagi lansia. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui program perawatan di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat dan pandangan atau pengalaman santri lansia selama tinggal di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk memberikan deskripsi tentang peran pondok dalam mengurangi resiko penyakit lansia. Pada penelitian ini terdapat 3 informan kunci dan 13 informan utama. Teknik analisis menggunakan model Spradley analisis domain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program perawatan di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat yaitu olah rogo (qawiyyul jism), olah jiwo dan olah roso (quwwatul ruh). Program olah rogo yaitu senam lansia, aktivitas fisik harian, pemeriksaan kesehatan, monitoring lansia, asupan makanan lansia, penyediaan tanaman obat, dan penerapan protokol kesehatan. Program olah jiwo terdiri dari pemberian kajian subuh materi aqidah, tahfidz, qiroati, fiqih, sholawat, dan tadabbur alam serta pembiasaan ibadah berupa pelaksanaan sholat wajib dan sholat sunnah, pelaksanaan puasa wajib dan puasa sunnah, dan pembiasaan dzikir. Program olah roso yaitu interaksi sosial santri. Pengalaman santri lansia di pondok yaitu merasakan kedamaian hati, perkembangan dalam ilmu agama, dan perkembangan fisik. Saran untuk pondok pesantren, perlu pemenuhan kelengkapan sarana dan prasarana untuk memudahkan lansia. Memiliki perawat kesehatan dan ahli psikolog khusus untuk menangani kesehatan fisik dan psiki Item Type: Thesis (Under Graduates) Uncontrolled Keywords: pondok pesantren lansia, lansia, program perawatan, pengalaman Subjects: H Social Sciences > HT Communities. Classes. Races > Islamic Boarding SchoolH Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare > Elderly Fakultas: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, S1 Depositing User: Kharisma ADHIARYA Date Deposited: 13 Dec 2022 02:04 Last Modified: 13 Dec 2022 02:04 URI: http://lib.unnes.ac.id/id/eprint/54128 Sumber : (unnes.ac.id)
Launching Kios Pintar itu dilakukan di Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat
Sebuah teknologi baru digunakan untuk membantu pembelajaran di Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat. Teknologi bernama Kios Pintar itu mulai diaplikasikan agar lansia di pondok pesantren itu melek multimedia, dan bisa mendapatkan pembelajaran secara lebih mudah. Launching Kios Pintar itu dilakukan di Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu 29 Oktober 2022. Adapun, Kios Pintar adalah produk proyek tim pengabdian masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bekerjasama dengan Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat. “Dengan adanya Kios Pintar ini bisa membantu santri lansia untuk belajar secara mandiri,” jelas Prof. Yassirlie, inisiator pertama proyek tersebut. “Bisa belajar di manapun dan kapanpun. Ini tantangan kami dari ITB untuk memberikan kemudahan mengakses segala pembelajaran bagi lansia,” paparnya. Ada banyak modul yang terdapat di proyek Kios Pintar. Di antaranya pembelajaran bahasa arab, video pembelajaran hidroponik, modul Alquran. Kartu yang digunakan untuk para lansia mengakses Kios Pintar juga bisa digunakan sebagai ATM, bekerjasama dengan sebuah bank. “Kios Pintar ini akan berisi materi-materi yang dapat dipilih dan ditonton, berbasis teknologi yang ramah lansia,” imbuh dia. Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat pun mengapresiasi proyek Kios Pintar dari ITB ini. Dikatakan bahwa nantinya Kios Pintar akan memudahkan para lansia mengakses beberapa hal di pondok pesantren. “Nantinya kartu bisa digunakan untuk akses makan di kafe yang akan segera dibangun di sini. Bisa juga digunakan sebagai ATM, di mana nantinya donatur atau keluarga lansia bisa top up secara mudah ke kartu tersebut sehingga bisa digunakan para lansia untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas M. Solikin, Direktur Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat. Apresiasi juga diberikan oleh Pemkab Semarang atas adanya proyek teknologi Kios Pintar ini. Disebutkan bahwa nantinya segala akses pembelajaran yang makin mudah diakses lansia, bisa bermanfaat bagi lansia itu sendiri. “Kami mengapresiasi dan program ini bermanfaat untuk menambah kegiatan baru bagi para lansia, yang sebelumnya belum dikenalkan sesuatu hal yang sifatnya digital, kini mulai dikenalkan digitalisasi,” ungkap Suhartono, Kasi Pemberdayaan Kelembagaan Dinsos Kabupaten Semarang. “Kami memberikan apresiasi, sebab sesuai era saat ini, untuk memudahkan lansia belajar agar banyaknya waktu luang bisa dimaksimalkan, salah satunya dengan proyek seperti ini,” ungkap Musarofah, perwakilan Kecamatan Banyubiru. Kios Pintar merupakan salah satu produk dari Kita Belajar, proyek Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung. Proyek Kios Pintar ini telah diujikan kepada lansia usia lebih dari 55 tahun dalam 4 kali desain prototype di 4 daerah yang berbeda dengan jumlah responden 34 orang. Di antaranya pengujian prototype rangka, pengujian prototype interface, pengujian video materi pada lansia dan pengujian interface gamifikasi pada lansia. (win/pp) Sumber : (parahyangan-post.com)
Kios Pintar untuk Santri Lansia
Melalui Kios Pintar, santri lansia lebih mudah mempelajari ilmu agama melalui multimedia. Oleh Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat OLEH ANDRIAN SAPUTRA Pondok Pesantren Lanjut Usia (Lansia) Raden Rahmat terus melakukan peningkatan sarana pembelajaran bagi para santri lansia. Baru-baru ini, pesantren yang berlokasi di Gedong, Banyubiru, Semarang, Jawa Tengah, itu berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan Kios Pintar, yakni sebuah teknologi yang dapat membantu pembelajaran para santri lansia di Ponpes Raden Rahmat. Direktur Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat, Muhammad Solikin, mengatakan, Kios Pintar telah resmi diluncurkan Ponpes Raden Rahmat pada akhir Oktober lalu. Melalui Kios Pintar, santri lansia lebih mudah mempelajari ilmu agama melalui multimedia. Kios Pintar menyuguhkan berbagai modul, di antaranya pembelajaran bahasa Arab, video pembelajaran praktik hidroponik, modul pembelajaran Alquran, dan lain-lainnya. Untuk mengakses Kios Pintar, para santri lansia menggunakan kartu khusus yang juga berfungsi sebagai kartu debit karena telah bekerja sama dengan salah satu perbankan. Menurut Solikin, selain keberadaan Kios Pintar yang membantu santri lansia belajar melalui teknologi, kehadiran kartu debit yang berlaku di Ponpes Raden Rahmat memungkinkan para santri lansia untuk melakukan transaksi secara nontunai di kafe pesantren. “Nantinya, kartu bisa digunakan untuk akses makan di kafe yang akan segera dibangun di sini. Bisa juga digunakan sebagai ATM, donatur, atau keluarga lansia bisa top up secara mudah sehingga bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Solikin kepada Republika, beberapa waktu lalu. Inisiator Kios Pintar yang juga Guru Besar ITB Prof Yassirlie mengatakan, Kios Pintar merupakan produk proyek tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB). Konsep itu adalah hasil kerja sama dengan Pesantren Lansia Raden Rahmat. Ia menjelaskan, sebelumnya, proyek Kios Pintar telah diujikan kepada lansia dalam empat kali desain prototipe di empat daerah yang berbeda dengan jumlah responden 34 orang. Di antaranya pengujian prototipe rangka, pengujian prototipe interface, pengujian video materi pada lansia, dan pengujian interface gamifikasi pada lansia. “Kios Pintar membantu santri lansia untuk belajar secara mandiri di mana pun dan kapan pun. Ini tantangan kami dari ITB untuk memberikan kemudahan mengakses segala pembelajaran bagi lansia. Kios Pintar ini akan berisi materi-materi yang dapat dipilih dan ditonton, berbasis teknologi yang ramah lansia,” katanya. Sementara itu, tak hanya menjadi tempat belajar para santri lansia, Ponpes Lansia Raden Rahmat juga terus memperkuat sumber daya manusia (SDM) dengan menyiapkan para profesional perawat lanjut usia. Untuk itu, Ponpes Raden Rahmat berkolaborasi dengan sebuah lembaga koperasi bisnis asal Jepang, YMCW. Lembaga koperasi bisnis ini telah menjadi tempat magang para pelajar Sekolah Caregiver Raden Rahmat, yakni sekolah untuk melahirkan tenaga perawatan atau pengasuhan. Sekolah ini merupakan upaya kolaboratif antara Yayasan Pitutur Luhur yang menaungi Ponpes Lansia Raden Rahmat, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Sebaindo dan LPK Kibo Salatiga yang bertujuan untuk menyiapkan tenaga profesional untuk perawat lansia, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri, khususnya di Jepang. Sementara itu, Ponpes Raden Rahmat juga tengah berupaya menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk pengembangan kawasan pendidikan lansia (Senior Institut). Di dalamnya akan diadakan wisma lansia, pesantren lansia, sekolah lansia, sekolah caregiver, klinik lansia, taman lansia, bumi perkemahan lansia, dan kafe lansia. Proyek tersebut akan dilakukan bertahap dan saat ini baru memasuki fase wisma lansia dan pesantren lansia dan direncanakan akan selesai pada tahun 2030. Proyek tersebut bertujuan untuk menyiapkan lansia agar bisa menjalani kehidupan pada masa senjanya dengan produktif dan menggapai husnul khatimah. Sumber : (republika.id)
Kolaborasi Ponpes Raden Rahmat Cetak Perawat Lansia Profesional
Pondok Pesantren Raden Rahmat tengah terus berupaya menyiapkan para profesional perawat lanjut usia (Caregiver). Untuk itu Ponpes Raden Rahmat berkolaborasi dengan sebuah lembaga asal lembaga koperasi bisnis asal Jepang YMCW. Beberapa waktu lalu pimpinan YMCW, Nakamura Sensei mengunjungi Ponpes Raden Rahmat di Semarang Jawa Timur. Kedatangannya untuk berdiskusi dan memperkuat kerjasama dengan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Sebab YMWC telah menjadi tempat magang para pelajar Sekolah Caregiver Raden Rahmat yakni sekolah untuk melahirkan tenaga perawatan atau pengasuhan. Sekolah ini merupakan upaya kolaboratif antara Yayasan Pitutur Luhur, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Sebaindo dan LPK Kibo Salatiga yang bertujuan untuk menyiapkan tenaga profesional untuk perawat lansia, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri khususnya di Jepang. Dalam kunjungannya Nakamura berdiskusi tentang sarana hunian terintegrasi bagi lansia (Senior Living). Ia juga mengapresiasi bimbingan yang dilakukan Raden Rahmat terhadap para siswa yang bertujuan menjadi tenaga profesional untuk perawat lansia. “Penyampaian Harapan anak-anak magang Jepang LPK (SO) Serbaindo kolaborasi dengan raden rahmat, dimasa depan menjadi pioner untuk membuka sebanyak-banyaknya Senior Living di Indonesia mengingat urgensinya yang tinggi,” kata Nakamura seperti rilis yang diterima Republika,co.id dari Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat pada Sabtu (29/10). Sementara itu Direktur Pesantren Lansia Raden Rahmat, Muhammad Solikin mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah berupaya menyiapkan lahan seluas 10 hektar untuk pengembangan kawasan pendidikan lansia(Senior Institut) yang terdiri dari wisma lansia, pesantren lansia, sekolah lansia, sekolah caregiver, klinik lansia, taman lansia, bumi perkemahan lansia dan kafe lansia. “Kedepannya ada banyak sinergitas antara pihak Jepang dengan Raden Rahmat termasuk hibah sarana prasarana yang berhubungan dengan caregiver dari Jepang, tentunya diperlukan dukungan dan penguatan dari eksekutif Kabupaten Semarang dan Pemprov Jateng,” jelasnya. Ia mengatakan proyek tersebut akan dilakukan bertahap dan saat ini baru memasuki fase wisma lansia dan pesantren lansia dan direncanakan akan selesai pada tahun 2030. Proyek tersebut bertujuan untuk menyiapkan lansia agar bisa menjalani kehidupan di akhir senjanya dengan produktif dan menggapai husnul khatimah. Sementara itu Ketua Yayasan Pitutur Luhur, Ahmad Winarno mengatakan dengan rencana infrastruktur Yayasan Pitutur Luhur menyiapkan layanan lansia yang komprehensif, holistik, religius, sekolah caregiver juga untuk menyerap tenaga kerja. “Apalagi indonesia, jika tidak ada edukasi kelak indonesia akan mengalami masalah sosial khususnya akibat pertumbuhan lansia yang tidak diimbangi kesiapan penanganan dari pemerintah dan edukasi ke lansia dan keluarganya. Di Jepang, kebutuhan caregiver mencapai 500 orang setiap tahunnya. Saking banyaknya, kebutuhan itu sulit dipenuhi dari pasar tenaga kerja di dalam negeri, apalagi Jepang sendiri memiliki populasi lanjut usia yang sangat besar,” ungkapnya.Sumber: Kolaborasi Ponpes Raden Rahmat Cetak Perawat Lansia Profesional | Republika Online
Kios Pintar, Proyek ITB-Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat untuk Memudahkan Pembelajaran Lansia
Sebuah teknologi baru digunakan untuk membantu pembelajaran di Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat. Teknologi bernama Kios Pintar itu mulai diaplikasikan agar lansia di pondok pesantren itu melek multimedia, dan bisa mendapatkan pembelajaran secara lebih mudah. Launching Kios Pintar itu dilakukan di Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu 29 Oktober 2022. Adapun, Kios Pintar adalah produk proyek tim pengabdian masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bekerjasama dengan Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat. “Dengan adanya Kios Pintar ini bisa membantu santri lansia untuk belajar secara mandiri,” jelas Prof. Yassirlie, inisiator pertama proyek tersebut. “Bisa belajar di manapun dan kapanpun. Ini tantangan kami dari ITB untuk memberikan kemudahan mengakses segala pembelajaran bagi lansia,” paparnya. Ada banyak modul yang terdapat di proyek Kios Pintar. Di antaranya pembelajaran bahasa arab, video pembelajaran hidroponik, modul Alquran. Kartu yang digunakan untuk para lansia mengakses Kios Pintar juga bisa digunakan sebagai ATM, bekerjasama dengan sebuah bank. “Kios Pintar ini akan berisi materi-materi yang dapat dipilih dan ditonton, berbasis teknologi yang ramah lansia,” imbuh dia. Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat pun mengapresiasi proyek Kios Pintar dari ITB ini. Dikatakan bahwa nantinya Kios Pintar akan memudahkan para lansia mengakses beberapa hal di pondok pesantren. “Nantinya kartu bisa digunakan untuk akses makan di kafe yang akan segera dibangun di sini. Bisa juga digunakan sebagai ATM, di mana nantinya donatur atau keluarga lansia bisa top up secara mudah ke kartu tersebut sehingga bisa digunakan para lansia untuk kebutuhan sehari-hari,” jelas M. Solikin, Direktur Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat. Apresiasi juga diberikan oleh Pemkab Semarang atas adanya proyek teknologi Kios Pintar ini. Disebutkan bahwa nantinya segala akses pembelajaran yang makin mudah diakses lansia, bisa bermanfaat bagi lansia itu sendiri. “Kami mengapresiasi dan program ini bermanfaat untuk menambah kegiatan baru bagi para lansia, yang sebelumnya belum dikenalkan sesuatu hal yang sifatnya digital, kini mulai dikenalkan digitalisasi,” ungkap Suhartono, Kasi Pemberdayaan Kelembagaan Dinsos Kabupaten Semarang. “Kami memberikan apresiasi, sebab sesuai era saat ini, untuk memudahkan lansia belajar agar banyaknya waktu luang bisa dimaksimalkan, salah satunya dengan proyek seperti ini,” ungkap Musarofah, perwakilan Kecamatan Banyubiru. Kios Pintar merupakan salah satu produk dari Kita Belajar, proyek Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung. Proyek Kios Pintar ini telah diujikan kepada lansia usia lebih dari 55 tahun dalam 4 kali desain prototype di 4 daerah yang berbeda dengan jumlah responden 34 orang. Di antaranya pengujian prototype rangka, pengujian prototype interface, pengujian video materi pada lansia dan pengujian interface gamifikasi pada lansia. Sumber : AyoSemarang.com
Kolaborasi, YMCW Business Cooperative Asal Jepang Jadikan Sekolah Caregiver Raden Rahmat Tempat Magang
Cuaca hujan tak menyurutkan rombongan YMCW Business Cooperative asal Jepang untuk menyambangi Pondok Pesantren (Ponpes) Lansia Raden Rahmat di Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Kolaborasi, YMCW Business Cooperative Asal Jepang Jadikan Sekolah Caregiver Raden Rahmat Tempat Magang. Lembaga yang mendidik calon caregiver (perawat lansia) itu memantau langsung kegiatan magang para siswa-siswinya di ponpes khusus lansia itu. Bukan tanpa alasan, ponpes tersebut memiliki Sekolah Caregiver Raden Rahmat yang merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Pitutur Luhur, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Sebaindo dan LPK Kibo Salatiga yang menyiapkan tenaga profesional untuk perawat lansia, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri khususnya Jepang. Ditemui di sela kegiatan kunjungannya belum lama ini, Nakamura Sensei perwakilan dari YMCW Business Cooperative mengatakan agenda kunjungan tersebut dalam rangka berdiskusi tentang senior living Jepang-Indonesia. Menurutnya, kurikulum yang diterapkan oleh Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat sangat relate dengan apa yang diajarkan oleh lembaganya. “Harapan anak-anak magang yang berkolaborasi dengan Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat bisa menjadi pioneer untuk membuka sebanyak-banyaknya senior living di Indonesia di masa depan mengingat urgensinya yang tinggi,” ujarnya. Ditemui di sela kegiatan kunjungannya belum lama ini, Nakamura Sensei perwakilan dari YMCW Business Cooperative mengatakan agenda kunjungan tersebut dalam rangka berdiskusi tentang senior living Jepang-Indonesia. Menurutnya, kurikulum yang diterapkan oleh Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat sangat relate dengan apa yang diajarkan oleh lembaganya. “Harapan anak-anak magang yang berkolaborasi dengan Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat bisa menjadi pioneer untuk membuka sebanyak-banyaknya senior living di Indonesia di masa depan mengingat urgensinya yang tinggi,” ujarnya. Sementara itu Muhammad Solikin, Direktur Ponpes Lansia Raden Rahmat mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah berupaya menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk pengembangan Senior Institute yang meliputi wisma, pesantren, sekolah, klinik, taman, bumi perkemahan dan kafe khusus bagi kaum lansia. “Ke depannya ada banyak sinergitas antara pihak Jepang dengan Ponpes Raden Rahmat, termasuk hibah sarana dan prasarana yang berhubungan dengan caregiver. Tentunya diperlukan dukungan dan penguatan dari pemangku kebijakan, baik Pemkab Semarang maupun Pemprov Jateng,” jelasnya. Ditambahkan Solikin, proyek pengembangan Senior Institute itu dilaksanakan secara bertahap. Untuk saat ini baru memasuki fase pengembangan wisma lansia dan pesantren lansia dan direncanakan akan selesai pada tahun 2030. “Proyek ini juga bertujuan untuk menyiapkan lansia agar bisa menjalani kehidupan di usia senjanya dengan produktif dan kelak saat kembali ke hadapan Sang Pencipta penuh bahagia,” tandasnya. Sumber: Kolaborasi, YMCW Business Cooperative Asal Jepang (gistara.com)
Cinta Kasih untuk Lansia di Pesantren Raden Rahmat
Semarang – Suasana di aula Pondok Pesantren Lansia Raden Rahmat Kab. Semarang berlangsung penuh keakraban diselingi gelak tawa bahagia. Mereka adalah relawan Komunitas Jalan Pelan (Jaga Lansia Peduli Lansia) Semarang dan sekitar 30 lansia yang mendiami pesantren tersebut. Sore itu pukul 15.00 WIB, matahari sudah tidak begitu terik, sembari menunggu berbuka puasa, salah satu co-founder Jalan Pelan dan Ferrensia OC, konselor psikologi memberi materi tentang psychological wellbeing lansia dengan dibalut hiburan untuk para lansia. Selain memberikan materi dan konseling kelompok dalam kegiatan sowan simbah, relawan juga membagikan paket bingkisan yang terkumpul dari para donatur dan berbincang canda tawa dengan simbah-simbah. Kunjungan ini sebagai wujud berbagi cinta kasih kepada simbah-simbah yang berada di pesantren tersebut. Dengan meluangkan waktu dan meninggalkan aktivitas sehari-hari, para relawan berkumpul dari selepas dzuhur sampai dengan berbuka puasa untuk memberikan kasih sayang, perhatian, dan kebahagian kepada para lansia. Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat merupakan pondok pesantren khusus lansia. Berbeda dari panti wredha biasanya, selain juga bergerak di bidang kemanusiaan, pedidikan, sosial, Pesantren Lansia memberikan kajian keagamaan kepada para simbah-simbah untuk mempertahankan hidayah Iman dan Islam, memperbaiki dan mengembangkan kualitas, ruhani dalam pribadi khususnya lansia menuju kehidupan yang khusnul khotimah. Salah satu santri yang bernama Mbah Arfan. Ia merasa sangat terharu dengan kunjungan para relawan hingga meneteskan air mata karena teringat kepada anak-anaknya dan merindukan supaya hadir menjenguknya. Terlebih lagi dengan kondisi pandemi COVID-19, kunjungan ke Pesantren sangat dibatasi. Penghuni lansia lainnya, Mbah Yani juga merasakan kesepian karena tidak seperti dua tahun yang lalu banyak sekali relawan atau komunitas sosial berdatangan silih berganti untuk mengadakan kegiatan di pesantren, seperti bakti sosial, kegiatan-kegiatan lansia atau bahkan hanya main untuk menghibur simbah-simbah di pesantren. Kegiatan sowan simbah ini juga diadakan secara terbatas hanya dikuti oleh pengurus inti Komunitas Jalan Pelan dikarenakan harus mengacu pada kebijakan PPKM. Di penghujung acara, para relawan berfoto bersama dan bersalaman untuk berpamitan kepada simbah-simbah. Setiap berpamitan mereka mengharapkan agar para relawan dapat berkunjung kembali menjenguk mereka dan menjaga tali sillaturrohim karena ini merupakan kunjungan kedua kalinya Komunitas Jalan Pelan di Pesantren Lansia Raden Rahmat. Inilah yang harus kita tanamkan dalam kehidupan kita sebagai umat manusia yang berdampingan. Kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Sejalan dengan firman dalam kitab-Nya al-Qur’an: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya . (QS al-Maidah: 2). Sumber : Kompasiana.com