SEMARANG — Majelis Pesantren dan Ma’had Da’wah Indonesia (Mapadi) Jawa Tengah bekerjasama dengan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat (PPKRR) menggelar Workshop Tata Kelola Manajemen Ponpes Lansia di hotel Candi Indah Semarang, Sabtu 2 Desember 2023. Kegiatan yang di dukung oleh Lazis Jateng ini akan berakhir pada Minggu 3 Desember 2023. Tujuanya adalah untuk membekali Pondok Pesantren yang selama ini melayani santri usia remaja agar memiliki kemampuan tambahan memberikan pelayanan kepada santri dewasa dan lansia Dalam workshop yang digelar ini terdapat tantangan tersendiri dalam memberikan pengasuhan dan pelayanan kepada lansia. Di antaranya, minimnya ketersediaan pengasuh sekaligus pendamping lansia, belum tersedianya rancangan kurikulum khusus untuk lansia, Sarana prasarana yang minim, pendanaan yang belum mencukupi hingga mitos bahwa memondokan lansia ke pesantren masih terkesan tidak mau mengurus orang tua. Workshop ini di ikuti oleh 100 pengasuh dan pengelola pesantrena utusan dari pesantren yang ada di pulau jawa. Dr. Ahmad Mifdlol Muthohar, ketua MAPADI mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai upaya inovasi agar Pondok Pesantren memiliki perhatian yang baik dan mempunyai manajemen sistem yang unggul. “Khususnya dalam upaya menjaga Aqidah para orang tua hingga kelak pulang dengan penuh bahagia, melalui pesantren lansia,” paparnya. Menurutnya saat ini di Indonesia terdapat 60 juta pra lansia, 36 juta lansia Dari jumlah itu 12,6 juta diantara dalam status pra sejahtera. Selain menyandang status prasejahtera para lansia juga mengalami gangguan mental psikologis, disebabkan kurang siap menghadapi perubahan kehidupan pasca pensiun atau menurunnya kesehatan fisik. Maka di sinilah kehadiran pesantren lansia diperlukan untuk menjaga para lansia agar tetap berpartisipasi aktif baik dalam keluarga, masyarakat maupun negara dengan berbagai cara, melalui pendekatan pembelajaran yang holistik, komprehensif dan integratif. Konsep aktif & produktif serta agamis bertujuan meningkatkan umur Lansia dalam keadaan sehat, kualitas hidup yang prima, Sehat dan religius, ujar Mohmad Solikin, AMK, Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Musliadi, S.Th.I, salah satu peserta perwakilan dari DPP Hidayatullah mengatakan dirinya sangat senang bisa menghadiri acara workshop ini. “Hidayatullah ini memiliki 650 lebih panti dan pesantren, setelah mengkuti workshop ini saya akan mengkonsultasikan kepada jajaran pengurus agar kedepannya konsep pesantren lansia ini menjadi salah satu fokus layananan di Pesantren dan Panti-Panti dibawah binaan Hidayatullah” ujarnya. Acara ini juga dihadiri dinas terkait , Dinas Sosial Kabupaten Semarang, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dan Kementrian Agama Propinsi Jawa Tengah
KitaBelajar: Kios Pintar berbasis Self-Service Technology untuk Peningkatan Kualitas Hidup Komunitas Lansia
BANDUNG, itb.ac.id — Sebagai kelompok yang tidak lagi produktif, intervensi pendidikan dinilai mampu meningkatkan kualitas hidup para lansia. Maka dari itu, Kios Pintar “KitaBelajar” hadir sebagai bentuk Self-Service Technology (SST) untuk membantu lansia dalam belajar mandiri. Kios Pintar “KitaBelajar” merupakan hasil rancangan Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., CPE., bersama dua mahasiswa Teknik Industri yang dihibahkan untuk Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat di Kabupaten Semarang. Ide perancangannya dilatarbelakangi oleh fakta bahwa kelompok lansia di Indonesia akan mencapai 20% dari total populasi penduduk pada tahun 2045. Dalam gelar wicara Karsa Loka Vol. 29, Prof. Yassierli bercerita tentang “Kios Pintar Lansia untuk Peningkatan Quality of Life Komunitas Lansia” pada Jumat (28/7/2023). Prof. Yassierli sendiri merupakan Guru Besar dari KK Ergonomi, Rekayasa Kerja, dan Keselataman Kerja Fakultas Teknologi Industri. Desain Kios Pintar “KitaBelajar” disesuaikan dengan karakteristik lansia berdasarkan prinsip perancangan ergonomis. Penilaian karakter lansia diukur dari kemampuan maupun keterbatasan fisik, psikologis, kognitif, motorik, dan lain lain. Spesifikasi karakteristik ini digunakan untuk membedakan kebutuhan lansia dengan kelompok pengguna lain melaui proses perancangan yang memperhatikan pengguna atau User-Centered Design (UCD). Harapannya, desain kios pintar yang tercipta akan mampu menjadi fasilitas belajar yang nyaman bagi lansia untuk mengisi waktu luang mereka. Prof. Yassierli menjelaskan, “Dari segi antropometri dan dimensi sudah kami coba yang paling pas untuk mereka; ketinggian, jarak pandang, ukuran huruf, jangkauan, dan seterusnya, kami perhatikan itu. Modul-modul tampilannya seperti apa, background warna, font, pilihan kata, hingga interaksi di dalamnya juga sudah disesuaikan.” Menurut Prof. Yassierli, perbedaan karakteristik lansia dengan kelompok usia lain menjadi tantangan utama dalam mewujudkan desain kios pintar ini. Selain itu mayoritas lansia yang tidak familier terhadap teknologi kerap kali mengalami technology anxiety sehingga berpotensi membuat kios pintar ini kurang diminati. Oleh karena itu, perancangan sistem Kios Pintar “KitaBelajar” diarahkan ke dalam bentuk gamifikasi yang interaktif dan menyenangkan untuk menurunkan kecemasan teknologi bagi para lansia Melalui gamifikasi, kegiatan belajar lansia dikemas dalam suatu konsep gim dengan adanya level dan progres, tantangan harian, serta pemberian hadiah dalam bentuk poin. Poin yang telah terkumpul nantinya dapat ditukarkan oleh pengguna menjadi uang sedekah untuk pihak yang lebih membutuhkan. Konsep seperti ini diharapkan semakin memotivasi para lansia untuk belajar sambil beribadah menggunakan Kios Pintar “KitaBelajar”. “Kombinasi teks dan video dalam gamifikasi sudah dicek dan dilakukan testing, hasilnya kepuasan dari pengguna sudah baik dan skala keterlibatan pengguna meningkat dengan adanya gamifikasi,” ungkap Prof. Yassierli. Gelar wicara Karsa Loka digelar untuk mempublikasikan hasil kerja sama terbaru LPPM ITB dengan Laboratorium Design Ethnography FSRD. Reporter: Hanifa Juliana (Perencanaan Wilayah dan Kota, 2020) Sumber : (itb.ac.id)
KEMAH KEMANUSIAAN PARA CALON PERAWAT LANSIA
UNGARAN – Lima puluhan peserta yang semuanya anak muda, tampak duduk melingkar di tengah hamparan rumput terbuka. Dengan antusias, mereka menyimak paparan trainer dari Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Itulah suasana Kemah Kemanusiaan angkatan IX yang digelar di Bumi Perkemahan Pramuka Wredha Raden Rahmat, Selasa-Rabu (25-26/7), Dusun Gedong, Banyubiru. Kemah Kemanusiaan yang diikuti oleh para calon Caregiver LPK Serbaindo. Kemah Kemanusiaan ini merupakan kegiatan peserta magang caregiver ke Jepang, yang diikuti oleh siswa baru binaan LPK Serba Indo yang bermitra dengan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Kepala LPK Serba Indo sekaligus inisiator kegiatan Kemah Kemanusiaan, Iman Abdul Rahman mengakui, kegiatan di alam terbuka adalah salah satu cara menguji keberanian sekaligus melatih kemandirian serta daya tahan para caregiver sebelum mereka memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. “Kami ingin, kegiatan ini dapat melatih anak-anak agar tangguh, berani dan mandiri dalam menghadapi tantangan zaman.”, ujarnya dalam Apel Siaga (25/7). Senada dengan Iman, Ketua Yayasan Pitutur Luhur, Ahmad Winarno, sekaligus inisiator Pesantren Lansia inj mengatakan bahwa untuk memenuhi permintaan Caregiver yang melonjak tinggi seiring pertambahan lansia di dunia maupun di Indonesia, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat menggalakkan kelas-kelas caregiver. Sebagai catatan, jumlah lansia di Indonesia saat ini sekitar 26 juta jiwa, dan angka ketergantungan lansia 1:7, satu lansia non mandiri sangat tergantung kepada 7 orang yang mandiri. Untuk itu perlu terciptanya lulusan Sekolah caregiver yang tangguh, mandiri dan memiliki keterampilan yang mumpuni. “Kemah ini melatih rasa kemanusiaan, kemandirian sekaligus mengasah keterampilan merawat lansia.”, ujarnya usai memberikan sambutan dalam pembukaan Kemah Caregiver, Selasa (26/7). Kegiatan dengan konsep semi Pramuka ini memiliki jadwal yang cukup padat. Mulai dari susur sungai, memasak di alam terbuka, permainan dan api unggun. Selain kegiatan outbound para peserta diajak di ajak saba desa yaitu berkunjung ke desa sekitar bumi perkemahan mengunjingi para lansia yang akan dijadikan tempat praktek lapangan saat pembelajaran berlangsung sekaligus mengasah jiwa kepeduliannya. Aji, ketua panitia mengatakan, semua kegiatan sudah disepakati sebelum datang ke lokasi kemah, dengan tujuan penguatan mental dan mengasah keterampilan hidup di alam terbuka.”meski jadwal padat, banyak bermain di alam terbuka, namun disiplin dan patuh pada waktu dan kegiatan yang sudah disepakati adalah tujuan utama kegiatan ini.”, tukasnya dalam wawancara singkat Selasa (25/7). Rencananya, kegiatan ini akan menjadi program berkala sekolah caregiver, untuk menghasilkan SDM caregiver profesional dan berkelas dunia, namun tetap menyenangkan karena dilakukan di alam terbuka (DQ)
KIOS PINTAR LANSIA UNTUK PENINGKATAN QUALITY OF LIFE KOMUNITAS LANSIA
Indonesia sedang menuju aging society. Jumlah proporsi usia lansia terhadap total populasi meningkat signifikan tiap tahun. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ITB 2022 ini dilaksanakan untuk mengembangkan “kiosk belajar” mandiri bagi lansia. Pengambilan data dan implementasi hasil rancangan dilakukan pada Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang. Pesantren lansia ini telah menjadi salah satu percontohan wisata religi di Jawa Tengah. Kiosk belajar ini merupakan Self-Service Technology (SST) yang dianggap lebih cocok untuk para lansia dibandingkan dengan komputer, tablet atau pun gadget lainnya dengan fitur yang kompleks dan tampilan huruf/ikon yang kecil. Berbagai riset menunjukkan banyaknya lansia yang mengalami kecemasan, frustasi dan kebingungan saat menggunakan komputer. Tantangan utama adalah memastikan kiosk yang dirancang friendly, sederhana dan mudah digunakan, dan memberikan motivasi untuk berinteraksi lebih lanjut. Rancangan kiosk yang dilakukan meliputi rancangan perangkat keras, aplikasi platform operasi dan 10 modul konten pembelajaran (olah jiwa, raga, dan rasa). Perancangan kios pintar “Kita Belajar” dilakukan dengan pendekatan Human-Centered Design (ISO 9241-210:2010) dengan uji usabilitas secara berulang. Gamifikasi dipilih sebagai solusi untuk meningkatkan engagement lansia dengan kiosk. Hasil pengujian pada sistem gamifikasi menunjukkan terdapat peningkatan skor keterlibatan lansia berdasarkan nilai UES SF (User Engagement Scale Short Form). LPPM ITB bekerjasama dengan Design Ethnography Lab. FSRD ITB mengelola gelar wicara bertajuk Karsa Loka Vol. 29, dengan tema “Kios Pintar Lansia untuk Peningkatan Quality of Life Komunitas Lansia”. Sumber : (itb.ac.id)
Cerita Agung BM, Legislator Muda yang Peduli Lansia
Kabupaten Semarang, Pernah mencatatkan sejarah sebagai Anggota Dewan termuda tahun 2004, saat menjadi Anggota Legislatif DPRD Kota Semarang selama 3 periode, nama Agung Budi Margono mulai dilirik publik saat beliau secara intens dan konsisten menjadi wakil rakyat selama 15 tahun dengan advokasi dan tingkat kepedulian yang tinggi kepada masyarakat , salah satunya kepeduliannya kepada para lanjut usia (lansia). Perjumpaan perdananya dengan Ahmad Winarno pada awal 2018 lalu menjadi awal keterlibatan Agung dalam sebuah lembaga yang khusus melayani para lansia. Agung menceritakan pengalamannya berkunjung ke Ponpes Lansia Darus Syifa, Jombang, yang dikelola keluarga Gus Ipul (mantan Wagub Jawa Timur). Agung pun mendorong Ahmad Winarno melakukan study komprehensif tentang dunia kelansiaan ke sejumlah pesantren lansia di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hasilnya, Ahmad Winarno menemukan ada sejumlah “lobang” yang belum terisi. Pesantren lansia yang ada di Indonesia rata-rata hanya berupa majelis taklim, atau kursus-kursus singkat yang tak menjawab kebutuhan pokok lansia. Belum ada sebuah pesantren lansia yang menyediakan layanan secara komprehensif, dari spiritual, psikologis, kesehatan hingga pemberdayaan sehingga para lansia tetap produktif di usia senjanya. Pertengahan 2018 berdirilah Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, sebuah pesantren yang khusus melayani lansia. Selaku anggota dewan, Agung Budi Margono melalui kewenangannya memberikan perhatian terhadap lansia. Sejak awal berdiri ia terus mendampingi perjalanan pesantren khusus lansia yang berlokasi di Desa Gedong Kecamatan Banyubiru Semarang itu. Dengan kurukulum Rojiro (Olah Rogo, Olah Jiwo, Olah Roso) Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat pun memposisikan diri sebagai lembaga yang melayani para lansia secara, holistik, integratif dan komprehensif, agamis, medis dan psikologis. Harapannya, di ujung usia senjanya, lansia tetap produktif, mandiri, sehat, memiliki dan spiritual yang baik. Saat ini Indonesia memiliki 36 juta lansia, 6 juta diantaranya berada di Provinsi Jawa Tengah, 12,6 jt Lansia Indonesia berada dalam status prasejahtera 3.500 diantaranya berada di kecamatan Banyubiru. Saat ini Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat membina 800 lansia yang tersebar di sejumlah Kecamatan di Kabupaten Semarang. Pesantren lansia ini memberikan pembinaan yang holistik, komprehensif, integratif pelayanan kesehatan, pembinaan spiritual dan pendampingan sosial. Hingga hari ini, Pesantren Lansia terus berkolaborasi dan berkoordinasi dengan elemen-elemen pemerintah dalam upaya untuk terus mendorong kepedulian masyarakat terhadap isu-isu kelansiaan yang kerap absen dalam isu-isu pembangunan nasional. Program Lansia ini sedang dikembangkan menjadi; Lansia Institute, Sekolah Vokasi Care Giver, RELASI (Relawan Lansia Indonesia), Senior Living, Senior Memorial Park, Senior Clinic, dan Pusat Pemberdayaan Lansia. Sebagai pribadi yang peduli terhadap masalah-masalah sosial, Agung yang saat ini menjabat sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Jawa Tengah ini melihat pesantren lansia ini sebagai solusi yang brilian di tengah terus bertambahnya jumlah lansia di Indonesia, terutama lansia dhuafa yang sering luput dari perhatian. Sebagai anggota dewan, Agung juga kerap memfasilitasi jaringan donasi, baik dengan pihak swasta maupun pemerintah. Karena keberadaan Pesantren Lansia juga berkontribusi dalam menyukseskan program Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan terutama pada sektor kelansiaan.
Hari Lansia Nasional, Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat Gelar Pesantren Kilat Lansia
Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang punya cara tersendiri dalam menyambut Hari Lansia Nasional yang jatuh pada 29 Mei nanti. Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Muhamad Solikin mengatakan momen Hari Lansia Nasional tahun ini terasa spesial sebab bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Solikin menjelaskan, momen Hari Lansia Nasional memang belum banyak dikenal masyarakat seperti hari-hari besar nasional lainnya. Tetapi sejarah besar Hari Lansia Nasional harus terus digelorakan agar para lansia di Indonesia terus mendapatkan hak-haknya. “Untuk itu agar semakin semarak kami menggelar program Ramadhan Mulia sebagai bagian dari peringatan Hari Lansia Nasional,” papar Solikin di Semarang, Kamis (17/5). Solikin melanjutkan, program Ramadhan Mulia di Pondok Pesantren Kasepuhan Rahmat bertujuan agar para lansia bisa menjadi pribadi yang kuat di usia senjanya. “Agar mereka bisa olah rogo, olah jiwo dan olah roso di bulan Suci ini,” kata Solikin. Lebih jauh Solikin menguraikan, para peserta Ramadhan Mulia akan mendapatkan pelajaran agama semisal akidah, fikih ibadah, tahsin Alquran dan mujahadah. Selain itu para lansia akan dituntun untuk membiasakan diri shalat berjamaah di masjid, tarawih, sahur dan buka bersama serta hafalan surat pilihan. “Tarawih tidak hanya di pesantren saja tetapi kita ajak tawarih keliling. Agar tidak bosan kita adakan tafakur alam dan bukber bareng warga,” terang Solikin. Menurut Solikin, kegiatan Ramadhan Mulia bisa diikuti Muslim dan Muslimah siapa saja yang sudah berusia 45 tahun ke atas. Kegiatan ini, papar Solikin, juga tidak akan berlangsung satu bulan penuh tetapi dari 26 Mei hingga 2 Juni 2018. “Jika selama ini yang ikut pesantren kilat hanya anak-anak, kini para lansia juga bisa mengikuti dengan teman-temannya. Dengan ibadah bersama kita harapkan para lansia agar tambah bersemangat sehingga secara sosial akan membantu kehidupan mereka,” paparnya.
PKRR Siapkan Care Giver dengan Pola Pelatihan Holistik
Mr Noubuki Tsuji, Exceed Business Cooperative Jepang itu tampak terkesima begitu melihat dari dekat wajah Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat (PKRR). Pria asli Negeri Sakura itu memang baru pertama kali berkunjung ke tempat itu. Ia membayangkan, bangunan sekolah Caregiver Raden Rahmat yang menjadi mitranya sejak 2019 ini seperti umumnya lembaga pelatihan di Indonesia. Suasana pedesaan yang sejuk berikut bangunan pesantren yang eksotis segera membuatnya betah berlama-lama di sini. Kunjungan Mr Nobuki ke PKRR bersama mitra strategisnya LPK Serbaindo ini adalah untuk melihat langsung proses pelatihan tenaga-tenaga cargiver. Sebagai perusahaan penyalur tenaga kerja caregiver profesional di Jepang, Mr Nobuki ingin memastikan bahwa calon caregiver yang hendak dikirim ke Jepang telah dididik sesuai standar kompetensi. “Saya sangat senang dengan pola magang di Caregiver Raden Rahmat ini. Di mana lansia dan anak-anak magang dilayani secara manusiawi sehingga menghadirkan kebahagiaan yang alami tanpa kepalsuan,” kesannya dengan nada serius.Dalam obrolan yang gayeng dengan sejumlah pengurus Pesantren Kasepuhan, Mr Nobuki juga menyatakan kesepahamannya dengan pola pelayanan di Pesantren Kasepuhan yang menekankan faktor spiritualitas. “Pelayanan spiritual menjadi faktor penting untuk pengobatan dengan pendekatan holistik.” Terinspirasi Legenda JepangAhmad Winarno, pendiri Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, saat ditanya Mr Noubuki Tsuji mengapa memilih lokasi pegudungan untuk mendirikan lembaga pelayanan lansia ini, menjelaskan bahwa ia terinspirasi dari legenda di Jepang yang hidup sekitar Abad 6. Dalam legenda itu diceritakan, pada masa itu ada tradisi membuang orang yang sudah renta di hutan atau gunung-gunung. Tradisi itu adalah Ubasute yang berarti pembuangan. Peraturan itu dibuat oleh sang Raja, dan semua rakyat harus patuh. Namun ada seorang menterinya yang masih punya hati nurani memilih menyembunyikan orang tuanya di bungker. Hingga singkat cerita Sang Raja akhirnya mengetahui tindakan menterinya itu. Setelah sang menteri menjelaskan alasannya, Sang Raja insaf lalu melarang tradisi Ubasute itu. “Dengan mengambil tempat di pegunungan, dengan suasana alam pedesaan yang permai dihiasi hamparan sawah, kami berharap para orang tua dapat menemukan kesejatian hidupnya. Yaitu pulang ke akhirat dengan penuh bahagia,” tutur Winarno. Sekolah Caregiver yang HolistikBerbeda dari sekolah Caregiver pada umumnya yang hanya menekankan materi dalam kelas, Raden Rahmat Caregiver menekankan praktik langsung di lapangan. Hal ini dimungkinkan karena sekolah caregiver yang menjadi unit Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memiliki binaan 800 lebih lansia di Semarang. Sejak 2019, Sekolah perawat lansia (caregiver) sudah menerima peserta magang dari sejumlah lembaga pelatihan kerja perawat lansia dengan penempatan di luar negeri, salah satunya LPK Serbaindo Salatiga. Hingga saat ini Sekolah Care Giver Raden Rahmat sudah memiliki alumi kurang lebih 250 Care Giver yang ditempatkan di dalam negeri maupun luar negeri, khususnya Jepang,Bahkan pada 2020 Care Giver Raden Rahmat menjadi Tempat Uji Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi, dan telah mensertifikasi 25 tenaga care taker yang di tugaskan di enam kecamatan untuk melayani 800 lansia. Pimpinan LPK Serbaindo, Iman Abdul Rahman, S.S., mengatakan kerjasama dengan PKRR telah dilakukan sejak 5 tahun lalu.“Kami percayakan PKRR sebagai tempat pelatihan dan magang anak-anak kami, agar mereka memiliki keterampilan yang baik dalam merawat lansia. Ini merupakan kerjasama strategis, untuk menyiapkan SDM Care Giver yang memiliki kempuan Pelayanan Holistik, komprehensif dan integratif,” ujarnya dalam kesempatan tersebut. Ketua Yayasan Pitutur Luhur, Ahmad Winarno mengatakan kerjasama ini bertujuan untuk melatih dan mencetak SDM perawat lansia yang memiliki standar pelayanan profesional dengan pendekatan medis, psikologis, dan agamis.“Pelayanan berbasis penyatuan diri dengan alam semesta. Walau raga telah menua, namun ruhaninya seakan terlahir kembali sehingga kebugaran dan kebahagiaan tetap terjaga, hingga kelak waktu berpulang penuh bahagia,” pungkas Winarno.
Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Siapkan 200 Care Giver untuk Temani Lansia Menua dan Mendewasa Spiritualnya”
UNGARAN – Sebagai salah satu lembaga yang fokus pada pelayanan terhadap lansia, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat sejak 2018 telah merintis sekolah untuk perawat lansia (caregiver), dan mulai 2019 sudah menerima peserta magang dari beberapa LPK Perawat Lansia. Salahsatunya dari lembaga pelatihan kerja perawat lansia (caregiver) dengan penempatan di luar negeri, LPK Serbaindo Salatiga. Diusianya yang ke lima tahun ini Sekolah Caregiver Raden Rahmat sudah memiliki alumi kurang lebih 250 Care Giver yang ditempatkan di dalam negeri maupun luar negeri khususnya Jepang. Bahkan ditahun 2020 menjadi TUK BNSP, Tempat Uji Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi, dan telah mensertifikasi 25 tenaga care taker yang di tugaskan di enam kecamatan untuk melayani 800 lansia binaan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Pimpinan LPK Serbaindo, Iman Abdul Rahman, S.S. mengatakan kerjasama dengan PKRR telah dilakukan sejak 5 tahun lalu, ini merupakan kerjasama strategis, untuk menyiapkan SDM Care Giver yang memiliki kempuan Pelayanan Holistik, komprehensif dan Integratif. “Kami percayakan PKRR sebagai tempat pelatihan dan magang anak-anak kami, agar peserta didik kami memiliki keterampilan yang baik dalam merawat lansia.”, ujarnya dalam kesempatan tersebut. Ketua Yayasan Pitutur Luhur, Ahmad Winarno mengatakan kerjasama ini bertujuan untuk melatih dan mencetak SDM perawat-perawat lansia yang mumpuni, memiliki standart pelayanan yang profesional dengan pendekatan Medis, Psikologis, dan Agamis. Pelayanan disini mengutamakan penyatuan diri dengan alam semesta, agar lansia walau sudah menua fisiknya namun ruhaninya seakan baru terlahir kembali, bersama alam ia akan terus hidup lebih lama dan semakin bahagia menanti hari kepulangannya kepada sang penciptanya. “World Happiness Report 2023, merilis negara-negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi, ternyata salah satu indikatornya adalah mengutamakan sisi spiritual dalam berkehidupan dan penyatuan setiap warganya dengan alam semesta ini.”, tuturnya. Dalam kunjungan tersebut, LPK Serbaindo juga membawa serta mitra kerjanya untuk penempatan Caregiver di Jepang, Exceed Business Cooperative, Noubuki Tsuji. Dalam kesempatan tersebut Noubuki Tsuji menyampaikan bahwa Pelayanan spiritual menjadi faktor penting untuk pengobatan dengan pendekatan holistik. Saat ditanya Noubuki Tsuji, mengapa anda memilih lokasi digunung untuk mendirikan lembaga pelayanan lansia ini, Ahmad Winarno menyampaikan, ia terinspirasi dari bijaksananya salah satu Raja Jepang, mendidik dan melarang masyarakat jepang agar tidak lagi melakukan Ubasuteyama.Ada cerita legenda rakyat jepang di masa lampau, tentang tradisi membuang orang tua yang sudah renta ke hutan di sebuah gunung. Orang Jepang menyebutnya Ubasuteyama.Ubasute berarti pembuangan, dan Yama berarti gunung. Dengan mengambil tempat di alam nan eksotis, dilereng gunung Gajahmungkur dengan pemandangan hamparan Rawapening dan sawah nan indah, namun tetap agamis, Winarno berharap Pesantren Kasepuhaan Raden Rahmat mampu membidani lahir dan tumbuhnya kembali ruhani para orang tua, mampu menemukan jalan pulang penuh bahagia, tutur Winarno dalam penjelasannya.
Lazis Jateng dan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Bina 800 Lansia Kabupaten Semarang
Puluhan lansia tampak duduk bersila di atas karpet sebuah masjid yang tidak terlalu besar. Dengan khidmat dan sesekali diselingi gelak tawa mereka mendengarkan ceramah Ustad Solihin, Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Kabupaten Semarang. Para jamaah itu mayoritas berusia di atas 60 tahun. Mereka adalah warga Dusun Pancuran Desa Banyubiru. Dusun terpencil di lereng Gunung Kendil di ketinggian 900 mdpl, dengan jalan terjal dan jurang nan dalam di kanan kirinya. Itulah suasana guyup yang jamak ditemui dalam kegiatan salah satu rombel (rombongan belajar) pesantren khusus lansia ini. Istilah rombel digunakan untuk santri-santri lansia kelas jauh luar asrama. Selain santri yang mukim di pesantren, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memiliki 775 santri binaan yang tersebar di 13 rombel di 13 desa dalam 6 kecamatan. Di Kabupaten Semarang sendiri, saat ini tercatat 140.000 lansia dari total satu juta penduduk. Mereka mayoritas berlatar sosial ekonomi pra-sejahtera dengan profesi rata-rata petani ladang kecil atau buruh tani. Problem ekonomi, kesehatan dan spiritual memang menjadi masalah utama para lansia tersebut. Di tiga ranah itulah Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat hadir memberikan solusi. Untuk masalah ekonomi, pesantren memberikan bantuan biaya hidup dengan menggalang dana sendiri atau bekerja sama dengan lembaga amil zakat. Untuk masalah kesehatan pesantren bekerjasama dengan dinas kesehatan setempat. Sementara untuk mencover kebutuhan spiritual, pesantren rutin melakukan pembinaan seperti pengajian-pengajian yang digelar rutin di setiap rombel, dengan suport 3 fakultas UIN Salatiga, Fakultas Dakwah, Fakultas Syariah dan FUADAH, Fakultas Usuludin Adab Hadits dan Humaniora Sinergi dengan Laziz JatengSeiring tingginya jumlah Lansia Dhuafa yang harus dilayani, Laziz Jateng hadir memberikan suport kepada Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat untuk membina 800 lansia binaan yang di 13 rombel. Agung Widodo, Pimpinan Kantor Layanan Lazis Jateng, Kabupaten Semarang menyampaikan, kerja sama strategis ini akan menjadi tonggak baru program layanan lansia khususnya di Semarang. “Dengan pengalaman 5 tahun menghadirkan program-program inovatif pelayanan lansia, kami mempercayakan titipan para donatur kami khususnya donatur program lansia untuk disalurkan kepada lansia binaan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Kami berharap dengan kerja sama ini, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat bisa mendampingi 10 rb lansia dari 140 rb lansia di kabupaten Semarang,” terangnya. Tidak hanya bekerja sama dengan lembaga penggalang dana, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmatpun bersinergi dengan Dinas terkait di Kabupaten Semarang untuk mengelola program-program lansia khususnya Dhuafa dan Terpencil. Salah satunya adalah perintisan sekolah khusus warga lansia. Tujuan sekolah ini adalah untuk membekali para lansia dengan berbagai pengetahuan. Embrio sekolah lansia ini adalah TPQ Lansia yang tersebar di 6 kecamatan. Yaitu Getasan, Jambu, Ambarawa, Banyubiru, Tuntang, Bancak dan Pabelan. “Satu sekolah sudah terbentuk di desa Gedong Banyubiru dan akan melakukan wisuda pada tahun ini,” kata Mohamad Solikin direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rajmat, Kabupaten Semarang. Saat ini PKRR juga tengah merintis pembukaan Pesantren Tetitarah yang rencananya akan dibuka di Daerah Wiru Kecamatan Bringin. Pesantren ini berfungsi untuk penyembuhan dan pemulihan lansia yang memerlukan perhatian khusus. Tasliyah (62 tahun) santri lansia asal dusun Gedong, merasa senang dengan program ini, karena banyak tetangganya yang sekarang rajin ngaji dan sholat. “Dulu kampung ini jarang yang bisa sholat dan mengaji, sejak adanya program TPQ Lansia ini, alhamdulillah lebih dari 80 % warga di Gedong ini sekarang rajin sholat dan rajin menganji”. Sumber : Berdaulat
Lazis Jateng dan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Bina 800 Lansia Kabupaten Semarang
Ambarawa – Puluhan lansia tampak duduk bersila di atas karpet sebuah masjid yang tidak terlalu besar. Dengan khidmat dan sesekali diselingi gelak tawa mereka mendengarkan ceramah Ustad Solihin, Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Kabupaten Semarang. Para jamaah itu mayoritas berusia di atas 60 tahun. Mereka adalah warga Dusun Pancuran Desa Banyubiru. Dusun terpencil di lereng Gunung Kendil di ketinggian 900 mdpl, dengan jalan terjal dan jurang nan dalam di kanan kirinya. Itulah suasana guyup yang jamak ditemui dalam kegiatan salah satu rombel (rombongan belajar) pesantren khusus lansia ini. Istilah rombel digunakan untuk santri-santri lansia kelas jauh luar asrama. Selain santri yang mukim di pesantren, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memiliki 775 santri binaan yang tersebar di 13 rombel di 13 desa dalam 6 kecamatan. Di Kabupaten Semarang sendiri, saat ini tercatat 140.000 lansia dari total satu juta penduduk. Mereka mayoritas berlatar sosial ekonomi pra-sejahtera dengan profesi rata-rata petani ladang kecil atau buruh tani. Problem ekonomi, kesehatan dan spiritual memang menjadi masalah utama para lansia tersebut. Di tiga ranah itulah Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat hadir memberikan solusi. Untuk masalah ekonomi, pesantren memberikan bantuan biaya hidup dengan menggalang dana sendiri atau bekerja sama dengan lembaga amil zakat. Untuk masalah kesehatan pesantren bekerjasama dengan dinas kesehatan setempat. Sementara untuk mencover kebutuhan spiritual, pesantren rutin melakukan pembinaan seperti pengajian-pengajian yang digelar rutin di setiap rombel, dengan suport 3 fakultas UIN Salatiga, Fakultas Dakwah, Fakultas Syariah dan FUADAH, Fakultas Usuludin Adab Hadits dan Humaniora Sinergi dengan Laziz JatengSeiring tingginya jumlah Lansia Dhuafa yang harus dilayani, Laziz Jateng hadir memberikan suport kepada Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat untuk membina 800 lansia binaan yang di 13 rombel. Agung Widodo, Pimpinan Kantor Layanan Lazis Jateng, Kabupaten Semarang menyampaikan, kerja sama strategis ini akan menjadi tonggak baru program layanan lansia khususnya di Semarang. “Dengan pengalaman 5 tahun menghadirkan program-program inovatif pelayanan lansia, kami mempercayakan titipan para donatur kami khususnya donatur program lansia untuk disalurkan kepada lansia binaan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Kami berharap dengan kerja sama ini, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat bisa mendampingi 10 rb lansia dari 140 rb lansia di kabupaten Semarang,” terangnya. Tidak hanya bekerja sama dengan lembaga penggalang dana, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmatpun bersinergi dengan Dinas terkait di Kabupaten Semarang untuk mengelola program-program lansia khususnya Dhuafa dan Terpencil. Salah satunya adalah perintisan sekolah khusus warga lansia. Tujuan sekolah ini adalah untuk membekali para lansia dengan berbagai pengetahuan. Embrio sekolah lansia ini adalah TPQ Lansia yang tersebar di 6 kecamatan. Yaitu Getasan, Jambu, Ambarawa, Banyubiru, Tuntang, Bancak dan Pabelan. “Satu sekolah sudah terbentuk di desa Gedong Banyubiru dan akan melakukan wisuda pada tahun ini,” kata Mohamad Solikin direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rajmat, Kabupaten Semarang. Saat ini PKRR juga tengah merintis pembukaan Pesantren Tetitarah yang rencananya akan dibuka di Daerah Wiru Kecamatan Bringin. Pesantren ini berfungsi untuk penyembuhan dan pemulihan lansia yang memerlukan perhatian khusus. Tasliyah (62 tahun) santri lansia asal dusun Gedong, merasa senang dengan program ini, karena banyak tetangganya yang sekarang rajin ngaji dan sholat. “Dulu kampung ini jarang yang bisa sholat dan mengaji, sejak adanya program TPQ Lansia ini, alhamdulillah lebih dari 80 % warga di Gedong ini sekarang rajin sholat dan rajin mengaji”.