SOLO, 14 Mei 2026 — Jaringan Program Lansia Nasional (JPLN) UMMIKU menggelar Workshop Tata Kelola Pesantren dan Sekolah Lansia di Hotel Lor in Syariah Solo, Kamis (14/5). Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Workshop tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat pemberdayaan lansia berbasis spiritual, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Selain sesi penguatan kapasitas, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pelantikan Pengurus JPLN Wilayah Jawa Tengah serta Pengurus Daerah Kabupaten/Kota Masa Khidmat 2026–2029. Dalam forum tersebut, Dr. Ahmad Mifdlol Muthohar, Lc., M.S.I. resmi terpilih dan dilantik sebagai Ketua JPLN Wilayah Jawa Tengah. Mewujudkan Lansia Berdaya dan Bermartabat Dalam sambutannya usai pelantikan, Dr. Ahmad Mifdlol Muthohar menegaskan komitmennya untuk menjadikan pelayanan lansia sebagai gerakan kolektif yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Tagline ‘Lansia Berdaya, Jateng Sejahtera’ bukan sekadar slogan. Ini adalah arah perjuangan agar para lansia di Jawa Tengah tetap sehat, produktif, mandiri, bermartabat, dan bahagia. Lansia adalah aset peradaban yang memiliki peran vital dalam keluarga dan masyarakat,” tegas Dr. Mifdlol. Ketua Umum JPLN UMMIKU Pusat, Aan Suherlan, menambahkan bahwa tantangan aging population di Indonesia membutuhkan model pelayanan lansia yang terintegrasi, profesional, dan berkelanjutan. Melalui workshop ini, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai standardisasi kurikulum, strategi integrasi program pemerintah, hingga penguatan kemandirian ekonomi lansia. Dampak Nyata bagi Masyarakat Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan positif selama kegiatan berlangsung. Salah satunya disampaikan oleh Marhamah, aktivis program lansia dari kawasan lereng Telomoyo. “Workshop ini sangat aplikatif. Kami kini memiliki panduan tata kelola yang lebih jelas untuk membangun layanan lansia yang terstruktur dan berkelanjutan di tingkat akar rumput,” ungkapnya. Target Strategis: Satu Kabupaten, Satu Pesantren Lansia Berdasarkan data hingga Mei 2026, Jawa Tengah memiliki sekitar 4,53 juta penduduk lansia. Menyikapi kondisi tersebut, JPLN Jawa Tengah menargetkan pembentukan struktur organisasi hingga tingkat kecamatan serta pendirian Pesantren dan Sekolah Lansia di setiap kabupaten/kota di Jawa Tengah sebagai tindak lanjut nyata dari workshop ini. Melalui sinergi antara akademisi, tokoh masyarakat, pemerintah, dan komunitas keagamaan, gerakan ini diharapkan mampu membangun ekosistem ramah lansia yang lebih bermartabat, mandiri, dan berkelanjutan di Jawa Tengah.
Mondok Lagi di Usia Senja: Ramadan yang Khusyuk di Pesantren Lansia Ungaran
UNGARAN, KOMPAS.com – Siang itu, suara lantunan ayat suci mengalun pelan dari sebuah ruangan di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Puluhan lansia duduk bersila. Sebagian memegang mushaf, sebagian lagi menyimak dengan mata terpejam. Di samping mereka, seorang perawat duduk mendampingi—siaga jika sewaktu-waktu ada yang merasa lelah. Ramadan tahun ini, mereka memilih “mondok” lagi. Bukan sebagai santri remaja, melainkan sebagai santri sepuh yang ingin memperbaiki bacaan dan memperdalam pemahaman agama. Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memang dikhususkan bagi lansia. Selama bulan puasa, tempat ini dipenuhi peserta dari berbagai daerah—dari Papua hingga Kalimantan. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama: mencari bekal untuk kehidupan setelah dunia. Mencari Bekal, Bukan Gelar Sih Lamirah, pensiunan guru asal Manokwari, Papua Barat, sudah dua kali mengikuti program Ramadan di sini. Tahun-tahun sebelumnya ia pulang pergi. Kini, ia memilih tinggal penuh selama bulan suci. “Sudah dua tahun ke sini, tapi pulang pergi. Baru Ramadan ini full di sini,” ujar perempuan yang akrab disapa Asih itu. Baginya, belajar tak mengenal usia. Ia ingin memastikan bacaan Al Qurannya benar. “Sekarang saya sudah juz 29. Selain itu belajar akhlak dan fiqih,” katanya pelan. Asih tersenyum ketika ditanya alasannya datang jauh-jauh ke Ungaran. “Saya hanya mencari bekal untuk kehidupan nanti di akhirat. Semua harus dipersiapkan.” Di kamar asramanya, ia berbagi ruang dengan sesama pensiunan dari Pontianak. Obrolan mereka kerap mengalir tentang masa lalu, keluarga, dan perjalanan hidup panjang yang telah dilalui. “Kalau ngobrol nyambung, serasa teman sebaya,” ujarnya. Belajar Sambil Menjaga Tubuh Direktur pesantren, Muhamad Solikin, memahami bahwa mengajar lansia berbeda dengan mengajar santri muda. Materi disusun sederhana, ritmenya pelan, dan diselingi diskusi. “Kita juga belajar dari para santri. Pengalaman hidup mereka lebih banyak,” katanya. Kondisi fisik menjadi perhatian utama. Sebagian santri merupakan penyintas diabetes melitus dan hipertensi. Menu sahur dan berbuka pun disesuaikan agar tubuh tetap stabil selama berpuasa. “Ini agar kondisi badan tidak drop dan kebutuhan gizinya tetap terpenuhi,” jelas Solikin. Namun tantangan bukan hanya soal kesehatan. “Kadang kalau sudah sepuh seperti anak-anak lagi. Kalau ngambek atau baper, ya butuh kesabaran lebih,” ujarnya sambil tersenyum. Ramadan yang Tetap Produktif Di sela waktu mengaji, para santri lansia juga diajak berkegiatan. Ada yang beternak kambing, ada pula yang berkebun. Aktivitas itu bukan sekadar pengisi waktu, tetapi juga upaya menjaga semangat dan kemandirian. “Salah satu masalah saat lansia adalah penurunan kondisi ekonomi. Jadi kami berusaha memberi solusi kecil sesuai minat mereka,” ungkap Solikin.
Dari Akademi Kebidanan ke Negeri Sakura: Jejak Reza Merawat Lansia dengan Cinta di Pesantren Lansia Raden Rahmat
RASIKAFM.COM | UNGARAN – Di sebuah sudut tenang Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, langkah kecil seorang perempuan muda asal Banjarnegara tengah menapaki jalan besar hidupnya. Namanya Reza Beti Emelia (22). Lulusan salah satu akademi kebidanan di Yogyakarta itu kini memilih banting setir menjadi caregiver, merawat para lansia di Pesantren Lansia Raden Rahmat. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sejak semester empat kuliah kebidanan, Reza sudah menanam mimpi untuk bekerja di luar negeri. “Opsinya waktu itu Jerman, Arab Saudi, atau Jepang,” tuturnya ditemui di sela mendampingi lansia di Pesantren Lansia Raden Rahmat, Rabu (25/2/2026). Ia berkonsultasi dengan dosen. Jepang disebut sebagai pilihan paling realistis karena adanya koneksi kampus.Kesempatan datang ketika LPK SO Serbaindo membuka sosialisasi di kampusnya. Reza tertarik. Ia mendaftar, memulai dari nol, dan enam bulan kemudian mendapat job. Proses yang ia sebut sebagai “insyaallah cepat”. Namun sebelum benar-benar terbang ke Jepang, Reza memilih mengasah kemampuan. Ia menjalani magang di Pesantren Lansia Raden Rahmat yang bekerja sama dengan LPK tersebut. Baginya, ini penting. “Ranah kebidanan itu ibu, anak, dan balita. Lansia beda lagi. Jadi saya ke sini buat cari pengalaman dan skill, biar ada gambaran,” ujarnya. Di pesantren itu, Reza belajar bahwa merawat lansia tak sesederhana teori di buku. Karakter para penghuni beragam. Ada yang masih mandiri, ada yang perlu bantuan sebagian, bahkan ada yang harus didampingi sepenuhnya. Ada yang mudah memahami instruksi, ada pula yang harus dibimbing perlahan. “Kalau lebih sulit, menurut saya lebih sulit lansia,” katanya jujur. “Lansia itu seperti bayi besar. Sudah dewasa, tapi kita harus memperlakukan dengan kesabaran seperti merawat bayi. Bedanya, bayi belum bisa bicara, sementara lansia kadang sulit mengungkapkan apa yang dirasakan,” lanjutnya. Ia pernah mendampingi seorang lansia mukim yang memiliki riwayat penyakit, namun kerap tidak terbuka soal keluhan. “Kalau ditanya sakit apa, kadang tidak jujur atau tidak bisa menjelaskan. Jadi kita harus sabar, lihat rekam medisnya, perhatikan tanda-tandanya,” ungkapnya. Di situlah ia merasa empati dan ketelatenan benar-benar diuji. Pengalaman ini menjadi bekal penting karena Reza dijadwalkan berangkat ke Jepang tahun ini. Ia akan ditempatkan di Prefektur Kyushu, wilayah bagian selatan Jepang, untuk bekerja di rumah lansia. “Makanya saya ke sini, supaya aman dulu skill-nya,” ucapnya mantap. Bagi Reza, semua itu adalah proses belajar tentang kemanusiaan. Dari ruang bersalin ke ruang perawatan lansia, ia menemukan makna baru tentang merawat. Jika dulu ia terbiasa menyambut kehidupan baru, kini ia belajar menemani senja kehidupan dengan kesabaran dan cinta. “Yang penting sabar dan telaten,” katanya pelan. Sementara itu, Pengasuh Pesantren Lansia Raden Rahmat, Ahmad Winarno, menjelaskan lembaganya bersama LPK SO Serbaindo meluncurkan Pesantren Caregiver LSI-MU (Lembaga Serbaindo Medistra Utama) sebagai pusat pendidikan dan pelatihan pendamping lansia profesional berbasis nilai pesantren. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tren ageing population yang terus meningkat. Pada 2024, jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas secara nasional mencapai lebih dari 30 juta jiwa. Di Jawa Tengah, proporsinya sudah 13,9 persen. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan realitas sosial yang menghadirkan tantangan: penyakit degeneratif, kebutuhan perawatan jangka panjang, hingga persoalan kesepian atau loneliness. “Kami mencoba menjawab tantangan ini dengan mengembangkan pendekatan holistik Bio–Sosio–Kulturo–Psiko–Spiritual. Lansia mendapat pemeriksaan kesehatan rutin, pendampingan sosial, pembinaan ibadah, hingga konseling psikologis. Layanannya terbagi dalam Residential Care—pendampingan 24 jam di lingkungan pesantren—dan Home Care untuk pendampingan di rumah,” paparnya. Kurikulum caregiver di LSI-MU memadukan standar Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Kesehatan, serta kurikulum internal yang ditambah nilai keagamaan. “Di sini namanya merawat dengan cinta,” kata dia. Para peserta tak hanya belajar keperawatan dasar dan manajemen penyakit kronis, tetapi juga membangun karakter dan empati. Sejak 2019 hingga awal 2026, lebih dari 1.000 alumni caregiver telah diluluskan dan sebagian diberangkatkan ke Jepang sebagai tenaga kaigo, menjawab krisis populasi menua di negeri itu. Tahun ini saja, rata-rata 50 orang diberangkatkan setiap bulan. “Meski berlabel pesantren, layanan kami terbuka lintas agama. Sekitar 30 persen dari 850 lansia binaan adalah non-muslim. Bahkan di Jepang, kebutuhan caregiver dari latar belakang agama tertentu, termasuk Katolik, juga cukup tinggi,” bebernya. Soal seleksi, untuk caregiver sebetulnya yang penting adalah lulusan SMA sederajat. Selain untuk pendidikan di sini selama 1 tahun, setelah bekerja di Jepang mereka diproyeksikan menempuh pendidikan lanjutan hingga S1. “Kita sudah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi yang jurusannya linear yaitu Pendidikan Agama Islam. Kita juga sedang menjajaki jurusan bisnis di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Kemarin juga penjajakan ke Purwokerto, kemudian ke Pekalongan serta ke Bojonegoro,” tandasnya. (win)
Pesantren Caregiver LSI-MU: Integrasi Spiritual, Kompetensi, dan Bahasa untuk Cetak Caregiver Handal di Kancah Global
Salatiga, 5 Agustus 2025 – Di tengah meningkatnya kebutuhan global akan tenaga caregiver profesional yang berkarakter, kolaborasi strategis antara LPK SO Serbaindo, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, dan LSI-MU (Medistra Utama) berhasil menghadirkan inovasi baru: Pesantren Caregiver LSI-MU, sebuah model pembinaan yang memadukan kompetensi klinis, kekuatan spiritual, dan kecakapan bahasa asing dalam satu sistem pendidikan terpadu. Dalam acara Wisuda Ke-11 LPK Serbaindo di Hotel Laras Asri Salatiga (4/8), sebanyak 55 lulusan dilepas untuk menapaki dunia kerja profesional, menyusul lebih dari 700 alumni yang telah sukses diberangkatkan ke Jepang sebagai caregiver. Ini menegaskan komitmen dan keberhasilan model triple partnership antara tiga lembaga tersebut. Sinergi 3 Lembaga, Cetak Generasi Caregiver Berkelas Dunia Pesantren Caregiver: Titik Temu Ilmu, Spiritual, dan Karier Global Pesantren Caregiver LSI-MU bukan hanya tempat belajar, tapi menjadi ekosistem pertumbuhan diri yang memadukan: ✅ Ilmu Terapan – Kompetensi klinis dan bahasa yang dibutuhkan industri global✅ Spiritualitas – Pembinaan adab, akhlak, dan penguatan jiwa dalam melayani lansia✅ Pengalaman Lapangan – Praktik kerja langsung di Villa Santri Kasepuhan , kawasan Kampung Lansia Mandiri binaan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Banyubiru Kabupaten Semarang. Program ini menjawab kebutuhan dunia akan tenaga caregiver yang bukan hanya terampil, tapi juga tulus dan beretika. Langkah Kecil, Dampak Global Dengan lulusan yang telah tersebar di Jepang dan negara-negara lain, Pesantren Caregiver LSI-MU menjadi model ideal pelatihan terpadu berbasis kemandirian bangsa. Indonesia tidak hanya ekspor SDM, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan berbasis akhlak. “Misi kami sederhana: kirim tenaga kerja yang terampil, tapi juga membawa cinta, doa, dan ketulusan,” Ujar Hafsah salah satu kandidat kuat Direktur LSI‑MU, masa bakti 2025-2030.
Shakai Fukushi Houjin Tojukai Jepang, Tinjau Pesantren Caregiver LSI-MU
Apresiasi Program Pelatihan Caregiver Siap Kerja di Jepang Banyubiru, 2025 — Pesantren Caregiver LSI-MU yang di inisiasi oleh LPK-SO Serbaindo dan Pesantren Medistra Utama mendapat kunjungan istimewa dari perwakilan perusahaan Jepang dalam agenda Kengaku Day, yang berlangsung di kompleks Pesantren Raden Rahmat Banyubiru. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mempererat kerjasama antara lembaga pelatihan caregiver Indonesia dengan perusahaan-perusahaan Jepang yang membutuhkan tenaga caregiver profesional. Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau secara langsung proses pelatihan caregiver yang tengah berlangsung. Para perwakilan Jepang melihat bagaimana siswa dibekali dengan keterampilan medis dasar, kemampuan komunikasi, etika kerja, serta pembentukan karakter berbasis spiritualitas. Dalam kesempatan itu, pihak Jepang memberikan apresiasi atas kesungguhan lembaga dalam menyiapkan SDM yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepribadian baik dan etos kerja yang kuat. “Kami sangat terkesan dengan semangat belajar para siswa dan pendekatan pelatihan yang terintegrasi antara keterampilan teknis dan pembentukan karakter. Ini menjadi modal penting bagi mereka saat bekerja di Jepang,” ungkap Kawamura Satoshi, dari Shakai Fukushi Houjin Tojukai, salah satu perwakilan perusahaan Jepang yang bermitra dengan LSI-MU Pesantren Caregiver LSI-MU yang mengusung tema “Kurawat Engkau dengan Cinta” terus berkomitmen menyiapkan caregiver yang mampu merawat lansia dengan pendekatan medis, psikologis, humanis, dan agamis. Program ini tidak hanya mempersiapkan siswa secara teknis, tetapi juga membangun jiwa empati, tanggung jawab, dan integritas kerja. Kegiatan Kengaku Day ini juga menjadi ajang silaturahmi antara siswa, pengelola lembaga, dan mitra kerja luar negeri. Para siswa mendapat kesempatan bertanya langsung tentang budaya kerja, tantangan, dan peluang karier di Jepang. Ke depan, Pesantren Caregiver LSI-MU dan LPK SO Serbaindo akan terus memperluas jaringan kemitraan internasional demi membuka lebih banyak peluang kerja yang aman dan bermartabat bagi generasi muda Indonesia. Tentang Pesantren Caregiver LSI-MU: Pesantren Caregiver LSI-MU adalah lembaga pelatihan caregiver berbasis pesantren yang memadukan pembelajaran keagamaan, keterampilan medis dasar, pendampingan psikologis, dan pembentukan karakter. Program ini terintegrasi dalam lingkungan Pesantren Raden Rahmat Banyubiru yang dikenal dengan konsep Pesantren Lansia dan Villa Santri Kasepuhan, sebagai ekosistem pembinaan lansia sehat, mandiri, dan bermartabat
Pesantren Caregiver LSI-MU Angkatan 27 Latih Siswa Menjadi Perawat Lansia Profesional untuk Jepang
Banyubiru, 2025 — Pesantren Caregiver LSI-MU, hasil kolaborasi antara LPK SO Serbaindo dan Pesantren Caregiver Medistra Utama, membuka program pelatihan caregiver angkatan ke-27 yang diikuti oleh 20 peserta. Program ini dilaksanakan di kompleks Pesantren Raden Rahmat Banyubiru, Jawa Tengah. Pelatihan ini bertujuan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing global, khususnya untuk memenuhi kebutuhan perawat lansia profesional di Jepang dan berbagai negara lain yang menghadapi peningkatan jumlah lansia. Mengusung tema “Kurawat Engkau dengan Cinta”, program ini mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, profesionalisme, dan kasih sayang dalam merawat lansia. Materi pelatihan dirancang berbasis empat pilar utama: medis, psikologis, humanis, dan agamis, sehingga para peserta tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki empati mendalam dan keikhlasan hati dalam mendampingi lansia di masa senja mereka. “Caregiver bukan sekadar profesi, tetapi ladang amal yang penuh keberkahan. Kami berharap para siswa mampu melayani dengan hati, memberikan perawatan yang tulus, serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas dalam setiap tugasnya,” ungkap Ahmad Winarno, Pengasuh Pesantren Caregiver Medistra Utama dan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, saat membuka acara pelatihan secara resmi. Pada sesi pembukaan yang berlangsung hangat dan penuh motivasi, para peserta dibekali semangat menjaga niat tulus dan integritas kerja. Mereka juga diperkenalkan dengan kurikulum pelatihan yang meliputi keterampilan dasar medis, komunikasi efektif dengan lansia, psikologi perkembangan usia lanjut, serta praktik ibadah dan etika kerja lintas budaya, khususnya saat bekerja di luar negeri. Pesantren Caregiver Medistra Utama berkomitmen mempersiapkan lulusan yang unggul secara kompetensi, kuat secara mental, dan kokoh secara spiritual. Mereka diharapkan mampu menghadapi tantangan global di bidang perawatan lansia, sekaligus membawa citra positif Indonesia di mata dunia. Program ini juga merupakan jawaban atas meningkatnya kebutuhan tenaga caregiver di Jepang, yang tengah mengalami krisis demografi akibat melonjaknya populasi lanjut usia. Ke depan, Pesantren Caregiver Medistra Utama terus mengembangkan program serupa dengan target mencetak ribuan caregiver profesional yang siap berkontribusi secara global. Sebagai langkah akhir, pelatihan ini akan dilanjutkan dengan uji kompetensi resmi untuk memperoleh sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), bekerja sama dengan salah satu Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Caregiver yang berpusat di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Tentang Pesantren Caregiver Medistra Utama (LSI-MU): Pesantren Caregiver Medistra Utama (LSI-MU) adalah lembaga pelatihan caregiver berbasis pesantren yang memadukan pendidikan keagamaan, keterampilan medis dasar, pendampingan psikologis, dan pembentukan karakter. Program ini terintegrasi dalam ekosistem Pesantren Raden Rahmat Banyubiru yang dikenal dengan konsep Pesantren Lansia dan Villa Santri Kasepuhan, sebagai pusat pembinaan lansia sehat, mandiri, dan bermartabat.
Kala Lansia Belajar Agama Islam di Kampung Ramadhan, Ada Peserta dari Belanda
UNGARAN, KOMPAS.com – Alunan bacaan Al Quran menggema dari kompleks bangunan di perbukitan Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, pada Kamis (6/3/2025) sore. Setelah sesi pembacaan kitab suci, para peserta melaksanakan shalat ashar berjemaah. Para pembaca Al Quran yang hadir sebagian besar adalah lanjut usia, meskipun terdapat beberapa anak muda yang turut serta. Mereka mengenakan seragam berupa kemeja putih dan celana hitam. Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan mengikuti program Kampung Ramadhan di Villa Santri Kasepuhan Raden Rahmat, yang berlangsung selama satu bulan penuh selama bulan Ramadhan. Salah satu peserta, Sukardi (57) dari Jambi, menyatakan, “Mendapat pengetahuan karena di sini isinya kajian tentang agama Islam dan juga mengaji. Di usia seperti sekarang ini ingin memperdalam ilmu agama, karena mungkin saat muda dulu belajarnya belum maksimal.” Sukardi datang seorang diri setelah berpamitan kepada istri dan anaknya untuk belajar lebih dalam mengenai ajaran agama Islam. “Saya daftar satu bulan untuk program Ramadhan ini. Nanti kalau betah, bisa ditambah lagi waktunya,” tambahnya. Ahmad Winarno, pendiri Villa Santri Kasepuhan Raden Rahmat, menjelaskan bahwa santri lansia di pondok pesantrennya berasal dari seluruh Indonesia, termasuk beberapa kota di Pulau Jawa, Jambi, Palembang, hingga Papua. “Ada juga diaspora dari beberapa negara yang sudah tidak memiliki saudara di daerah asal, yang belajar di sini. Seperti dari Australia, Belanda, dan Singapura,” ungkapnya. Winarno menegaskan bahwa mayoritas santri di pondok adalah dewasa dan orang tua, dengan usia minimal 45 tahun. Terdapat tiga syarat utama yang harus dipenuhi: pertama, mandiri dalam melakukan aktivitas pribadi; kedua, memiliki kemauan dan motivasi untuk belajar di pondok pesantren; dan ketiga, mampu mengikuti pembelajaran agar di masa tua mereka bisa semakin sehat dan pengetahuan religiusnya meningkat. “Harus diingat, di sini kan bukan panti jompo, tapi pondok pesantren. Karena itu, kami tidak ingin istilahnya mereka hanya pindah tidur atau pindah tempat tinggal, ada pembelajaran secara preventif yang harus diikuti,” tegas Winarno. Dia juga menyampaikan bahwa antusiasme peserta untuk mengikuti program Kampung Ramadhan di Villa Santri Kasepuhan Raden Rahmat sangat tinggi. Namun, karena keterbatasan daya tampung, tidak semua pendaftar dapat diterima. Saat ini, kapasitas yang tersedia adalah 25 santri lansia, 14 santri perawat lansia, dan 45 santri kalong atau yang tidak menetap dari warga sekitar. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kala Lansia Belajar Agama Islam di Kampung Ramadhan, Ada Peserta dari Belanda”, Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2025/03/07/081108578/kala-lansia-belajar-agama-islam-di-kampung-ramadhan-ada-peserta-dari?page=all.
Menghargai Orang Tua, Sumber Keberkahan Hidup
Orang tua adalah sumber keberkahan hidup yang paling berharga. Mereka adalah anugerah dari Allah yang telah memberikan kita kehidupan, membimbing kita, dan mendukung kita dalam setiap langkah hidup. Keberkahan hidup tidak hanya datang dari harta atau kesuksesan, tetapi juga dari hubungan yang harmonis dengan orang tua. Mengapa Orang Tua Begitu Berharga? 1. Doa dan Dukungan: Doa dan dukungan orang tua memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk kehidupan kita. Dengan doa dan dukungan mereka, kita dapat meraih kesuksesan dan keberkahan hidup. 2. Nilai Kebaikan dan Ketenteraman: Berkah hidup adalah bertambahnya nilai kebaikan dan ketenteraman. Orang tua dapat memberikan kita nilai-nilai kebaikan dan ketenteraman yang akan membimbing kita dalam hidup. 3. Menghargai dan Menyayangi: Selagi orang tua masih ada, kita harus menghargai dan menyayangi mereka. Kunjungi mereka, peluk mereka, dan minta doa mereka. Dengan melakukan hal ini, kita dapat meningkatkan keberkahan hidup kita. Bagaimana Ketika Kita Sudah Tua? Ketika kita sudah tua, kita harus ingat bahwa kita ini anak tetapi juga juga orang tua bagi anak-anak kita. Oleh karena itu, kita harus berikan energi kebaikan dengan menyayangi orang tua kita walau mereka sudah tiada, dengan doa-doa terbaik kita. Niatkan semua amal kebaikan kita sebagai amalan orang tua kita. Dengan melakukan hal ini, kita dapat meningkatkan keberkahan hidup kita dan dan memberikan tauladan terbaik bagi anak-anak kita, agar kelak mereka melakukan hal yanb sama, memperlakukan leluhurnya dengan amalan terbaiknya Kesimpulan Orang tua adalah sumber keberkahan hidup yang paling berharga. Dengan menghargai dan menyayangi mereka, kita dapat meningkatkan keberkahan hidup kita dan mencapai kebahagiaan yang hakiki. Mari kita jadikan orang tua sebagai prioritas utama dalam hidup kita dan selalu berbakti kepada mereka, baik mereka masih hidup maupun sudah tiada.
Belajar dari Sholah, Pria Mesir yang Jadikan Allah Mitra Bisnisnya
Siapakah sosok fenomenal yang viral karena pemakamanya dihadiri setengah juta orang? Sebuah kota kecil bernama Tafahna Al Asyrof, hiduplah seorang pemuda bernama Ir Sholah Althiyah, di kota kecil yang tenang ini, kini telah berubah menjadi kota terkenal di Mesir. Seperti yang dikutip oleh Syekh DR Mustafa Dasuki Kasbah, Ahli Wakaf dari Universitas al-Azhar. Di Mesir ada sebuah kota kecil bernama Tafahna Al Asyrof. Kota ini adalah kota kecil yang tenang. Namun atas perjuangan seseorang bernama Sholah Athiyah kota ini menjadi salah satu kota terkenal di Mesir. Sholah Athiyah adalah seorang pemuda miskin dari kota itu. Bahkan ketika dia kuliah, dia hanya memiliki satu celana panjang. Ia belajar di salah satu universitas di Mesir jurusan pertanian. Setelah itu, ia dan sembilan rekannya sepakat untuk memulai bisnis unggas dan perkebunan. Mereka mengumpulkan uang sebagai modal masing-masing dengan menjual apapun yang mereka miliki. Termasuk uang hasil penjualan perhiasan istri istri. Dan akhirnya uang sedikit demi sedikit berhasil mereka kumpulkan. Kemudian mereka berpikir, bagaimana jika ada tambahan partner untuk memperkuat bisnis mereka. Yaitu pasangan 10. Jadi mereka mencari ‘mitra kesepuluh’. Tapi siapa pasangan ke-10? Kemudian Ir. Sholah Athiyah mengusulkan satu nama sebagai pasangan kesepuluhnya, yaitu Allah SWT. Dan Allah akan menerima 10% dari keuntungan bisnis mereka. Dengan perjanjian Allah yang akan memberikan perlindungan, pemeliharaan & perawatan dari segala wabah penyakit. Kemudian dibuatlah surat perjanjian di bawah Notaris lengkap dengan segala klausulnya. Termasuk mengikutsertakan Allah sebagai sekutu kesepuluhnya. Tak disangka di tahun pertama usahanya langsung melejit. Kemudian mereka sepakat lagi untuk meningkatkan persentase keuntungan kepada mitra kesepuluh sebesar 20% pada tahun berikutnya. Hingga akhirnya pada tahun berikutnya menembus hingga 50%. Lalu bagaimana cara mengalokasikan keuntungan 50%? Jadi sekolah dibangun untuk anak laki-laki dan perempuan dari tingkat SD sampai SMA. Namun, karena keuntungan bisnis semakin maju, Baitul Maal pun dibuat di kota kecil itu. Selanjutnya, Ir Sholah Athiyah dan kawan-kawan mengajukan izin mendirikan universitas di kota ini. Namun, ditolak dengan alasan tidak adanya sarana prasarana pendukung bagi para siswa. Akhirnya, mereka mengusulkan pembangunan universitas lengkap dengan jalur kereta api, kereta api dan stasiun dengan biaya sendiri. Dan ini akhirnya disetujui. Akhirnya, untuk pertama kalinya, universitas pertama di kota kecil ini didirikan. Selanjutnya didirikan universitas-universitas berikut ditambah asrama untuk mahasiswi yang berjumlah lebih dari seribu kamar. Kemudian Baitul Maal kedua dibangun dan alhasil kemiskinan di kota ini hilang. Setiap panen, seluruh kota diberikan sayuran gratis. Dan juga diadakan pelatihan bagi pemuda pengangguran untuk menjadi petani tangguh. Dan bisa mendapatkan hasil yang diekspor ke negara tetangga. Dan pada puncaknya, Ir Sholah menyerahkan 100% keuntungan usahanya kepada Allah SWT sebagai partner ke-10. Dan dia berubah menjadi “karyawan” untuk pasangannya yang ke-10. Dan dia juga mau menerima gajinya dengan syarat Tuhannya, sehingga dia diberi keyakinan bahwa dia hanya membutuhkan dan meminta kepada-Nya saja. Di akhir hidupnya ia dibaringkan oleh jutaan orang Mesir. Kisah Ir Sholah Dari Mesir ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi untuk kita. Beliau adalah sosok pejuang yang kemudian setelah mendapat kemapanan justru ia sedekahkan. Kita kadang tidak mengikut sertakan Allah di bisnis kita, padahal ia lah penajamin dan penguasa segalanya. Cara yang dilakukan oleh Ir Sholah Dari Mesir bisa anda terapkan. Wallahu a’lam. Salam. Editor: Ferly M Sumber : https://sibernas.com/2022/02/23/belajar-dari-sholah-pria-mesir-yang-jadikan-allah-mitra-bisnisnya/
Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Mewisuda 30 Santri Lansia, Berharap Tetap Produktif di Usia Senja
SEMARANG — Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat menggelar wisuda 30 santri lansia, di Hotel Candi Indah, Semarang, Minggu 3 Desember 2023 pagi. Wisuda tersebut menjadi bagian event workshop Tata Kelola Manajemen Ponpes Lansia yang diselenggarakan oleh Majelis Pesantren dan Ma’had Da’wah Indonesia (Mapadi) Jawa Tengah bekerjasama dengan Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat (PPKRR). Berdasarkan pantauan, wisuda yang turut dihadiri oleh Dinas Sosial Kabupaten Semarang, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dan Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah ini menarik perhatian, terutama karena peserta wisudanya adalah para santri lanjut usia. 30 santri yang diwisuda ini terdiri dari 4 orang wisudawan dan 26 orang wisudawati, santri mukim dan non mukim, santri senior berusia 72 tahun dan pra lansia 45 tahun. Ustaz M. Solikin, Direktur Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat menjelaskan bahwa wisuda ini merupakan event wisuda pertama yang digelar ponpes. “Angkatan pertama ini kami berhasil meluluskan 30 santri lansia. Ini momen untuk kami membagikan semangat kepada santri santri lansia,” paparnya kepada ayosemarang.com Ia menjelaskan, santri Lansia Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memiliki konsep dalam dan luar panti. Santri luar panti banyak berasal dari dusun Gedong, warga sekitar Pesantren berdiri, dan santri dalam panti adalah santri yang notabene berasal dari luar kota dan daerah. Di antaranya Palembang, Jambi, Lampung, Kalimantan dan Sulawesi. Ia menambahkan, kriteria kelulusan santri lansia adalah mereka yang telah menamatkan belajar dengan kurikulum 3 ranah Olah Rogo, Olah Jiwo, Olah Roso. Kurikulum Olahrogo, santri lansia terbiasa melakukan akifitas kognitif, kesehatan dan fungsi motorik. Kurikulum Olah Jiwo santri mampu menyelesaikan materi kepesantrenan seperti Aqidah, Fiqh, Tafsir Qur’an dan Hadits, belajar baca Qur’an metode Qiro’ati, dan khatam Alquran. Kurikulum Olah Roso, santri lansia telah mampu melakukan kegiatan seni estetika dan komunikasi. Hal ini disampaikan oleh Purwoko, Direktur Kurikulum Pesantren Lansia Raden Rahmat. “Kurikulum Olah Rogo, Olah Jiwo, Olah Roso ini adalah kriteria santri lansia selama proses belajar di pondok lansia. Kurikulum ini merupakan kurikulum paripurna dengan optimalisasi Kognitif, kesehatan dan Fungsi motorik, menumbuhkan Moral Spiritual dan Sosial Emosional serta penyaluran bakat seni estetika dan komunikasi,” imbuhnya. Agung Budi Margono, Ketua Dewan Pembina Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat menambahkan, pihaknya berterimakasih dengan semua pihak termasuk pemerintah dan masyarakat sekitar yang memberikan masukan agar pesantren kasepuhan ini semakin baik pengelolaannya. “Kami bareng-bareng demi cita-cita bersama bahwa lansia Indonesia bisa berdaya dan produktif sehingga memberikan harapan baru buat Indonesia,” jelasnya. Salah satu wisudawan, Yatmi mengaku senang menuntut ilmu dan belajar meski usianya tak lagi muda. “Kami para santri mukim adalah kebanyakan mereka yang berasal dari luar pulau Jawa, saya sendiri berasal dari Lampung, memang ujian terbesar kami dalam menuntut ilmu pada usia lanjut ini adalah kami harus meninggalkan anak cucu dan jauh dari keluarga, merantau, sesuailah dengan konsep pondok pesantren atau asrama. Senang dan semangat berilmu, meskipun belajar itu sepanjang hayat,” papar dia.