SEMARANG – Di sambut dengan lantunan Ya Lal Wathon, Sabtu (8/5) Ketua PKK dan Dirut PDAM Kabupaten Semarang, Hj. Peni Ngesti Nugraha dan KH. Gus Wahid, melakukan kunjungan ke Pesantren Lansia Raden Rahmat. Kunjungannya dalam angka Bakti Sosial untuk meringankan beban para lansia di tengah Pandemi Covid-19. Peni Ngesti Nugraha mengatakan Bakti Sosial ini selain dalam rangka Ramadhan juga untuk membantu para lansia di tengah pandemi Covid-19, tidak lupa Peni selalu mengingatkan para lansia yang rentan dengan Covid-19 untuk melakukan 5M. “Dalam pandemi ini jangan lengah, tetap jaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan dengan 5M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.”, ujarnya di tengah perbincangan. Dalam Bakti Sosial ini, Hj Peni Ngesti Nugraha juga menggandeng PDAM Kabupaten Semarang, hadir bersama Direktur Utama PDAM Kabupaten Semarang, KH. Gus Wahid Hidayat. Bakti Sosial ini dalam rangka HUT PDAM ke-40 dan berbagi kepada sesama di bulan Ramadhan, dan Bakti Sosial ini merupakan tahun kedua selama Gus Wahid, dan akan menjadi program tahunan. Gus Wahid menyampaikan, bahwa ini merupakan bakti sosial pertama yang dilakukan di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, “Saya baru tahu dan ini pertama kalinya untuk saya datang di pesantren lansia, ternyata tempatnya bagus, bersih, tenang, nyaman dan sejuk. Semoga santri-santrinya tetap semangat menuntut ilmu di usia lanjut dan tetap bisa bermanfaat terhadap sesama.”, imbuhnya. Selain itu, Gus Wahid juga mengatakan untuk tetap utamakan protokol kesehatan selama pandemi ini. Hal senada juga dikatakan oleh Suradi, Kepala Desa Gedong, bahwa pihaknya sudah mengikuti aturan dari pemerintah pusat dan telah menyiapkan Satgas Covid serta mengawal warganya jika didapati ada yang memiliki gejala atau yang terkena Covid.“Kami sudah menjalankan apa yang menjadi aturan dari pemerintah pusat, baik itu Provinsi ataupun Kabupaten, apalagi sudah ada himbauan dari Bupati Semarang terkait Lebaran Idul Fitri tahun ini prokes kesehatan harus tetap dijalankan.”, ujarnya pada kesempatan yang sama. (fid) Sumber : Jateng Pos
Bupati Semarang Kunjungi Santri Lansia di Ponpes Kasepuhan Readen Rahmat
Bupati Kabupaten Semarang, Peni Ngesti Nugraha mengunjungi para santri lanjut usia (lansia) di Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Dalam kunjungannya itu Peni membagikan bantuan kebutuhan pokok untuk para santri lansia. Kesempatan itu juga dimanfaatkan Peni untuk mengedukasi para santri lansia tentang penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. “Dalam pandemi ini jangan lengah, tetap jaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan dengan 5M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” kata Peni dalam rilis resmi Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Semarang yang diterima Republika pada Senin (10/5). Selain itu Peni juga meninjau perkembangan desa wisata religi yang tengah dikembangkan oleh Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat. Sedikitnya ada 230 santri lansia yang mendapat bimbingan di pesantren ini. Selain belajar membaca Alquran dan memperdalam agama, para santri juga mengisi hari-harinya dengan berkebun dan membuat berbagai kerajinan tangan. Sementara itu bakti sosial tersebut juga dihadiri Direktur Utama PDAM Kabupaten Semarang, KH Gus Wahid Hidayat. Menurutnya bakti sosial itu baru kali pertama dilakukan di Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat. Ia juga mengapresiasi berbagai hal di pesantren yang khusus bagi lansia itu. Menurutnya pesantren Kasepuhan Raden Rahmat memiliki lingkungan yang nyaman bagi para santri lansia belajar agama. “Saya baru tahu dan ini pertama kalinya untuk saya datang di pesantren lansia, ternyata tempatnya bagus, bersih, tenang, nyaman dan sejuk. Semoga santri-santrinya tetap semangat menuntut ilmu di usia lanjut dan tetap bisa bermanfaat terhadap sesama,” katanya. Sumber: Republika Online
Wisata Religi di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Belajar Bersama Para Lansia
Jakarta – Destinasi wisata religi tidak hanya masjid atau makam ulama. Wisatawan bisa juga mencoba datang ke Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat di desa Gedong, Kabupaten Semarang dan bermukim di sana. Pesantren itu bukan pondok pesantren biasa, karena rata-rata santrinya adalah mereka yang sudah dewasa dan lanjut usia. Desa Gedong yang menjadi lokasi pesantren pun telah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata oleh Pemkab Semarang “Kami selaku pengurus Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat akan terus berbenah untuk dapat membantu memajukan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar Pondok,” kata Kepala Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Ahmad Winarno. Beragam kegiatan bisa dilakukan oleh wisatawan di sana. Mulai dari mengikuti kegiatan mondok seperti santri hingga mencoba membuat ekstrak jahe dan kopi yang nantinya bisa dibawa sebagai oleh-oleh. Sejak berdiri pada 2018, Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat banyak didatangi santri yang kebanyakan datang dari luar kota. Lokasi pesantren di desa yang asri menjadi daya tarik tersendiri. “Santri kami banyak datang dari luar kota, dan konsep yang kami miliki adalah kembali ke alam, dengan maksud agar para santri lanjut usia dapat fokus mendalami agama sebagai bekal menuju akhirat ditemani suasana pedesaan yang asri dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota,” kata Winarno. Saat Ramadan seperti sekarang, banyak kegiatan yang bisa diikuti wisatawan dan santri yang bermukim. Usai sahur dan salat subuh, para wisatawan diajak menikmati keindahan fajar. Tak hanya iman dan takwa, raga pun harus diolah di tengah persawahan, Lereng Pegunungan Gajah Mungkur. Winarno mengatakan aktivitas itu bertujuan untuk mendekat ke alam dan mensyukuri nikmat Sang Ilahi. Sri, 80 tahun, salah seorang santri mengatakan ia merasa senang bermukim di sana. “Yang dirasakan senang, terus bisa segar begitu tubuhnya, terus melihat pemandangannya itu kok bagaimana begitu lho, bisa itu, dalam hati saya itu kok, nggak bisa mengungkapkan,” ujarnya. Para wisatawan religi juga bisa menyibukkan diri mengolah alam dengan bercocok tanam. Dari hasil tanam itu mereka mengonsumsi makanan sehari-hari dan yang bisa dibawa pulang nanti. Destinasi wisata religi di Semarang itu bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mendekatkan diri ke alam dan mensyukuri nikmat Tuhan. Sumber: Wisata Religi di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Belajar Bersama Para Lansia – Travel Tempo.co
Mengenal Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Pesantren Khusus Lansia
Tak banyak pesantren yang memiliki konsep seperti Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Pasalnya, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat adalah pesantren yang santri-santrinya khusus bagi mereka yang sudah lanjut usia (lansia). Hal ini tak seperti kebanyakan pesantren lainnya.Seperti dilansir tempo.co pada 22/4/21, destinasi wisata religi tidak hanya masjid atau makam ulama. Wisatawan bisa juga mencoba datang ke Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat di desa Gedong, Kabupaten Semarang dan bermukim di sana.Pesantren itu bukan pondok pesantren biasa, karena rata-rata santrinya adalah mereka yang sudah dewasa dan lanjut usia. Desa Gedong yang menjadi lokasi pesantren pun telah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata oleh Pemkab Semarang.“Kami selaku pengurus Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat akan terus berbenah untuk dapat membantu memajukan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar Pondok,” kata Kepala Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Ahmad Winarno.Beragam kegiatan bisa dilakukan oleh wisatawan di sana. Mulai dari mengikuti kegiatan mondok seperti santri hingga mencoba membuat ekstrak jahe dan kopi yang nantinya bisa dibawa sebagai oleh-oleh.Sejak berdiri pada 2018, Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat banyak didatangi santri yang kebanyakan datang dari luar kota. Lokasi pesantren di desa yang asri menjadi daya tarik tersendiri.“Santri kami banyak datang dari luar kota, dan konsep yang kami miliki adalah kembali ke alam, dengan maksud agar para santri lanjut usia dapat fokus mendalami agama sebagai bekal menuju akhirat ditemani suasana pedesaan yang asri dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota,” kata Winarno.Saat Ramadan seperti sekarang, banyak kegiatan yang bisa diikuti wisatawan dan santri yang bermukim. Usai sahur dan salat subuh, para wisatawan diajak menikmati keindahan fajar.Tak hanya iman dan takwa, raga pun harus diolah di tengah persawahan, Lereng Pegunungan Gajah Mungkur. Winarno mengatakan aktivitas itu bertujuan untuk mendekat ke alam dan mensyukuri nikmat Sang Ilahi.Sri, 80 tahun, salah seorang santri mengatakan ia merasa senang bermukim di sana. “Yang dirasakan senang, terus bisa segar begitu tubuhnya, terus melihat pemandangannya itu kok bagaimana begitu lho, bisa itu, dalam hati saya itu kok, nggak bisa mengungkapkan,” ujarnya. Para wisatawan religi juga bisa menyibukkan diri mengolah alam dengan bercocok tanam. Dari hasil tanam itu mereka mengonsumsi makanan sehari-hari dan yang bisa dibawa pulang nanti. Destinasi wisata religi di Semarang itu bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin mendekatkan diri ke alam dan mensyukuri nikmat Tuhan. (RB) Sumber : (ibadah.co.id)
Pesantren Lansia di Semarang Jadi Destinasi Wisata Religi
SEMARANG – Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengembangkan 500 desa wisata terus bergulir meski di tengah pandemi Covid-19. Sektor pariwisata merupakan salah satu penggerak perekonomian masyarakat dan sektor unggulan, sehingga yang diharapkan mampu berperan serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Desa Gedong di Kabupaten Semarang, ditetapkan menjadi salah satu desa wisata dengan destinasi utama wisata religi, bersama 54 desa lainnya di Kabupaten Semarang, melalui Keputusan Bupati Semarang Nomor 556/0389/2020 pada tanggal 25 September 2020. Di Desa Gedong, Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menjadi mitra pemerintah mendorong pengembangan kepariwisataan, dan juga membuka peluang usaha bagi para petani dan UKM. Selain destinasi religi, pesantren yang khusus menangani santri dewasa dan lanjut usia (lansia) ini menyajikan kegiatan cara membuat ekstrak jahe dan kopi bagi para wisatawan. Hasil olahan mereka akan menjadi oleh-oleh saat wisatawan pulang. Kepala Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Ahmad Winarno mengatakan Surat Ketetapan Bupati Semarang tentang Desa Wisata ini menjadi nilai tersendiri bagi Desa Gedong, khususnya Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat yang berada di dalamnya. Dengan demikian, Ponpes dapat lebih optimal menggerakkan masyarakat sekitar untuk menjaga kelestarian alam, dan memajukan perekonomian, sehingga warga mendapatkan pemasukan selain dari bertani dan bercocok tanam. “Kami menyambut baik, penetapan Desa Wisata di Desa Gedong ini, hal ini menandakan kami selaku pengurus Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat akan terus berbenah untuk dapat membantu memajukan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar Pondok,” ujar pria yang akrab disapa Pak Win ini kepada Bisnis, Minggu (18/4/2021). Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat yang berada di ketinggian 800 mdpl. Dengan alamnya yang asri dan natural, konsep bangunan pondok yang didesain sedemikian rupa juga menjadi nilai tambah bagi para santri yang bermukim di pondok. Sejak berdiri tahun 2018, Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat menjadi primadona bagi mereka calon santri yang kebanyakan datang dari luar kota untuk dapat merasakan suasana desa yang eksotis dan agamis. “Santri kami banyak datang dari luar kota, dan konsep yang kami miliki adalah kembali ke alam, dengan maksud agar para santri lanjut usia dapat fokus mendalami agama sebagai bekal menuju akhirat ditemani suasana pedesaan yang asri dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota,” imbuhnya. Saat Ramadan ini, usai sahur dan salat subuh, para wisatawan diajak menikmati keindahan fajar. Tak hanya iman dan takwa, raga pun harus diolah di tengah persawahan, Lereng Pegunungan Gajah Mungkur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sambil berjemur sinar mentari, wisatawan juga ikut terapi agar raga tetap bugar. Pak Win menceritakan seperti inilah aktivitas mereka setiap pagi saat berwisata religi, yakni mendekat ke alam dan mensyukuri nikmat Sang Ilahi. “Yang dirasakan senang, terus bisa segar begitu tubuhnya, terus melihat pemandangannya itu kok bagaimana begitu lho, bisa itu, dalam hati saya itu kok, nggak bisa mengungkapkan,” tutur Sri (80 tahun), wisatawan asal Surabaya yang berniat menjadi santri sampai akhir hayat nanti Tak hanya itu, para wisatawan religi ini juga menyibukkan diri mengolah alam dengan bercocok tanam. Dari kebun tanaman obat tradisional, akan dikonsumsi para tamu yang datang, dan dibawa untuk oleh-oleh saat pulang. Makanan yang tersedia selalu istimewa karena merupakan hasil jerih payah mereka saat mengikuti program wisata religi di pesantren ini. Minuman jahe, kunyit, dan aneka ramuan jamu tradisional siap menghilangkan dahaga. Meski wisatawan dewasa dan lansia ini sudah tak lagi muda, semangat mereka masih terus menggelora. Kedekatan dengan Tuhan dan alam ciptaan-Nya mengisi sisa waktu mereka yang berharga. Penulis : HafiyyanEditor : Hafiyyan Sumber : lifestyle.bisnis.com
Pondok Pesantren Raden Rahmat Usung Konsep Lingkungan
SEMARANG — Pondok Pesantren Raden Rahmat Semarang ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten Semarang. Pesantren ini dinilai telah mampu mendorong pengembangan kepariwisataan, dan juga membuka peluang usaha bagi para petani dan UKM khususnya di Desa Gedong, Kabupaten Semarang. Selain destinasi religi pesantren yang khusus membimbing santri dewasa dan lansia ini menyajikan kegiatan cara membuat ekstrak jahe dan kopi bagi para wisatawan. Hasil olahan para santri lansia itu pun menjadi oleh-oleh para wisatawan yang berkunjung. Kepala Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, M. Solikin mengatakan Surat Ketetapan Bupati Semarang tentang Desa Wisata ini menjadi nilai tersendiri bagi Desa Gedong. Khususnya Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat yang berada di dalamnya. Sehingga dapat lebih optimal menggerakkan masyarakat sekitar lingkungan pondok untuk senantiasa menjaga kelestarian alam, ikut memajukan perekonomian warga sekitar. Warga mendapatkan pemasukan selain dari bertani dan bercocok tanam. “Kami menyambut baik, penetapan Desa Wisata di Desa Gedong ini, hal ini menandakan kami selaku pengurus Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat akan terus berbenah untuk dapat membantu memajukan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan warga sekitar Pondok,” kata Solikin dalam rilis yang diterima Republika pada Kamis (15/4). Pondok Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat mengusung konsep lingkungan agar pesantren lebih alami dan natural. Sehingga membuat nyaman para santri lansia dari berbagai daerah yang ingin menimba ilmu di pesantren ini. “Santri kami banyak datang dari luar kota, dan konsep yang kami miliki adalah kembali ke alam, dengan maksud agar para santri lanjut usia dapat fokus mendalami agama sebagai bekal menuju akhirat ditemani suasana pedesaan yang asri dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota,” katanya. Sumber : Republika Online
Mengintip Aktivitas Ponpes Lansia Banyubiru Semarang kala Ramadan
Aktivitas sejumlah pondok pesantren (Ponpes) di Kabupaten Semarang meningkat saat Ramadan, seperti sekarang ini. Tak terkecuali, di Ponpes Lansia Kasepuhan Raden Rahmat di Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Seperti namanya, mayoritas santri di ponpes ini adalah warga dewasa dan lanjut usia (lansia). Tak hanya mengkaji kitab dan tadarus, sejumlah kegiatan untuk meningkatkan pemberdayaan santri pun digelar. Kepala Ponpes Lansia Kasepuhan Raden Rahmat M Solikin mengatakan, selama Ramadan, santri dewasa dan lansia lebih banyak dibekali beragam pelatihan. “Misalnya, cara membuat ekstrak jahe hingga pengolahan kopi tradisional. Kemudian, hasil olahan santri biasanya dijadikan buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung. Karena Ponpes Lansia ini ditetapkan sebagai destinasi wisata religi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang,” terangnya kepada Tribunbanyumas.com, Rabu (14/4/2021). Menurut Solikin, lokasi berdirinya ponpes, yakni Desa Gedong, bersama 54 desa lain, ditetapkan sebagai desa wisata di Kabupaten Semarang. Sehingga, lanjutnya, sebagai mitra pemerintah, mereka memiliki kewajiban mendorong pengembangan pariwisata dan juga membuka peluang usaha bagi para petani dan UMKM di Desa Gedong. Ia menambahkan, ponpes Lansia didirikan pada 2018 dan berada di ketinggian 800 Mdpl. Kondisi alam yang asri dengan konsep bangunan pondok tradisional, dinilai menjadi nilai tambah agar para santri menetap. “Total santri Lansia ada sekira 150 orang. Sebanyak 105 orang santri merupakan warga setempat. Sisanya, yaknin 20 orang santri dari luar kota, menetap di asrama. Selain mengaji dan mengikuti pelatihan, di sini juga ada layanan berkunjung ke rumah warga lansia,” jelasnya. Selama Ramadan, imbuh Solikin, seusai sahur dan salat subuh, para santri pendatang diajak berwisata menikmati keindahan matahari terbit di lereng Gunung Gajahmungkur, Kabupaten Semarang. Pendiri Ponpes Lansia Kasepuhan Raden Rahmat Winarno menyatakan, belum lama ini, pihaknya telah menginisiasi materi daur ulang sampah sebagai kurikulum sekolah lansia bagi santri lansia. Program ini merupakan kelanjutan dari komitmen kegiatan bareng melibatkan empat komunitas, yakni Komunitas Sahabat Babinsa, Komunitas Sego Jumat Ambarawa, Komunitas Sayur Barokah Ngablak, dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Banyubiru. “Dengan adanya budaya mendaur ulang sampah, diharapkan masyarakat luas akan semakin peduli dalam menjaga lingkungan. Terlebih, kegiatan ini bisa dilakukan lintas usia dan generasi. Khusus Lansia, materi daur ulang sampah diharapkan dapat membantu para lansia menambah aktivitas kesehariannya,” ujarnya. Winarno menjelaskan, selain kegiatan religi, apabila ada wisatawan berkunjung, diajak berbagi dengan sesama melalui program aksi donasi sembako, sayur, hingga donasi pakaian layak pakai. Kegiatan lain, berupa konservasi alam dengan membuat sumur resapan dan menanam pohon. Bibit pohon produktif yang ditanam diprioritaskan jenis buah, seperti mangga, durian, belimbing, sirsak, pisang, jeruk, dan bibit pohon pepaya produktif. (*) Sumber: Tribunbanyumas.com (tribunnews.com)
Ponpes Lansia Raden Rahmat Jadi Destinasi Wisata Religi
Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) Lansia Kasepuhan Raden Rahmat Banyubiru, Kabupaten Semarang menjadi salah satu bagian dari penggerak di Desa Gedong untuk menuju Desa Wisata. Dengan destinasi utama yakni wisata religi, melalui Surat Keputusan Bupati Semarang Nomor : 556/0389/2020 tertanggal 25 September 2020, desa wisata unggulan ini ditetapkan bersama 54 desa lainnya yang tersebar di Kabupaten Semarang. “Kami sebagai mitra pemerintah senantiasa mendorong pengembangan pariwisata, dan juga membuka peluang usaha bagi para petani dan UMKM di Desa Gedong,” kata Kepala Ponpes Lansia Kasepuhan Raden Rahmat, M Solikin, Rabu, 14 April 2021. Tidak hanya destinasi wisata religi pesanten yang khusus menangani santri dewasa dan lansia, di lokasi ponpes juga rutin digelar pelatihan cara membuat ekstrak jahe hingga pengolahan kopi tradisional yang bisa diikuti oleh wisatawan. Hasil olahan mereka, bisa dibawa pulang sebagai buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. “Dengan adanya Keputusan Bupati tadi, kami menyambut baik. Ini menandakan kami selaku pengurus Ponpes Lansia Kasepuhan Raden Rahmat akan terus berbenah untuk dapat membantu memajukan perekonomian serta meningkatkan kesejahteraan warga sekitar pesantren,” jelasnya. Untuk diketahui, pesantren yang didirikan pada 2018 ini berada di ketinggian 800 Mdpl. Alamnya asri dan alami, kondisi itu dibalut dengan konsep bangunan pondok yang didesain sedemikian rupa sehingga menjadi nilai tambah bagi para santri dan calon santri yang hendak menetap di sana. Hingga kemarin, di asrama pesantren tersebut ada 20 orang santri dari luar kota. Kemudian ada 105 orang santri yang juga warga setempat, mereka sifatnya tidak menetap di asrama karena rumahnya dekat dengan pesantren. Sedangkan binaan santri <I>home care<P> jumlahnya mencapai 150 orang santri. “Salah satu layanannya adalah berkunjung ke rumah warga lansia. Kemudian bersama-sama mendoakan mereka, memeriksa kesehatannya, dan memberikan makanan tambahan agar para lansia tetap sehat di masa pandemi Covid-19,” ungkap M Solikin. Memasuki Bulan Ramadan 2021, usai sahur dan salat subuh para wisatawan yang datang bakal diajak menikmati keindahan matahari terbit di sekitar asrama. Lokasinya berada di tengah persawahan, lereng Gunung Gajahmungkur, Kabupaten, Semarang, Jawa Tengah. Di sanalah para santri dan pengasuh bersemangat menggerakkan otot tubuh agar badan senantiasa sehat. “Kadang saya sampai menangis, karena diberi kesempatan untuk mengucapkan terima kasih atas apa yang ada di alam semesta. Sehingga kami bisa mensyukuri nikmat yang diberikan pada kami,” ujar salah satu wisatawan asal Jakarta, Arfan asal jakarta, yang berencana ingin melanjutkan menjadi santri di ponpes ini. Selaku pendiri Ponpes Lansia Kasepuhan Raden Rahmat, Winarno menambahkan, belum lama ini pihaknya telah menginisiasi materi daur ulang sampah bagi santri lansia ke dalam kurikulum Sekolah Lansia. Program ini merupakan kelanjutan dari komitmen kegiatan bareng melibatkan empat komunitas. Yakni Komunitas Sahabat Babinsa, Komunitas Sego Jumat Ambarawa, Komunitas Sayur Barokah Ngablak, dan Pesantren Lansia Raden Rahmat Banyubiru. Dengan adanya budaya mendaur ulang sampah, pihaknya optimistis masyarakat luas akan semakin peduli dalam menjaga lingkungan. Terlebih kegiatan ini bisa dilakukan lintas usia dan generasi. “Materi daur ulang sampah yang masuk dalam kurikulum ini diharapkan dapat membantu para lansia untuk menambah aktifitas kesehariannya,” imbuhnya. Di samping kegiatan religi, di Desa Percontohan Ramah Lansia ini wisatawan yang datang juga diajak berbagi dengan sesama melalui program aksi donasi sembako, sayur, hingga donasi pakaian layak pakai. Guna mendukung gerakan ini, di area asrama sudah disediakan fasilitas khusus. “Kegiatan lainnya, lebih pada konservasi alam dengan membuat sumur resapan dan menanam pohon. Bibit pohon produktif yang ditanam diprioritaskan jenis buah, seperti mangga, durian, belimbing, sirsak, pisang, jeruk, dan bibit pohon pepaya produktif,” tutur Winarno. Sumber : Suara Merdeka
Langka, Pesantren Ini Santrinya para Lansia
Seorang wanita lanjut usia (lansia) tampak terbata-bata mengeja deretan huruf Hijaiyah di papan tulis. Sesekali ia mengalihkan fokus pandangannya ke mulut Ustadz Winarno, memastikan agar bacaannya tidak salah. Itulah pemandangan sehari-hari di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang (Jateng). Arti kasepuhan kurang lebih sama dengan lansia. Kegiatan itu dimulai selepas shalat Shubuh. Para santri tampak tekun mengaji. Ada yang memulai dari alif-ba-ta, namun ada pula yang sudah lumayan lancar. Pesantren ini memiliki santri lansia mukim 35 orang, non-mukim 60 orang, dan yang tinggal di rumah-rumah ada 160 orang. “Sebagiannya warga Gedong. Tetapi lebih banyak yang berasal dari luar kota, bahkan luar pulau seperti Jambi, Solok, Samarinda, Balikpapan, dan Sulawesi. Usia mereka rata-rata di atas 60 tahun,” terang Winarno, pendiri pesantren lansia. Bagi santri yang tinggal di rumah masing-masing, pihak pesantren melakukan kunjungan rutin. Dilakukanlah pembinaan spiritual, pemeriksaan kesehatan, dan penyaluran bantuan biaya hidup. Bagi santri yang tinggal di rumah masing-masing, pihak pesantren melakukan kunjungan rutin. Dilakukanlah pembinaan spiritual, pemeriksaan kesehatan, dan penyaluran bantuan biaya hidup. “Harus diakui, selama ini kita mengabaikan pendidikan agama bagi kaum lansia. Anak-anak muda di kampung setidaknya masih bisa mengakses pengajian UAS, Aa’ Gym, dan lain-lain dari Youtube. Tapi bagaimana lansia? Siapa yang peduli terhadap kehidupan spiritual mereka?” ujarnya. Pak Win lantas tercenung dengan Surat al-Ahqaaf ayat 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya ialah tiga puluh bulan, sehingga bila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku…” Sebelumnya, Pak Win berkarir di Jakarta, merantau sejak usia SMP. Lantas karir itu ditinggalkannya. “Saya putuskan untuk meninggalkan seluruh kemewahan hidup di Jakarta, lalu full tinggal di kampung sembari menemani ibu yang sudah uzur,” ucapnya. Tentu saja banyak tantangan yang harus dihadapi atas pilihan ekstrem ini. Tapi, Pak Win yakin, Allah akan memberikan jalan dan mengganti semua kenikmatan yang ditinggalkan, dengan ganti yang lebih baik. Apalagi memang kampung halamannya amat membutuhkan sentuhan dakwah. Pemeluk agama Islam hanya kisaran 50%, sisanya non-Muslim dan penganut aliran kepercayaan. Pak Win sendiri mengaku baru memeluk Islam ketika usia 15 tahun. Sebelum itu ia pernah dididik sebagai pengkabar Injil. Itulah sebabnya dirinya cukup faham tentang strategi kristenisasi. Dia kemudian memilih metode dakwah yang soft (lembut). Namanya kental nuansa Jawa, memakai kata kasepuhan. Sementara nama yayasannya adalah Pitutur Luhur. Kegiatan pesantrennya disebut Olah Rogo, Olah Jiwo, Olah Roso. Harapannya, nama itu bisa lebih mudah diterima masyarakat setempat yang memang teguh menggenggam falsafah leluhur Jawa. Olah rogo adalah kegiatan menjaga fisik agar tetap sehat. Setiap pagi, para lansia dibimbing untuk berolah raga ringan di ruang terbuka. Juga pemeriksaan kesehatan secara rutin dari puskesmas setempat. Olah jiwo adalah kegiatan ruhani, misalnya mengaji, shalat, serta mempelajari dan membiasakan kembali dasar-dasar ibadah keislaman. Olah Roso adalah kegiatan mengasah kepekaan sosial kemasyarakatan. Berbagai Kendala Awalnya, Pak Win memanfaatkan tanah pekarangan milik ibunya yang juga mualaf. Seluruh biaya pembangunan berasal dari kantong pribadi. “Saya gadaikan mobil dan utang kepada mitra bisnis. Namun alhamdulillah sebagiannya sudah terbayar. Ndak masalah. Inilah perjuangan” katanya dengan mimik santai. Banyak yang mencibirnya, “Lansia kok disuruh belajar agama, mana mau?” Pernah pula ada sekelompok warga non-Muslim yang menghalangi niat mulianya. Akses jalan ke pesantren ditutup. Namun Alhamdulillah, dengan pendekatan persuasif, rintangan-rintangan tersebut dapat dilalui. Kini kendala yang sangat terasa adalah soal dana. Pesantren sedang berikhtiar membangun masjid al-Karimiah di atas tanah wakaf seluas 2000 meter persegi. Rencananya di sini akan dibangun semacam kompleks pemukiman buat lansia. Proses pembangunan masjid baru mencapai 30%. “Alhamdulillah, meskipun tersendat-sendat, kami sudah bisa melakukan pengecoran atap lantai satu. Insya Allah dalam waktu tak berapa lama lagi, lantai satu sudah bisa digunakan untuk shalat.” Berbagai upaya penggalangan dana dilakukan. Pak Win terus mengajak para dermawan untuk menyisihkan sebagian harta dalam rangka menyelesaikan pembangunan masjid. Pak Win bercita-cita agar Desa Gedong kelak menjadi pusat pembinaan lansia. Terbukti banyak lansia yang ingin mendalami agama, karena selama hidupnya terkesan abai dan sibuk mengejar dunia. “Ada beberapa santri yang dulunya pengusaha sukses. Menjelang usia lanjut, mereka merasakan kekosongan batin dan kegersangan spiritual. Ada beberapa yang berencana membangun rumah di sini, menyambut husnul khatimah di kampung ini,” terang Pak Win. Berkat komunikasi yang baik, berbagai komunitas kini mendukung aktivitas Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Misalnya dari Sahabat Babinsa, komunitas yang beranggotakan pemuda-pemuda desa binaan Badan Pembina Desa. Ada lagi komunitas Sayur Barokah, yang terdiri atas para petani sayur di daerah tempat wisata Kopeng, Salatiga. Juga komunitas Sego Jumat yang biasa berbagi konsumsi di masjid-masjid seusai shalat Jumat. “Kami sering bertemu, saling berbagi, saling menguatkan. Meskipun hanya komunitas kecil, jika saling berjalin dalam tali ukhuwah, insya’Allah ikatannya akan kuat,” kata Anita, pendiri komunitas Sego Jumat. *MD Aminuddin/Hidayatullah.com Sumber: Hidayatullah.com
Mantan Biduan Menjemput Hidayah di Pesantren
Seorang nenek berusia 80 tahun, mantan biduan, diantar serombongan pengurus Dusun Kauman Desa Banyubiru datang ke Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada 24 Agustus 2019 lalu. Nenek bernama Tukiyem itu harus dipapah karena kesulitan menaiki gang kecil yang menghubungkan pesantren dengan jalan desa. Sang nenek berjalan setengah membungkuk karena tulang-tulangnya yang sudah rapuh dimakan usia. Pandangannya pun sudah memudar, meski mengenakan kaca mata tebal yang nyaris menempel di kelopak matanya. Nenek Tukiyem harus mendekatkan pandangannya ke subjek yang ingin dilihatnya. Kecantikan Nenek Tukiyem masih terlihat meski diliputi kulit keriput. Jika diamati lebih dalam, wajahnya mirip biduan India yang pernah berduet dengan Rhoma Irama, Latta Mengeskhar. Suara Nenek Tukiyem pun masih terdengar merdu untuk ukuran wanita berusia menjelang kepala delapan. Nenek Tukiyem ternyata memiliki nama panggung Thalita Maharani yang ia cantumkan dalam KTP seumur hidup. Ia adalah mantan biduan era 70-an yang sudah kenyang dengan panggung dan tepuk tangan. Meski mengenalkan diri sebagai Thalita, di KTP seumur hidup tertera nama pemberian orang tuanya adalah Tukiyem, asli kelahiran Semarang. Pengurus Dusun Kauman, dipimpin Pak Kadus dan Ibu Kadus lengkap dengan ketua rukun tetangga mengantarkan Nenek Tukiyem yang hidup sebatang kara setelah ditelantarkan keluarganya. Sebelum pulang, Pak Kadus dan Ibu Kadus, Pak RT dan istrinya menceritakan riwayat perempuan itu kepada Winarno, santri pertama Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Mereka lalu menyerahkan Nenek Tukiyem diterima sebagai santriwati di pesantren yang dikhususkan untuk dewasa dan para lansia tersebut. Nenek Tukiyem melengkapi santri non mukim sekaligus menemani Ibu Sudarti, orangtua Winarno. Singkat cerita, Nenek Tukiyem diusir oleh anak tirinya setelah sang suami meninggal. Ia dibawa ke panti jompo, namun memutuskan pulang dengan berjalan kaki. Sampai di rumah ia dibiarkan begitu saja tanpa makan dan minum hingga Nenek Tukiyem meminta bantuan Pak RT dan Ibu RT yang baik hati mengantarkannya ke Pesantren Kasepuhan. Sumber: Republika Online