Puluhan lansia tampak duduk bersila di atas karpet sebuah masjid yang tidak terlalu besar. Dengan khidmat dan sesekali diselingi gelak tawa mereka mendengarkan ceramah Ustad Solihin, Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Kabupaten Semarang. Para jamaah itu mayoritas berusia di atas 60 tahun. Mereka adalah warga Dusun Pancuran Desa Banyubiru. Dusun terpencil di lereng Gunung Kendil di ketinggian 900 mdpl, dengan jalan terjal dan jurang nan dalam di kanan kirinya. Itulah suasana guyup yang jamak ditemui dalam kegiatan salah satu rombel (rombongan belajar) pesantren khusus lansia ini. Istilah rombel digunakan untuk santri-santri lansia kelas jauh luar asrama. Selain santri yang mukim di pesantren, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memiliki 775 santri binaan yang tersebar di 13 rombel di 13 desa dalam 6 kecamatan. Di Kabupaten Semarang sendiri, saat ini tercatat 140.000 lansia dari total satu juta penduduk. Mereka mayoritas berlatar sosial ekonomi pra-sejahtera dengan profesi rata-rata petani ladang kecil atau buruh tani. Problem ekonomi, kesehatan dan spiritual memang menjadi masalah utama para lansia tersebut. Di tiga ranah itulah Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat hadir memberikan solusi. Untuk masalah ekonomi, pesantren memberikan bantuan biaya hidup dengan menggalang dana sendiri atau bekerja sama dengan lembaga amil zakat. Untuk masalah kesehatan pesantren bekerjasama dengan dinas kesehatan setempat. Sementara untuk mencover kebutuhan spiritual, pesantren rutin melakukan pembinaan seperti pengajian-pengajian yang digelar rutin di setiap rombel, dengan suport 3 fakultas UIN Salatiga, Fakultas Dakwah, Fakultas Syariah dan FUADAH, Fakultas Usuludin Adab Hadits dan Humaniora Sinergi dengan Laziz Jateng Seiring tingginya jumlah Lansia Dhuafa yang harus dilayani, Laziz Jateng hadir memberikan suport kepada Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat untuk membina 800 lansia binaan yang di 13 rombel. Agung Widodo, Pimpinan Kantor Layanan Lazis Jateng, Kabupaten Semarang menyampaikan, kerja sama strategis ini akan menjadi tonggak baru program layanan lansia khususnya di Semarang. “Dengan pengalaman 5 tahun menghadirkan program-program inovatif pelayanan lansia, kami mempercayakan titipan para donatur kami khususnya donatur program lansia untuk disalurkan kepada lansia binaan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Kami berharap dengan kerja sama ini, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat bisa mendampingi 10 rb lansia dari 140 rb lansia di kabupaten Semarang,” terangnya. Tidak hanya bekerja sama dengan lembaga penggalang dana, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmatpun bersinergi dengan Dinas terkait di Kabupaten Semarang untuk mengelola program-program lansia khususnya Dhuafa dan Terpencil. Salah satunya adalah perintisan sekolah khusus warga lansia. Tujuan sekolah ini adalah untuk membekali para lansia dengan berbagai pengetahuan. Embrio sekolah lansia ini adalah TPQ Lansia yang tersebar di 6 kecamatan. Yaitu Getasan, Jambu, Ambarawa, Banyubiru, Tuntang, Bancak dan Pabelan. “Satu sekolah sudah terbentuk di desa Gedong Banyubiru dan akan melakukan wisuda pada tahun ini,” kata Mohamad Solikin direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rajmat, Kabupaten Semarang. Saat ini PKRR juga tengah merintis pembukaan Pesantren Tetitarah yang rencananya akan dibuka di Daerah Wiru Kecamatan Bringin. Pesantren ini berfungsi untuk penyembuhan dan pemulihan lansia yang memerlukan perhatian khusus. Tasliyah (62 tahun) santri lansia asal dusun Gedong, merasa senang dengan program ini, karena banyak tetangganya yang sekarang rajin ngaji dan sholat. “Dulu kampung ini jarang yang bisa sholat dan mengaji, sejak adanya program TPQ Lansia ini, alhamdulillah lebih dari 80 % warga di Gedong ini sekarang rajin sholat dan rajin menganji”. Sumber : Ummat TV
BANTU LANSIA HIDUPNYA LEBIH TERJAMIN MELALUI GERAKAN BIRRUL WALIDAIN
PURWOREJO – Dalam rangka mengkampanyekan Gerakan Birrul Walidain, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memenuhi undangan Talkshow dengan tema Tips Merawat Orang Tua Sepenuh Hati hingga Husnul Khotimah, talkshow yang diselenggarakan oleh Yayasan Insan Cendekia Purworejo, inisiator Wisma Birrul Walidain Kajian ini dihadiri kurang lebih ratusan warga Desa Winong Lor, Gebang, Kabupaten Purworejo, Ahad (18/6). Kepala Wisma Birrul Walidain, Amad Wakidin mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kampanye Purworejo Sayang Lansia, dengan tujuan agar dapat menghantarkan orang tua pulang penuh bahagia, Husnul Khotimah, jika kelal kembali kepada Yang Maha Kuasa “Merupakan kewajiban anak merawat orangtua, kita ada karena mereka (orangtua), jika hidup saja perlu dipersiapkan, maka kematianpun juga harus dipersiapkan agar bergelar husnul khotimah (akhir yang baik-red)”, ujarnya saat menjadi moderator di acara tersebut. Hal senada juga disampaikan Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, M.Solikin dalam materinya, bahwa pada masanya kita akan sampai pada usia lanjut, karena itulah sunnahtullah, bahwa kita diciptakan dalam kondisi lemah (bayi), kemudian kuat dan lemah kembali dan beruban(tua). Ia menambahkan bahwa salah satu tips merawat orangtua atau para lanjut usia sepenuh hati adalah dengan memperlakukan setiap lansia yang kita dampingi seperti kita merawat orangtua kiya sendiri, agar dapat berproseslah menuju husnul khotimah. “Kondisi menjadi tua adalah sebuah keniscayaan, Al-Qur’an Surat Arrum ayat 54 “Allah menciptakan dalam kondisi lemah (bayi), kemudian kuat dan lemah kembali dan beruban(tua).”, jika kita dikaruniai umur panjang, semoga Allah menutup usia kita dengan akhir yang baik (husnul khotimah), tuturnya dalam materi yang disampaikan. Sementara itu, Ahmad Winarno, Ketua Yayasan Pitutur Luhur, dan penggagas Gerakan Birrul Walidain mengatakan bahwa Gerakan Birrul Walidain ini merupakan gerakan sosial religius, untuk mengajak semua pihak untuk lebih peduli pada lansia, terutama orangtua sendiri. “Kami mulai mengkampanyekannya sejak berdirinya Yayasan Pitutur Luhur dan Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat tahun 2018, dengan harapan agar kita bisa lebih peduli dan merawat orang tua dengan baik dan menghantarkan mereka untuk meninggalkan jejak-jejak kebaikan sebelum pulang menghadap Sang Penciptanya”, tegas Winarno. Ustadzah Umi MarTalkshow ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Winong Lor, perangkat desa, serta tokoh masyarakat desa Winong Lor. Salah satu Tokoh sekaligus mubaliq Muslimah, Purworejo Ustadzah Hj.Umi Marfuah, S.Ag, Yang juga menjadi satu narasumber menambahkan, kunci hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat adalah semakin mencintai Al Qur’an walau usia sudah senja, karena Al Qur’an yang akan terus menemani walau kita sudah tiada, saat dialam kubur hingga kelak saat kita di akhirat Rencananya kegiatan kampanye Gerakan Birrul Walidain ini akan terus digemakan di 35 Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah. (DQ)
[REVIEW] Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Muliakan Lansia dengan Gerakan Birrul Walidain
Semarang–Bila kita semua dikaruniai umur panjang, maka kita akan sampai pada fase lanjut usia. Namun tak setiap lansia dapat menjalani hari tuanya dalam kenyamanan. Banyak dari mereka yang masih harus berjibaku di tengah kerasnya kehidupan. Di Indonesia ada sekitar 36 juta lansia, sekitar kurang lebih 12,6 juta lansia berada dalam status sosial prasejahtera. Mereka tinggal di rumah sangat sederhana dengan konsumsi perkapita di bawah 50 ribu per hari. Fakta miris itulah yang melandasi berdirinya Pesantren Kasepuhan (Pesantren Lansia) Raden Rahmat di awal tahun 2018 lalu. Ustadz Ahmad Winarno, Ketua Yayasan Pitutur Luhur, Inisiator Pesantren khusus lansia ini mengatakan, bahwa nama Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat ini terinspirasi dari perjuangan Sunan Ampel (Raden Rahmat), salah satu sesepuh Walisongo yang berdakwah mendampingi masyarakat melalui gerakan dakwah kultural namun tetap sistematis. “Termasuk beliaulah yang memiliki ide memiliki kelas pembinaan khusus bagi para pelayan masyarakat, yang kelak alumni yang beliau bina ini menjadi raja-raja di seluruh Nusantara paska runtuhnya Majapahit. Kehadiran kerajaan Islam paska majapahit adalah hasil kerja cerdas Walisongo,” tuturnya kepada Suara Pesantren, Senin (19/6). Berdirinya Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat ingin melanjutkan dakwah Walisongo, salah satu jalannya adalah dengan membersamai para lansia yang ingin mempersiapkan diri di akhir usianya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh bahagia. “Kalau dulu, Sunan Ampel dengan pesantren Ampel Denta mempersiapkan generasi yang sedang tumbuh agar menjadi pelayan ummat, maka Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat ingin melanjutkan dakwah Walisongo dengan membersamai Lansia Bersiap kee akhirat Pulang Penuh Bahagia,” ungkapnya. Dari 8 Lansia, Kini Layani 715 Lansia Tidak mudah saat awal merintis Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat ini, awalnya menempati kediaman orang tua Ahmad Winarno, yang sangat sederhana berdinding kayu berlantai tanah. “Itulah tonggak awal cita-cita luhur ditancapkan, yaitu memuliakan para lansia,” jelasnya. Seiring berjalanya waktu, dukungan pun mengalir. Dari awal berdirinya hanya melayani 8 lansia , setelah 5 tahun berjalan kini tengah melayani 715 lansia di luar asrama dan 20 lansia dalam asrama. Tentu angka tersebut masih jauh dari jumlah lansia prasejahtera di Indonesia, khususnya di kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Jawa Tengah yang mencapai 3.500 lansia. “Setiap bulan tak kurang 25-an lansia mendaftar ingin mondok di sini. Namun karena keterbatasan asrama dan fasilitas, dengan berat hati kami belum bisa menerima,” tuturnya. Berbeda dari umumnya, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat tidak hanya melayani lansia dari aspek fisik dan kesehatan, namun juga aspek psikologis dan agamis. Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Mohammad Solikin mengatakan, setiap hari pihaknya menjalani aktivitas terjadwal. Mulai dari mengaji, keterampilan, berkesenian, hingga berkebun. “Menurut hemat kami, kebutuhan lansia tidak hanya fisik tetapi emosional dan spiritual juga sangat penting, fisik boleh mnua tetap jiwa harus terus menyala, wong urip iku murup, orang kalau mau terus hidup maka jiwanya harus terus menyala,” tuturnya. Diusia perjalananya yang menginjak tahun ke-5 ini, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat mencanangkan Visi 2030, yaitu “Menjadi pusat kegiatan kemanusiaan, pendidikan, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan khususnya bagi lanjut usia berbasis nila-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah”. Lima Misi Pesantren Lansia Raden Rahmat Pihaknya terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, terus berkomitmen untuk memberikan layanan bagi yang membutuhkan Pelayanan Kesejahteraan Sosial lanjut usia melalui 5 misi: Tujuh Program Prioritas Pesantren Lansia Mengingat terus bertambahnya lansia yang dilayani, saat ini Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat menggulirkan sejumlah program prioritas: Kontribusi nyata Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat pun menarik minat sejumlah pihak, baik pemerintah maupun lembaga sosial lain untuk bekerja sama. Berkat keberadaan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat ini pula maka Desa Gedong pada 2019 lalu, ditetapkan oleh Pemkot Semarang sebagai Desa Ramah Lansia dan di tahun 2021 di tetapkan pula sebagai destinasi wisata religi. Menapaki kiprahnya di tahun ke-5 ini, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat terus berusaha berbenah diri serta memberikan layanan terbaik untuk lansia, yaitu menghantarkan para lansia lebih berdaya dan bermartabat. “Kami sadar, kerja kerja baik ini tak mungkin bisa meluas manfaatnya tanpa dukungan orang orang baik. Kontribusi dan bantuan terbaik anda semua merupakan suluh harapan bagi mereka,” jelasnya. [nk] Sumber : Suara Pesantren
Ternyata Begini Keseharian Para Santri Lansia di Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat
Semarang, Jawa Tengah – Suasana teduh terasa saat kita memasuki sebuah pondok pesantren yang berada di lereng Gunung Gajah Mungkur, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Selain udaranya yang sejuk karena berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, lantunan ayat suci Alquran yang menggema di salah satu sudut ruangan sebuah pondok pesantren (ponpes), semakin membuat suasana di tempat ini nyaman dan tenang. Setiap hari puluhan santri yang tak lagi berusia muda tampak khusyuk menyimak dan membaca mushaf di hadapan para ustadz. Sri Ariati salah satu santri asal Wonokromo, Surabaya yang kini memasuki usia 80 tahun, menceritakan awal ia bisa mengenal Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat dan bergabung sejak Desember 2021. “Pertama kali dapat informasi pondok ini dari sebuah radio di Surabaya. Sebelumnya juga sering ikut majelis taklim, tetapi belum ketemu yang sreg (cocok),” ujarnya saat dijumpai di Ponpes, Rabu (20/4/2022). Ada alasan tersendiri mengapa Ia memilih untuk mondok (tinggal) di Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat, ibu tiga orang anak itu mengaku mendapatkan apa yang selama ini ia cari, yakni ketenangan hati. “Kebetulan saya masih berkerabat dengan keluarga besar Ponpes Tremas Pacitan. Pernah ngaji di sana, tapi ustadz-ustadznya keponakan saya semua, belum lagi pengurusnya. Jadinya, seperti di rumah sendiri, banyak ngobrolnya kurang belajarnya,” ungkapnya. Secara finansial, nenek delapan cucu ini mengaku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ia sendiri merupakan pensiunan dari tenaga farmasi di Rumah Sakit Angkatan Laut Surabaya. Sedangkan tiga orang anaknya masing-masing bekerja di bidang ekspor impor, dosen dan aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kota Surabaya. Sehingga ketika memutuskan untuk mondok, sempat tidak diizinkan oleh anak anak. “Awalnya tentu tidak diizinkan sama anak-anak. Diminta untuk tetap di rumah, kebutuhan juga dipenuhi. Tapi saya malah bingung di rumah tidak ada kegiatan. Di sini malah ada kesibukan dari subuh sampai malam terutama ngaji,” ucapnya dengan senang. Sri Ariati berharap bisa terus produktif dan bermanfaat meski telah memasuki usia senja. Terlebih dalam rangka mengumpulkan bekal akhirat, ia ingin bisa istiqomah dalam niat yang lurus. “Saya sudah tidak ingin mencari apa-apa lagi, istilahnya sudah selesai dengan urusan dunia. Saya ingin fokus untuk akhirat besok dan meraih cita-cita husnul khotimah,” harapnya. Sementara itu, pengasuh Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat Ahmad Winarno menjelaskan yang membedakan antara ponpes ini dengan lembaga kepengurusan lanjut usia (lansia) yang lain adalah di bidang pelayanannya. Di ponpes ini pelayanan fisik, rohani dan sosial diterapkan secara holistik, komprehensif dan integratif. “Ponpes ini berbeda dengan panti jompo. Kita berdayakan tiga pelayanan hidup melalui olah rogo (olahraga), jiwo (jiwa) dan roso (rasa) secara menyeluruh,” jelasnya. Dijelaskan Winarno, pelayanan olah rogo dilakukan dengan pembinaan fisik yang bertujuan mewujudkan insan segar mulia atau sehat dan bugar di usia lanjut. Kemudian, olah jiwo adalah bagaimana para lansia ini bisa terobati hatinya sehingga bisa semakin bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Tuhan untuk menjemput hidayah menuju akhir hayat yang husnul khotimah. Terakhir adalah olah roso yakni dengan mendampingi mereka untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki, sehingga tetap bisa berkarya dan produktif di masa tuanya. “Selama ini lansia identik dengan belas kasihan. Di sini tidak demikian, kami siapkan betul agar mereka bisa mandiri dan produktif. Sebab, bagaimanapun juga mereka datang ke sini juga tidak kosongan artinya sudah punya keterampilan. Intinya, di sini bukan hanya membentuk pribadi muslim tapi juga akan mencetak duta-duta bahagia untuk kemudian ditularkan kepada yang lain,” pungkasnya. (Abc/dan) Sumber : (tvonenews.com)
Pelaksanaan bimbingan agama Islam dalam mengatasi problem psikososial lansia di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang
Nayiroh, Lu’lu (2022) Pelaksanaan bimbingan agama Islam dalam mengatasi problem psikososial lansia di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang. Undergraduate (S1) thesis, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Abstract Lansia merupakan seseorang yang sarat dengan berbagai penurunan, dari dimensi bio-psiko-sosio-spiritualnya. Psikososial lansia merupakan suatu perubahan di dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologis maupun sosial yang membahas tentang aspek-aspek dari perkembangan manusia. Salah satu upaya dalam mengatasi problem psikososial lansia adalah dengan adanya pelayanan yang holistik, komprehensif dan integratif meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual Penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1). Mengetahui kondisi psikososial lansia di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang, 2). Untuk mengetahui proses pelaksanaan bimbingan agama Islam dalam Mengatasi Problem Psikososial Lansia di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang.Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian lansia usia 60-72 tahun di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik.Hasil penelitian ini diperoleh beberapa hal sebagai berikut; pertama, kondisi Psikososial Lansia Di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang berdasarkan indikator problem psikososial lansia yang terjadi adalah; 1).Kehilangan, mengakibatkan perasaan duka cita yang mendalam, belum menerima takdir, kesepian, depresi dan menarik diri. 2).Kesepian, mengakibatkan perasaan hampa, mudah menangis dan menyendiri. 3).Depresi, kehilangan semangat dan ketakutan berlebih, trauma, penurunan berat badan, penyesalan dan menangis berkepanjangan. 4). Menarik diri, mengakibatkan ketakutan akan interaksi dengan banyak orang, tidak mau bergaul, harga diri rendah, dan isolasi sosial 5). Gangguan kecemasan, menyebabkan trauma akan kejadian dimasa lalu karena meninggalkan ibadah, kekhawatiran akan kematian, kesepian, gangguan tidur. 6). Demensia, hilangnya ingatan secara bertahap dalam belajar maupun menghafal 7). Buta huruf, tidak mengenal huruf hijaiyah. 8). Penyakit kronis, keterbatasan dalam berbicara, membaca dan melakukan aktivitas sehari-hari. 9). Distress spiritual, menyebabkan kecemasan, stress, tidak bisa membaca, kurang pemahaman akan agamanya, lupa akan gerakan shalat, mengaji, dan melemahnya iman. 10). Post power syndrome, Ketakutan akan kematian dan rasa malu karena sudah tidak bekerja. Kedua, Proses pelaksanaan bimbingan agama Islam dalam mengatasi problem psikososial lansia di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang, yakni tahapan pelayanan yang dilaksanakan secara holistik meliputi bio-psiko-sosio-spiritual, komprehensif dan integratif yang merujuk pada kurikulum 3.6, yaitu olah rogo, olah jiwo dan olah roso dengan tujuan untuk meningkatkan ibadah para lansia agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT serta sebagai upaya dalam mengatasi problem psikososial lansia. Bimbingan agama Islam yang dilaksanakan menggunakan metode langsung baik besifat individual maupun kelompok yaitu pembimbing melakukan komunikasi secara langsung atau bertatap muka dengan lansia dalam kegiatan berupa, kajian pagi, dzikir bersama, tahsin dan tahfidz dengan menggunakan teknik persuasive. Adapun materi yang disampaikan berupa ibadah (shalat), ilmu fiqih, aqidah, akhlak, sejarah, dan tafsir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perubahan yang signifikan pada lansia setelah mengikuti kegiatan bimbingan agama Islam, mulai dari fokus dalam beribadah, mampu bersosialisasi dengan baik, mengaji, mengerti tujuan dari kehidupan, dan menerima takdir. Item Type: Thesis (Undergraduate (S1)) Uncontrolled Keywords: Bimbingan Agama Islam; Psikososial Lansia; Pondok Pesantren Subjects: 200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.7 Propagation of Islam200 Religion (Class here Comparative religion) > 290 Other religions > 297 Islam and religions originating in it > 297.7 Propagation of Islam > 297.74 Dakwah Divisions: Fakultas Dakwah dan Komunikasi > 70232 – Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Depositing User: Ana Afida Date Deposited: 10 Jun 2023 05:11 Last Modified: 10 Jun 2023 05:11 URI: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/19944 Sumber : Walisongo Repository
Pembuatan Toilet Aula Raden Rahmat
Pengecoran Jalan Masjid Al Karimiyah
Kegiatan Santri dalam Kelas
Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Tempat Para Lansia Belajar Ilmu Agama
Belajar tak pernah memandang usia. Contohnya di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat yang berada di Desa Gedong, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Diketahui, rata-rata santri yang belajar di pesantren itu ternyata kalangan orang dewasa dan lanjut usia (lansia). Adalah Ahmad Winarno. Pria asal Desa Gedong yang menjadi sosok penggagas berdirinya pesantren lansia tersebut. Diceritakan, pendirian pesantren lansia itu berawal setelah dirinya pulang merantau dari Bekasi dan Jakarta. “20 tahun lamanya saya merantau, dan pada 2017 saya memutuskan untuk pulang kampung. Saat kembali ke kampung, saya melihat banyak sekali permasalahan masyarakat. Salah satunya yang membuat saya tersentuh adalah banyaknya kaum lansia yang terlantar,” ungkap Winarno sebagaimana dikutip dari Solopos. Winarno juga mengaku sangat prihatin saat melihat para lansia yang hidup nyaris tanpa perhatian. Terlebih lagi banyak masyarakat yang menilai bahwa para lansia itu sebagai warga negara kelas dua yang dianggap sudah tidak produktif lagi. Selain itu, ada juga alasan pribadi yang membuatnya berinisiatif untuk membangun pesantren lansia tersebut. Alasan pribadinya itu yakni dilatarbelakangi ibunya yang baru masuk Islam dan belum bisa mengaji. “Niat awal saya sebenarnya sederhana, yaitu ingin menemani ibu yang masuk Islam paling akhir tetapi belum bisa mengaji. Di sisi lain salatnya saya juga masih belum bagus. Oleh karena itulah, saya berinisiatif untuk mendirikan Tempat Pembelajaran Quran (TPQ) lansia agar ibu punya teman belajar agama,” terangnya. Berawal dari TPQ lansia itulah yang dikemudian hari menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Winarno pun selanjutnya bekerjasama dengan Ustadz Solikin selaku petugas layanan lansia kecamatan Banyubiru. “Kami bertukar gagasan, hingga pada akhirnya terbayanglah sebuah lembaga yang memberikan layanan kepada warga lansia secara komprehensif, yaitu dari olah rogo, olah jiwa, dan olah roso, jelasnya. Pada 2018, TPQ lansia yang sangat sederhana itu akhirnya berubah menjadi Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat dan membuat banyak santri mulai berdatangan untuk mondok di tempat tersebut. Winarno menuturkan banyak santri lansia yang datang itu bukan hanya dari Semarang dan sekitarnya, akan tetapi juga dari berbagai kota di Indonesia, seperti Surabaya, Jakarta, Padang, Balikpapan, Palu, hingga Gorontalo. “Ada juga santri yang sudah betah di sini, sampai beberapa kali Ramadan dia tidak pulang. Sehingga, anaknya yang justru di suruh ke sini,” tuturnya. Di sisi lain, Winarno sendiri ingin mengembangkan kembali Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Mulai dari dengan membangun lebih banyak lagi tempat atau kamar untuk santri, hingga pendirian sekolah yang dijadikan sebagai tempat untuk merawat para lansia. Sumber : (koropak.co.id)
Ajarkan Ilmu Agama dengan Olah Rogo, Olah Jiwo, dan Olah Roso
Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat (PKRR) cukup unik. Karena santri didominasi lansia. Ponpes ini mengedepankan olah rogo, olah jiwo, dan olah roso, dalam mengajarkan ilmu agama Islam. Ponpes lansia ini berada di lereng Gunung Gajah Mungkur. Tepatnya di Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru. Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat melayani para lansia yang ingin belajar agama Islam. Tidak sekadar memberi ilmu keislaman, tapi juga mengajarkan tentang bagaimana mengolah jiwa dan rasa agar hidup lebih damai dan ikhlas. “Itulah pendekatan yang coba kami berikan dalam upaya untuk mempersiapkan mereka di akhir kehidupannya mencapai khusnul khotimah,” kata Direktur PKRR, Ustad Muhammad Sholikin. Pendekatan olah rogo dalam hal ini adalah bagaiman cara menyiapkan raga para lansia untuk bisa tetap sehat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Khususnya dalam beribadah kepada Allah SWT. “Yang kemudian kita masukkan dalam ranah olah jiwo, ” lanjutnya. Olah jiwo merupakan pendekatan yang dilakukan agar jiwa para lansia bisa menjadi tenang. Karena jiwa mereka di akhir kehidupan tidak sedikit yang sering merasakan galau, cemas, dan gelisah. Ramadan ini merupakan momentum untuk memperbanyak amalan, sehingga jiwa para lansia menjadi lebih tenang dengan mengingat Allah SWT. “Sehingga nanti olah roso akan tercipta, bagaimana mereka bisa mendekatkan diri dengan Allah SWT. Dan bisa bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat, ” ujarnya. Selama Ramadan, PKRR terdapat beberapa kegiatan kelas untuk para lansia. Serta sesuai dengan tiga pendekatan yang menjadi motto dari pesantren lansia ini. Kegiatan dimulai dari pukul 03.00 WIB. Dimana para lansia melakukan sahur bersama dilanjutkan salat subuh berjamaah. Setelah itu, mereka mengikuti kajian pagi. “Agar bagaimana mereka selalu mendapatkan siraman rohani dan ilmu pengetahuan terutama bekal untuk perbaikan ibadah mereka, ” ungkapnya. Sesuai kajian berakhir, para lansia akan melakukan sorogan atau setoran bacaan atau hafalan surat. Serta tidak jarang pula diselingi dengan olahraga-olahraga ringan setelah melakukan sorogan. Agar menjaga sensor motorik halus maupun motorik kasarnya. “Siang hari mereka dikasih kesempatan untuk beristirahat. Setelahnya masuk ke dalam kelas untuk mengikuti Tahsinul Quran,” tambahnya. Melatih Lansia Fasih Baca Alquran Direktur PKRR, Ustad Muhammad Sholikin mengaku terus berkomitmen agar para lansia bisa lancar bacaan Alquran. Sesuai aturan dalam agama Islam. Selama Ramadan, pesantren juga menggelar berbagai kegiatan untuk menunggu buka puasa atau ngabuburit. Seperti bermain rebana, membuat kerajinan tangan, bermain game sehat dan mengolah sampah menjadi benda yang memiliki nilai yang berguna. “Selepas itu melakukan buka bersama yang akhirnya sampai saat tarawih bersama dan tadarus Alquran, ” jelasnya. Ramadan kali ini terdapat 20 santri bermukim di PKRR. Mereka berasal dari berbagai kota. Seperti Semarang, Surabaya, Padang, hingga palu. Selain itu terdapat santri yang sudah bermukim di pesantren selama beberapa tahun dan ada juga uang mengikuti kegiatan selama bulan Ramadhan saja. “Ada juga santri kalong atau tidak menetap sekitar 25 orang. Kalau dijumlah yang ikut kegiatan Ramadan bisa mencapai 50 orang,” paparnya. Salah satu santri asal Semarang, Mardiyanti Pudji Astuti mengaku senang bisa mengikuti kegiatan Ramadan di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Ia bisa belajar berbagai hal tentang Alquran dan bisa mengikuti kegiatan yang lainnya bersama santri yang lain. “Saya belajar Alquran dari awal sampai ikut tadarusan. Kalau belum bisa ya ngikutin saja,” katanya. Ia mengaku awalnya hanya ingin mengikuti kegiatan Ramadan di PKRR dua minggu. Tapi karena merasa nyaman memperpanjang waktu untuk berada di pesantren tersebut. “Menjadi santri menjadikan saya semakin dekat dengan Allah. Senang juga bisa bareng-bareng, memperbanyak dzikir dan salat sunnah,” akunya. (nun/zal) Sumber: Radar Semarang (jawapos.com)