UNGARAN, KOMPAS.com – Siang itu, suara lantunan ayat suci mengalun pelan dari sebuah ruangan di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Puluhan lansia duduk bersila. Sebagian memegang mushaf, sebagian lagi menyimak dengan mata terpejam. Di samping mereka, seorang perawat duduk mendampingi—siaga jika sewaktu-waktu ada yang merasa lelah. Ramadan tahun ini, mereka memilih “mondok” lagi. Bukan sebagai santri remaja, melainkan sebagai santri sepuh yang ingin memperbaiki bacaan dan memperdalam pemahaman agama.
Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memang dikhususkan bagi lansia. Selama bulan puasa, tempat ini dipenuhi peserta dari berbagai daerah—dari Papua hingga Kalimantan. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama: mencari bekal untuk kehidupan setelah dunia.
Mencari Bekal, Bukan Gelar
Sih Lamirah, pensiunan guru asal Manokwari, Papua Barat, sudah dua kali mengikuti program Ramadan di sini. Tahun-tahun sebelumnya ia pulang pergi. Kini, ia memilih tinggal penuh selama bulan suci. “Sudah dua tahun ke sini, tapi pulang pergi. Baru Ramadan ini full di sini,” ujar perempuan yang akrab disapa Asih itu. Baginya, belajar tak mengenal usia. Ia ingin memastikan bacaan Al Qurannya benar. “Sekarang saya sudah juz 29. Selain itu belajar akhlak dan fiqih,” katanya pelan. Asih tersenyum ketika ditanya alasannya datang jauh-jauh ke Ungaran. “Saya hanya mencari bekal untuk kehidupan nanti di akhirat. Semua harus dipersiapkan.”
Di kamar asramanya, ia berbagi ruang dengan sesama pensiunan dari Pontianak. Obrolan mereka kerap mengalir tentang masa lalu, keluarga, dan perjalanan hidup panjang yang telah dilalui. “Kalau ngobrol nyambung, serasa teman sebaya,” ujarnya.
Belajar Sambil Menjaga Tubuh
Direktur pesantren, Muhamad Solikin, memahami bahwa mengajar lansia berbeda dengan mengajar santri muda. Materi disusun sederhana, ritmenya pelan, dan diselingi diskusi. “Kita juga belajar dari para santri. Pengalaman hidup mereka lebih banyak,” katanya. Kondisi fisik menjadi perhatian utama. Sebagian santri merupakan penyintas diabetes melitus dan hipertensi. Menu sahur dan berbuka pun disesuaikan agar tubuh tetap stabil selama berpuasa. “Ini agar kondisi badan tidak drop dan kebutuhan gizinya tetap terpenuhi,” jelas Solikin. Namun tantangan bukan hanya soal kesehatan. “Kadang kalau sudah sepuh seperti anak-anak lagi. Kalau ngambek atau baper, ya butuh kesabaran lebih,” ujarnya sambil tersenyum. Ramadan yang Tetap Produktif Di sela waktu mengaji, para santri lansia juga diajak berkegiatan. Ada yang beternak kambing, ada pula yang berkebun. Aktivitas itu bukan sekadar pengisi waktu, tetapi juga upaya menjaga semangat dan kemandirian. “Salah satu masalah saat lansia adalah penurunan kondisi ekonomi. Jadi kami berusaha memberi solusi kecil sesuai minat mereka,” ungkap Solikin.



