Mr Noubuki Tsuji, Exceed Business Cooperative Jepang itu tampak terkesima begitu melihat dari dekat wajah Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat (PKRR). Pria asli Negeri Sakura itu memang baru pertama kali berkunjung ke tempat itu. Ia membayangkan, bangunan sekolah Caregiver Raden Rahmat yang menjadi mitranya sejak 2019 ini seperti umumnya lembaga pelatihan di Indonesia. Suasana pedesaan yang sejuk berikut bangunan pesantren yang eksotis segera membuatnya betah berlama-lama di sini.
Kunjungan Mr Nobuki ke PKRR bersama mitra strategisnya LPK Serbaindo ini adalah untuk melihat langsung proses pelatihan tenaga-tenaga cargiver. Sebagai perusahaan penyalur tenaga kerja caregiver profesional di Jepang, Mr Nobuki ingin memastikan bahwa calon caregiver yang hendak dikirim ke Jepang telah dididik sesuai standar kompetensi.
“Saya sangat senang dengan pola magang di Caregiver Raden Rahmat ini. Di mana lansia dan anak-anak magang dilayani secara manusiawi sehingga menghadirkan kebahagiaan yang alami tanpa kepalsuan,” kesannya dengan nada serius.
Dalam obrolan yang gayeng dengan sejumlah pengurus Pesantren Kasepuhan, Mr Nobuki juga menyatakan kesepahamannya dengan pola pelayanan di Pesantren Kasepuhan yang menekankan faktor spiritualitas. “Pelayanan spiritual menjadi faktor penting untuk pengobatan dengan pendekatan holistik.”
Terinspirasi Legenda Jepang
Ahmad Winarno, pendiri Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, saat ditanya Mr Noubuki Tsuji mengapa memilih lokasi pegudungan untuk mendirikan lembaga pelayanan lansia ini, menjelaskan bahwa ia terinspirasi dari legenda di Jepang yang hidup sekitar Abad 6.
Dalam legenda itu diceritakan, pada masa itu ada tradisi membuang orang yang sudah renta di hutan atau gunung-gunung. Tradisi itu adalah Ubasute yang berarti pembuangan. Peraturan itu dibuat oleh sang Raja, dan semua rakyat harus patuh. Namun ada seorang menterinya yang masih punya hati nurani memilih menyembunyikan orang tuanya di bungker. Hingga singkat cerita Sang Raja akhirnya mengetahui tindakan menterinya itu. Setelah sang menteri menjelaskan alasannya, Sang Raja insaf lalu melarang tradisi Ubasute itu.
“Dengan mengambil tempat di pegunungan, dengan suasana alam pedesaan yang permai dihiasi hamparan sawah, kami berharap para orang tua dapat menemukan kesejatian hidupnya. Yaitu pulang ke akhirat dengan penuh bahagia,” tutur Winarno.
Sekolah Caregiver yang Holistik
Berbeda dari sekolah Caregiver pada umumnya yang hanya menekankan materi dalam kelas, Raden Rahmat Caregiver menekankan praktik langsung di lapangan. Hal ini dimungkinkan karena sekolah caregiver yang menjadi unit Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memiliki binaan 800 lebih lansia di Semarang.
Sejak 2019, Sekolah perawat lansia (caregiver) sudah menerima peserta magang dari sejumlah lembaga pelatihan kerja perawat lansia dengan penempatan di luar negeri, salah satunya LPK Serbaindo Salatiga. Hingga saat ini Sekolah Care Giver Raden Rahmat sudah memiliki alumi kurang lebih 250 Care Giver yang ditempatkan di dalam negeri maupun luar negeri, khususnya Jepang,
Bahkan pada 2020 Care Giver Raden Rahmat menjadi Tempat Uji Kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi, dan telah mensertifikasi 25 tenaga care taker yang di tugaskan di enam kecamatan untuk melayani 800 lansia.
Pimpinan LPK Serbaindo, Iman Abdul Rahman, S.S., mengatakan kerjasama dengan PKRR telah dilakukan sejak 5 tahun lalu.
“Kami percayakan PKRR sebagai tempat pelatihan dan magang anak-anak kami, agar mereka memiliki keterampilan yang baik dalam merawat lansia. Ini merupakan kerjasama strategis, untuk menyiapkan SDM Care Giver yang memiliki kempuan Pelayanan Holistik, komprehensif dan integratif,” ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Ketua Yayasan Pitutur Luhur, Ahmad Winarno mengatakan kerjasama ini bertujuan untuk melatih dan mencetak SDM perawat lansia yang memiliki standar pelayanan profesional dengan pendekatan medis, psikologis, dan agamis.
“Pelayanan berbasis penyatuan diri dengan alam semesta. Walau raga telah menua, namun ruhaninya seakan terlahir kembali sehingga kebugaran dan kebahagiaan tetap terjaga, hingga kelak waktu berpulang penuh bahagia,” pungkas Winarno.




